
"ayo kita berangkat ma." Mas Roland mengajak mama berangkat ke kantor, mas Roland berkata ketika kami sudah selesai sarapan. Aku menoleh ke jam yang melingkar indah di tanganku, ternyata sudah pukul delapan pagi.
Kami sedikit terlambat pergi ke kantor hari ini, karena tidak begitu banyak pekerjaan yang akan kami lakukan. Mama mengatakan akan menunggu mas Ringgo menyeselesaikan laporan keuangan, baru kita bisa merencanakan langkah selanjutnya.
Sedangkan, mas Roland hanya ada jadwal meeting pada jam sepuluh nanti. Kami tidak terlalu sibuk hari ini, jadi bisa sedikit santai datang ke kantor.
"bagaimana rasanya bekerja di kantor dik? Apakah kamu menyukai dan telah belajar dengan baik?" mas Roland bertanya, aku pun menoleh ke arahnya.
Aku senang mas, kurasa tidak terlalu sulit untukku untuk mempelajarinya."
"syukurlah kalau begitu, mas senang mendengarnya."
"oh ya mas, apa mas Sudah tahu kalau ada kesalahan dalam laporan yang dibuat mas Ringgo?"
"mas sudah mengetahuinya sejak dua bulan yang lalu dik, kamu gak usah khawatir karena semuanya sudah mas kendalikan." Aku terkejut mendengar perkataan mas Roland, tapi dia terlihat santai saja menyikapinya.
"kenapa mas tidak mengambil tindakan terhadap mas Ringgo? Bukankah dia sudah berbuat tindak kejahatan dengan menggelapkan uang perusahaan." kataku heran.
"awalnya, mas berniat memecat dan mempolisikannya tapi tidak jadi, Karena mas mengetahui Ringgo selingkuh padahal dia telah beristri. Mas mendapat laporan dari staf yang lain. mulanya, mas tidak percaya tapi setelah di selidiki ternyata laporan itu benar adanya."
"oh begitu, tapi apa mas tahu dia melakukan penggelapan uang perusahaan bersama dengan orang lain?"
"mas Tahu, ternyata orang yang melaporkan Ringgo itu adalah orang yang diajaknya bekerjasama mencuri uang perusahaan." Aku menganga mendengarkan penjelasan Ringgo.
Aku diam sejenak mencoba memahami penjelasan yang mas Ringgo berikan kepadaku. Aku juga heran kenapa orang itu melaporkan mas Ringgo pada pihak perusahaan.
"kamu merasa heran bukan? Jadi, orang itu sepertinya berusaha menyingkirka Ringgo. Dia melakukan itu dengan tujuan akan melemparkan kesalahan pada Ringgo andai perusahaan mengetahui kecurangan yang mereka lakukan."
"ternyata, dunia bianis itu kejam ya mas. orang akan menghalalkan segala macam cara."
"iya dik, makanya kamu harus berhati-hati karena semua bisa saja terjadi. Orang akan melakukan apapun agar tujuannya tercapai. Satu hal lagi, kamu jangan terlalu percaya sama orang lain karena di dunia bisnis itu kejujuran adalah hal yang paling langka."
__ADS_1
"aku mengerti mas." aku menanggukkan kepala, merasa kata mas Roland itu memang benar adanya. Buktinya, mas Ringgo tega menghianatiku setelah pengorbanan demi pengorbanan aku lakukan untuknya.
"jadi, apa tindakan mas Roland selanjutnya pada mas Ringgo?"
"kamu lihat saja nanti, semua sudah dalam perhitungan mas." Mas Roland berkata seraya mengulum senyum penuh arti, entah apa yang sedang di rencanakannya saat ini.
"bagaimana kalau aku kuliah mas? Aku ingin belajar tentang bisnis lebih dalam lagi." aku mengalihkan pembicaraan.
"apa kamu serius dik? Kamu ingin kuliah, apakah kamu akan belajar sungguh-sungguh? Mas Roland berkata, mungkin dia tidak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan.
"serius mas, aku ingin seperti mama dan ibu. Mereka wanita tangguh dan hebat, dunia bisnis saja mengakui kemampuan mereka. Makanya, aku ingin kuliah supaya bisa seperti mereka mas." aku berkata panjang lebar, mengungkapkan keinginanku pada mas Roland.
Mas Roland terlihat mengangguk kecil, dia seperti memikirkan sesuatu. Aku terus menoleh ke arahnya, menunggu jawaban.
"baiklah, mas akan mendaftarkan kamu kuliah besok."
"ya mas, aku maunya kuliahnya sore atau malam hari mas."
"baiklah dik."
"ma, kita hari ini akan melakukan apa?"
"mama akan memberitahu kamu tentang seluk beluk perusahaan kita. Kamu harus tahu cara menjalankan bisnis yang perusahaan yang kita geluti."
"baiklah ma." aku menrut apa yang dikatakan mama, memang sudah saatnya aku terjun langsung dan mengetahui tentang bisnis.
Aku bertekad akan menjadi wanita pebisnis yang diakui, sudah saatnya bagiku menunjukkan kemampuanku. Aku yakin sekali aku pasti bisa, karena aku dikelilingi oleh orang hebat semua. Darah pengusaha mengalir dalam tubuhku.
Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu lagi, aku akan mengejarsemua mimpi dan cita-citaku. Aku masih muda dan tidak ada alasan bagiku untuk pasrah pada takdir, karena takdir itu bisa berubah kalau kita rajin berdoa dan tiada berhenti berusaha.
"sepertinya, mas Ringgo belum hadir ma. Aku tidak melihat tanda-tanda kedatangannya di sini."
__ADS_1
" biarlah Rianti, mama sudah memberi batas waktu padanya. Jadi, dia harus menyelesaikan laporan keuangan itu minggu depan, bagaimanapun caranya."
"Iya, baiklah kalau begitu. Sekarang apa yang harus kulakukan ma."
"sekarang, Rianti ikut mama yuk."
"kemana ma?"
"mama akan mengajak Rianti, kelliling kantor dan perusahaan kita supaya kamu tahu bagaimana dan seperti apa perusahaan kita."
"baiklah ma." Aku dan mama keluar ruangan tapi sebelum sempat keluar kami berpapasan dengan mas Ringgo di pintu, nafasnya sedikit tersengal.
"maaf bu, saya sedikit terlambat." mas Ringgo berdiri seraya sedikit membungkuk badannya ketika berbicara dengan mama.
"tidak apa-apa pak Ringgo, kami juga baru datang. Saya hari ini tidak akan di ruangan karena akan mengajak Rianti untuk keliling perusahaan. Saya berharap anda bekerja dengan disiplin dan benar walaupun saya tidak di sini untuk mengawasi."
"baiklah bu, saya akan bekerja sebaik mungkin. Saya berjanji tidak akan mengecewakan ibu lagi."
"saya harap anda menepati kata-kata yang anda ucapkan. Kalau begitu kami pergi dulu." Mama berkata, ternyata beliau tidak memarahi mas Ringgo.
Aku memandangi mas Ringgo, tanpa mau menyapanya. Aku memperhatikan penampilannya, sekarang jauh lebih berantakan lagi dari kemaren. Wajahnya tidak kalah kusut, aku hanya bisa diam memandanginya.
Sekilas, aku melihat mas Ringgo juga melihat ke arahku. Aku melihat matanya merah sedangkan di sekitar matanya telihat kantong mata yang menghitam pertanda dia kurang tidur.
Aku cepat mengalihkan pandangan, tidak ingin terlalu lama beradu pandang dengannya. Mas Ringgo bukanlah suamiku lagi, untuk apa aku merasa kasihan kepadanya.
"Rianti, ayo kita berangkat sekarang." mama mengajakku pergi, beliau mungkin mengerti kecanggungan yang kurasakan saat ini.
"iya ma." Aku mengikuti mama, beliau telah lebih dahulu melangkah keluar ruangan.
Aku melewati mas Ringgo yang masih diam seraya memandangi kepergianku bersama mama. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi aku tidak boleh memberikan kesempatan padanya untuk bicara. Aku harus bisa bersikap tegas padanya dan pada diriku sendiri.
__ADS_1
Mama membawaku keliling perusahaan dan menjelaskan semuanya sedetil mungkin. Aku memperhatikan dengan seksama penjelasan yang beliau berikan.
Aku sekarang tahu ternyata, papa dan mama yang mendirikan persahaan itu. Mama benar-benar wanita hebat, beliau membuatku bangga sebagai anaknya.