
"semoga keberuntungan mengikuti langkahku, aku berharap ini awal kebahagiaanku." Aku berkata dalam hati penuh harapan, aku melangkah mantap ke arah Masin ATM yang ada di hadapanku.
Aku harus bisa mendapatkan uang mas Ringgo sebanyak mungkin. Aku akan menggunakan uang itu untuk membangun sebuah usaha, usaha yang dapat menunjang hidupku kedepannya.
Aku sekarang menyadari sepenuhnya, kalau mas Ringgo tidak dapat aku harap menjadi masa depanku. Mas Ringgo telah menduakan cintaku, aku tak tahu seberapa jauh hubungan mereka. Dia sekarang bukan lagi milikku sepenuhnya.
Aku harus bersiap untuk menghadapi apa yang akan menimpaku nanti, yang jelas aku sekarang tidak bisa mengandalkan mas Ringgo lagi. Aku sedih sekali mengenang nasib cintaku yang tidak di hargai dan sekarang sedang dipermainkan oleh mas Ringgo.
Aku tak menyangka semua ini terjadi menimpa rumah tanggaku dan mas Ringgo tega melakukannya, setelah apa yang telah kami lalui bersama selama ini. Aku mengira andai aku setia, mas Ringgo yang sangat aku cintai bakalan setia pula kepadaku. Tapi itu hanyalah harapan kosong belaka. Aku tak menyangka apa yang aku bayangkan dan pikirkan tidak seindah kenyataan yang aku alami.
Aku terus melangkah segera masuk keruangan dimana mesin ATM berada. Aku segera mengeluarkan kedua kartu dari dalam tas buluk yang kubawa. Aku segera memasukkan salah satu kartu ATM kedalam mesin dan segera mengaksesnya.
"mas maafkan aku, aku tidak pernah berniat melakukan semua ini tapi kaulah yang menghendaki dan membuatku seperti ini. Andaikan, kamu bisa menjaga dan setia kepadaku aku tak perlu melakukan semua ini." Aku berkata dalam hati, gores luka kembali menyayat hatiku. Aku merasa betapa perih luka ini, tak terasa air mataku mulai mengalir membasahi pipiku
'aku tidak boleh menangis, aku harus kuat. Aku harus berusaha sekuat tenaga menciptakan kebahagian untuk diriku sendiri.' Aku berkata di dalam hati mencoba menghibur hati yang sedih.
Aku bergegas menghapus air mata di pipiku. Aku tak akan biarkan air mataku menjadi kelemahan tapi aku harus menjadikannya motivasi untuk menjadi lebih lagi. Aku harus mampu berdiri diatas kaki sendiri, itulah pilihan terbaik untukku saat ini.
Aku segera menekan PIN ATM salah kartu, aku merasa mengetahui PINnya. ternyata PIN yang aku telan salah. Aku mencoba berpikir keras tapi, aku tetap tak bisa mengakses kartu ATM itu. Aku merasa kecewa dan putus asa karena usahaku gagal.
Aku kemudian memasukkan kartu yang satunya lagi, aku berharap PIN yang aku masukkan sesuai dengan yang ada di kartu ini. Aku masih mengingat PIN itu karena pas pembuatannya mas Ringgo dulu membuatnya bersamaku, semoga saja mas Ringgo tidak menukarnya no PIn itu.
"aku berhasil, yes akhirnya aku bisa mengaksesnya" aku berkata setengah berbisik, ternyata PIN kartu itu masih sama.
__ADS_1
Segera, aku memeriksa isi kartu ATM mas Ringgo. Aku mencek berapa saldo tabungannya ternyata isinya lumayan banyak sebesar tujuh puluh tiga juta rupiah. Aku senang melihat jumlah uang yang tertera disitu.
Aku kemudian mengambil uang, aku berhasil mengambil uang sebanyak lima puluh juta. Aku kemudian mengambil uang tersebut dan memasukkan ke dalam tas buluk yang aku bawa. Setelah berhasil melakukan transaksi, aku segera mengakhirinya.
Aku keluar dari ruangan mesin ATM, kemudian berhenti sejenak untuk duduk di kursi yang di sediakan di luar ruangan mesin ATM. Aku duduk untuk menetralkan perasaanku yang berkecamuk saat ini.
Terus terang melakukan semua ini tidaklah mudah bagiku, aku merasa berbagai perasaan di hatiku. Aku merasa senang bisa mengambil uangnya mas Ringgo tapi aku sekaligus sedih karena harus mencuri untuk mendapatkannya.
Betapa ironi kehidupanku, aku harus melakukan pencurian ini padahal yang aku ambil adalah uang suamiku yang notabenenya memanglah hak aku sebagai seorang istri. Aku harus mencurinya untuk membangun usaha untuk mempersiapkan masa depanku, yang mungkin saja sebentar lagi dibuang dari kehidupan mas Ringgo.
Semenjak mengetahui mas Ringgo selingkuh, aku tiba-tiba merasa tidak percaya lagi kepadanya. Walaupun sekarang mas Ringgo masih memperlihatkan sikap manisnya kepadaku, tapi tidak tertutup kemungkinan suatu hari nanti dia akan berlaku kurang ajar kepadaku.
Sebelum semua itu terjadi, aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapi saat itu tiba. Aku akan membangun usaha walaupun harus memulainya dari nol. Aku percaya kepada diriku bahwa aku pasti bisa melewati ini semua walau harus mencuri uang mas Ringgo untuk memulai usahaku.
"miris sekali" kataku bergumam di dalam hati, seraya memandang uang yang sekarang berada di dalam tasku.
"mas Ringgo maafkan aku, aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku yang berkorban demi kamu, harusnya akulah yang menikmati penghasilanku bukan perempuan itu." Aku terus bergelut dengan pikiranku.
Aku tidak bisa terima kalau perempuan itu ikut menikmati uang mas Ringgo, cukup rasanya dia menggoda dan mengambil hati mas Ringgo dariku. Enak saja perempuan itu, aku yang susah menanam dan merawat pohon tapi buahnya dia yang menikmatinya.
"tak bisa di biarkan, aku tak bisa membiarkan itu terjadi. Aku harus menguras uang ATM mas Ringgo lagi " aku berkata sendirian, hatiku kembali mendidih mengenang semua perlakuan mas Ringgo dan wanita itu.
Akhirnya, aku kembali keruangan mesin ATM, hendak mengambil sisa uang mas Ringgo yang ada di kartu ATM yang berhasil aku akses tadi. Aku mengambil semua semua uang yang tersisa hanya meninggalkan saldo sebesar tiga juta saja.
__ADS_1
Aku kemudian memasukkan semua uang mas Ringgo yang berhasil aku tarik, ke dalam tas buluk milikku. Aku bersiap meninggalkan tempat itu, melangkah menjauh dari mesin itu.
"aku sebaiknya cepat pergi untuk melanjutkan aksiku selanjutnya." Akuu berkata di dalam hati. Aku senang akhirnya, aku bisa mendapatkan uang untuk modal usaha yang akan aku dirikan.
Aku terus melangkah hingga sampai di tepi jalan, menunggu kendaraan yang lewat. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan tapi tidak melihat taksi dan ojek yang lewat. Aku mulai merasa resah, bagaimana cara kembali sedang aku tidak mempunyai aplikasi ojek online yang bisa aku hubungi.
Dalam kebingungan, aku teringat kepada pengendara ojek yang tadi mengantarkan aku ke sini. Aku ingat bukankah dia tadi memberikan nomor ponselnya kepadaku. Aku segera mencari namanya di ponselku dan ternyata aku menyimpannya.
Aku segera menghubungi laki-laki tadi, berharap dia akan menjawabnya. Tak berapa lama, aku mendengar suara laki-laki itu menjawab panggilanku.
"assalamualaikum mas, apakah ini mas Roland? aku bertanya di ponsel seraya menghubungi mas Roland.
"iya ini saya, siapa ya? ada keperluan apa? tanyanya di seberang sana.
"ini aku mas, aku Rianti perempuan yang mas antar ke rumah makan Padang tadi, sekarang mas ada di mana?" aku kembali bertanya.
"mas masih di dekat daerah itu dik, menunggu penumpang. memangnya ada apa ya dik? tanyanya kemudian.
"gini mas, mau nggak menjemputmu kembali ke tempat tadi" aku berkata kembali.
"baiklah dik, mas segera ke sana" jawabnya.
"makasih mas, aku tunggu." jawabku seraya menutup ponsel. Aku sekarang dapat bernapas lega, akhirnya bisa mendapatkan kendaraan juga.
__ADS_1
'syukurlah' aku berkata di dalam hati. Aku kembali membuka ponselku dan melihat layarnya, ternyata hari masih menunjukkan jam sebelas malam. aku bersiap melanjutkan aksiku selanjutnya, akankah berhasil lagi kali ini....?