SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 118 : Tolong Hormati Aku, Aku Suamimu


__ADS_3

Pov Ringgo 3


Aku menghenyakkan pantat di kursi meja kerjaku. Betapa letihnya hati beserta tubuhku, aku benar-benar merasa bagai dihimpit berton-ton beban sehingga pikiran serta jiwaku seakan tidak kuat lagi menanggungnya.


Kriyuuuuk! Kriyuuuuk!


Perutku berontak minta diisi, aku memang belum makan dari semalam sedang sarapan yang tadi pagi kubeli masih tergeletak di atas meja, belum aku sentuh sedikitpun.


Perlahan, aku mengambil bungkusan yang isinya nasi goreng kemudian membukanya. Aku meraba sejenak ternyata nasi goreng itu sudah dingin, hatiku semakin menjerit pilu.


Aku tidak pernah menyangka akan mengalami akhir yang menyedihkan seperti ini, sekarang hidupku sudah tiada harganya lagi. Tiada terasa air mataku luruh membasahi pipi untuk kedua kalinya di hari yang sama.


"ya allah, astagfirullah alazim." Kalimat itu meluncur dari bibirku, aku benar-benar rapuh saat ini.


Aku butuh seseorang untuk menguatkanku, tapi tidak memilikinya. Andaikan, aku masih bersama Rianti tentunya semua ini tidak akan menimpaku. Sedangkan, Ratu tidak peduli sedikitpun padaku sehingga aku terpaksa memikul beban berat ini sendiri.


Aku menghapus airmata dengan tangan kerena tidak memiliki sapu tangan ataupun tisu untuk menghapusnya. Setelah merasa lebih baik, aku menyendok dan memasukkan nasi goreng itu ke mulut walaupun sebenarnya tidak punya selera makan sama sekali.


Aku merasa sulit untuk menelan makanan yang ada di mulutku, nasi goreng yang biasanya menjadi makanan favoritku tiba-tiba terasa tidak enak di lidahku. Alhasil, aku hanya sanggup menghabiskan separohnya saja itupun dengan dipaksakan.


Mulai sekarang, aku harus berusaha untuk menjaga kesehatanku. Aku yakin sekali Ratu tidak akan mau merawatku jika sakit nanti.


Mengingat hal itu, aku semakin merasa gamang dan sangsi akan masa tuaku.


Lamat-lamat, aku mendengat suara dua perempuan sedang bercakap. Aku kenal suara itu milik Rianti dan mamanya.


Aku segera membersihkan meja dan membuang bekas makananku. Tak lama kemudian, aku melihat Rianti dan mamanya memasuki ruangan.


Aku memandang sejenak ke arah mereka, kemudian kembali menunduk memandangi meja.


Aku merasa tidak punya keberanian untuk bertemu pandang dengan mereka, sungguh aku malu dengan perbuatan yang telah kulakukan. Aku benar-benar menyesal sekarang, hidupku hancur kerena mengikuti nafsu sesat yang selama ini menguasai hati dan pikiranku.


"pak Ringgo." Aku mendengar bu Rahayu memanggil, sejenak aku memandang ke arah beliau.

__ADS_1


"ya, bu Rahayu." Aku menjawab dengan suara pelan, entah kenapa hatiku mendadak ciut ketika melihat tatapan beliau yang terlihat dingin kepadaku.


"saya mau tanya sama pak Ringgo, sejak kapan anda memanipulasi laporan keuangan? Saya harap, anda menjawabnya dengan jujur karena ini penting untuk mengetahui sejauh mana kerugian yang diakibatkan oleh perbuatan anda.


"sejak dua tiga bulan yang lalu bu Rahayu, saya sangat menyesal. Saya minta maaf atas segala kekhilafan yang telah saya lakukan." Aku menunduk semakin dalam, tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana pada bu Rahayu.


"Saya harap anda memperbaiki kembali laporan keuangan yang telah anda buat, kali ini saya minta anda membuat laporan sesuai dengan data yang ada. Saya harap anda membuat laporan serinci dan sedetail mungkin" Bu Rahayu meminta supaya memperbaiki semua laporan keuangan, aku makin tertekan jadinya.


"baiklah bu, saya akan langsung mengerjakannya."


"saya beri waktu satu minggu, anda harus menyelesaikan semua laporan keuangan itu minggu depan."


"baiklah bu." Aku segera melaksanakan perintah dari bu Rahayu, terus terang ini bukanlah tugas yang mudah dalam waktu yang sesingkat itu.


Aku terpaksa menuruti perintah beliau karena tidak mungkin minta perpanjangan waktu. Sekarang, aku menanggung semua akibat dari perbuatanku.


Aku mulai mengumpulkan semua data transaksi yang selama ini aku sembunyikan. kemudian membuat jurnal demi jurnal yang begitu banyak dan melelahkan.


'aku harus menyelesaikan semua jurnal ini pada hari ini juga kalau tidak maka laporan keuangan itu tidak akan selesai tepat pada waktunya.' aku berkata dalam hati, seraya berusaha fokus pada pekerjaanku.


"mas kita pulang yuk." Ratu mengajakku pulang, dia memanggilku hanya berdiri di pintu ruangan.


"kamu pulang duluan saja, mas akan lembur malam ini."


"mas anterin aku pulang dulu, setelah itu mas balik lagi ke sini."


"kamu pulang naik taksi aja dek, mas benar-benar sibuk." aku memberi alasan pada Ratu, ku berharap dia mau menuruti kata-kataku kali ini.


"aku tidak punya untuk ongkos pulang mas." Ratu menjawab dengan entengnya, membuat aku semakin muak padanya.


Aku herannya sekali padanya, dia bekerja dan punya penghasilan sendiri tapi uangnya entah kemana. Semua kebutuhan memakai uang penghasilanku, sekarang dia minta ongkos pulang padaku.


"kamu itu bekerja dan punya penghasilan sendiri, masa untuk ongkos pulang ke rumah saja kamu tidak punya. Kamu jangan bohong pada mas, dek." Aku berusaha bersikap sabar menghadapinya, walau dalam hati aku mulai muak padanya.

__ADS_1


"uangku sudah habis untuk beli kebutuhanku dan perawatan ke salon kemaren mas."


"pasti masih ada sisa buat ongkos pulang, kamu pakai uang kamu dulu ya."


"tidak bisa mas, kamu jangan jadi suami yang tidak bertanggungjawab begitu. Aku menikah denganmu supaya hidupku enak bukan untuk hidup susah mas." Ratu meninggikan suaranya padaku, seketika emosiku membuncah.


"hormati aku sedikit bisa tidak, aku ini suami kamu." aku mencoba menahan emosi yang mulai tidak terkendali.


"Kamu ingin aku menghormati kamu, makanya jadilah suami yang bertanggung jawab. Kamu jangan cuma bisa ngomong doang." ucapan Ratu semakin tajam melukai hatiku.


Plak


Aku menampar Ratu, tak sanggup lagi aku membendung emosi yang membuncah dalam hati. Ratu memegangi pipinya bekas tamparanku barusan, mungkin dia tidak percaya aku melakukan itu padanya.


"mas, kamu.....


Ratu berkata tanpa meneruskan kata-katanya, aku kemudian menyeretnya masuk keruangan kerjaku. Setelah itu, aku menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


"mas, kamu mau melakukan apa?" Ratu bertanya seraya menjauh dariku.


"aku akan memberikan pelajaran padamu, bagaimana caranya menghormati suami."


"jangan mas, aku mohon." Ratu memohon padaku tapi aku sudah terlanjur dikuasai emosi.


Plak! Plak! Plak!


Aku menampar kedua pipinya sebanyak tiga kali, ternyata tamparanku pada pipinya cukup keras sehingga terlihat ada darah menetes dari sudut bibirnya.


"ampun, tolong hentikan." Ratu memohon seraya meringis menahan sakit.


"baiklah, kali ini aku akan memaafkanmu. Kalau, kamu ulangi sekali lagi bersikap seperti itu padaku maka jangan harap kamu akan selamat."


Aku mengemasi semua barang dan berkas pekerjaanku, kemudian memasukkan ke dalam tas. Aku batal lembur malam ini dan memutuskan melanjutkannya dirumah. Aku meninggalkan Ratu yang masih meringis menahan sakit.

__ADS_1


"


__ADS_2