
'kenapa mas Roland terlihat buru-buru sekali?" aku bertanya sendiri, heran melihat kepergian mas Roland yang terkesan buru-buru .
Aku segera masuk, membawa semua belanjaan yang baru saja kami beli. Aku merasa sangat senang sekali hari ini, akhirnya kesampaian juga niatku membeli pakaian bagus dan mahal.
selama ini jangankan membeli barang bagus dan mahal, aku jarang sekali membeli baju sehingga tidak memiliki baju yang layak dikenakan untuk keluar rumah. Aku kembali membongkar tas belanjaan, belum puas rasanya melihat baju yang baru dibeli.
'ternyata harga itu memang mencerminkan kualitas.' Aku bergumam sendiri, puas dengan pilihanku. Aku kemudian menggantungkan kedua baju tersebut di dalam lemari.
Aku kemudian menoleh ke tas belanjaan mas Roland, ingin rasanya melihat isinya. Semula, aku ragu membukanya tapi karena terdorong rasa penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk melihatnya.
"astaga, bukankah ini baju yang tadi ingin aku beli? Tapi karena harganya sangat mahal, aku tidak jadi membelinya. Kenapa mas Roland justru membelinya?"
Aku kemudian menghubungi mas Roland, tapi mas Roland tidak menjawab panggilanku, walau panggilanku tersambung dengannya. Aku kembali hendak memasukkan baju-baju tersebut ke dalam tas belanjaan.
Tapi sebelum memasukkan, aku melihat ada secarik kertas di dalam tas belanjaan mas Roland, aku kemudian membacanya.
"tolong terima pemberian mas ,dik. Mas ingin kamu menerimanya, tolong jangan menolak."
'apa maksud mas roland.' aku bertanya dalam hati, merasa sedikit bingung atas perlakuannya. Aku kembali mandangi baju sedang aku pegang, ternyata mas Roland membelikannya untukku.
Walau sedikit bingung, aku begitu senang mengetahui mas Roland membelikan pakaian untukku. Mas Roland begitu baik padaku, aku sangat terharu dengan segala kebaikannya.
Semenjak bertemu mas Roland, aku merasa ada sesuatu ikatan diantara kami. Hatiku terasa hangat dan bahagia, ketika bertemu dengannya.
'terima kasih mas, kamu sudah begitu baik padaku.' aku berkata seraya mendekap baju pemberiannya. Tidak terasa air mataku mengalir, aku merasa begitu bahagia.
Saking bahagianya, aku memeluk baju pemberian mas Roland dan terus memeluknya sampai aku tertidur. Aku merasa perhatian mas Roland mampu memberikan kekuatan dan kebahagiaanku, saat hatiku rapuh karena disakiti mas Ringgo.
__ADS_1
Paginya, aku terbangun masih dengan memeluk baju pemberian mas Roland. Aku tersenyum bahagia memandangi baju tersebut, kemudian menggantungkan y di dalam lemari. Aku merasa luka di hatiku sedikit terobati, pagi ini aku bangun dengan perasaan yang lebih baik dari pada hari sebelumnya.
Aku segera keluar kamar menuju kamar mandi, segera mengambil wudu' mensucikan diri. Aku memulai hariku dengan menunaikan sholat subuh, tidak lupa aku berdoa seraya mengucapkan syukur atas kebahagian yang di limpahkan kepadaku.
Selesai sholat, aku segera membuat teh hangat. Aku sarapan pagi hanya dengan biskuit karena bahan masakan di kulkas sudah habis.
Aku belum belanja bahan makanan karena beberapa hari ini disibukkan dengan masalahku dengan mas ringgo. Seraya menunggu hari siang, aku membereskan rumah yang beberapa hari ini tidak ku bersihkan.
Sedang asyik membersihkan rumah, aku mendengar suara ketokan pintu dari luar rumah. Aku menghentikan sejenak pekerjaan, beranjak hendak membuka pintu.
Ternyata yang datang, seorang pengantar makanan. Aku heran melihat kedatangannya, karena aku merasa tidak memesan makanan dari tadi.
"saya datang mengantarkan sarapan pagi, mohon diterima mbak." dia menyerahkan bungkusan makanan kepadaku. Aku ragu menerima makanan tersebut, karena merasa tidak memesan makanan.
"tapi mas, saya tidak memesan makanan mungkin mas salah orang." aku menolak makanan yang disodorkan oleh pengantar makanan yang sedang berdiri di hadapanku.
Aku segera mengecek paket tersebut, benar saja pengirimnya mas Roland. Aku senang sekali menerima makanan yang dikirim oleh mas Roland, terus terang perutku memang sudah sangat lapar.
"terima kasih mas, sampaikan juga rasa terima kasih saya kepada mas Roland." aku menerima paket yang diberikan oleh pria itu, aku tersenyum senang sekali rasanya. Aku melangkah riang, ingin segera makan mengisi perutku yang sangat lapar.
Aku memindahkan makanan yang diberikan oleh mas Roland, ternyata makanan yang dikirimkan banyak melebihi porsi sarapanku. Aku segera menyantap dengan lahapnya, ternyata makanannya enak sekali.
"aku benar-benar merasa heran ,kenapa mas Roland begitu baik kepadaku?" aku berkata sendiri, perasaan heran mulai mengundang pertanyaan di hatiku.
'siapa sebenarnya mas Roland? kenapa dia sering datang ketika aku membutuhkan bantuan? Dia bagai malaikat yang dikirimkan untuk membantuku, dia selalu datang disaat aku membutuhkan bantuan.'
'siapa mas Roland sebenarnya? aku melihat dia begitu sopan kepadaku, apa maksudnya dia mendekatiku?" beragam pertanyaan kini muncul di dalam pikiranku, aku merasa heran dengan sikap mas Roland. Dia mendekatiku sepertinya bukan karena mencintaiku, tapi aku merasa ada sesuatu yang lainnya. apakah itu? aku juga tidak tahu.
__ADS_1
Aku menikmati sarapanku ditemani oleh berbagai pertanyaan, hanya mas Roland saja yang bisa menjawabnya. Aku bertambah heran ketika pria pengantar makanan tadi menyebut mas Roland dengan panggilan "tuan".
Setelah selesai sarapan, aku mengistirahatkan perutku sejenak. Aku tidak bisa menghabiskan semua makanan, karena mas Roland mengirim makanan dalam jumlah yang melebihi porsi makan ku biasanya.
"mas, terima kasih telah mengirim makanan." Aku mengirim pesan singkat melalui akun what's up milik mas Roland, karena untuk meneleponnya aku tidak memiliki pulsa yang cukup.
"sama-sama dik, mas senang kamu telah menerima makanan yang telah mas kirimkan."
Beberapa menit kemudian, aku tersenyum membaca balasan pesan yang dikirim mas roland. Aku merasa senang sekali, tidak dipungkiri ada perasaan hangat mengalir di hatiku.
Pagi ini, aku kembali merasakan perhatian yang lebih dari mas Roland. Aku tidak mengerti perasaan yang aku rasakan sekarang, perasaan ini seperti mengalir di hatiku. Aku merasa perasaan ini jauh berbeda, ketika mas Ringgo dan mas Aldo mendekatiku.
"siapa sebenarnya mas Roland? pertanyaan itu terus menggema di hatiku.
Setelah istirahat sebentar, aku kembali melanjutkan beres-beres rumah. Aku jarang membersihkan rumah akhir-akhir ini, karena waktuku terlalu banyak tersita karena masalah perselingkuhan mas Ringgo dengan si Ratu ular.
Akhirnya setelah satu jam, aku menyelesaikan pekerjaanku. Aku merasa sangat lelah sekali, ternyata membersihkan rumah yang jarang dibersihkan itu membutuhkan waktu sedikit lebih lama dari pada biasanya.
Aku segera ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah mandi, aku segera memilih baju yang terlihat bagus, aku tidak mau lagi memakai daster lusuh walau hanya berada di rumah.
Aku kemudian merias diri, setelah selesai aku merasa takjub memandang penampilanku. Sekarang, aku merasa seperti kembali sewaktu masih berumur tujuh belas tahun.
Aku merasa tidak sia-sia mengeluarkan uang banyak untuk melakukan perawatan, hasilnya sangat memuaskan hati. Aku terus memandang pantulan wajahku di cermin. Sedang asyik bercermin, aku mendengar ketokan pintu dari luar.
'siapakah yang datang?' aku bertanya sendiri, segera keluar kamar untuk melihat siapa yang datang.
Aku bergegas membuka pintu, ingin mengetahui siapa yang datang. Setelah pintu terbuka, aku melihat ternyata mas Ringgo yang datang.
__ADS_1