SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 113: Ringgo Makin Tertekan


__ADS_3

"ayo kita pulang ma." Aku tiba-tiba mendengar suara yang sangat ku kenal dari arah pintu.


Aku menoleh ke arah sumber suara, ternyata suara itu milik mas Roland. Mas Roland tiba-tiba muncul, dia mengajak kami pulang.


Sesaat kemudian, Aku menoleh ke jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tanganku, ternyata sudah jam enam sore. Mas Roland mendekati kami dan merangkul mama, aku tersenyum melihat tingkah mas Roland yang begitu manja kepada mama.


"pak Ringgo, anda berhutang penjelasan kepada saya." mama berkata kepada mas Ringgo dengan nada yang sengit, tatapan tajam menghunus ke arahnya..


Mas Ringgo terlihat makin tertekan, dia hanya diam seraya menatap kepadaku. Aku balas tatapan matanya, sekarang tidak ada lagi rasa hormat di hatiku untuknya.


Kami bertiga beranjak pergi meninggalkan mas Ringgo, dia masih terduduk dengan wajah yang muram di kursinya. Aku menoleh sejenak padanya, sebelum benar-benar pergi meninggalkannya sendiri di ruangan itu.


Aku tidak peduli lagi padanya sekarang, dia bukanlah laki-laki baik seperti yang dulu ku kenal. Aku mengaguminya bukan karena harta tapi karena sikapnya, kalau karena itu tidak mungkin karena dulu dia bukanlah siapa-siapa.


Aku mencintainya karena dia baik dan punya prinsip, tapi kehadiran wanita jahat itu telah merubah segala kebaikannya. Wanita itu telahberhasil membuat lelaki yang dulu pernah menjadi suamiku, menjadi manusia yang tak tahu diri .


Aku tidak habis pikir, ilmu apa yang digunakan wanita itu hingga ia bisa membuat mata hati mas Ringgo buta seperti itu. Mas Ringgo benar-sudah kehilangan jati dirinya sekarang.


"kita langsung pulang saja ya ma, hai ini Roland benar-benar capek." Mas Roland berkata pada mama, ketika dia menghidupkan mesin mobilnya.


"iya nak, mama juga ingin segera istirahat." mama berkata seraya menanggukkan kepala, beliau terlihat lelah seharian membuat laporan keuangan.


Aku kagum dengan semangat mama, beliau memperlihatkan kemampuan yang sebenarnya. Aku sadari sekarang, ternyata aku di kelilingi oleh oransekaran, dan pantang menyerah.


Sekarang semangatku muncul, aku menanamkan suatu tekad dan kemauan yang kuat. Aku harus mampu seperti mama dan ibuku yang telah tiada. Mereka menjadi panutan bagiku, aku yakin suatu hari pasti bisa seperti mereka.


Mas Roland segera melajukan kendaraannya, menyusuri jalanan yang sedikit macet. aku hanya diam saja selama perjalanan karena begitu banyak hal, yang berpendar di kepalaku.

__ADS_1


"kamu kenapa dik?" mas Roland berkata, dia memecah keheningan yang dari tadi tercipta.


"aku tidak apa-apa kok mas," aku menoleh ke arah mas Roland dan kemudian melihat kearah mama, rupanya beliau telah terridur.


"tidak ada apa-apa, kok dari tadi diam saja?"


"aku hanya sedang memikirkan mama mas, beliau bekerja terlalu keras hari ini mas."


"maksud kamu apa dik?" mas Roland bertanya lagi, tapi kali ini ekpresi wajahnya terlihat lebih serius. Aku mencari kata- kata yang tepat untuk menjelaskannya pada mas Roland.


"gini mas, mama kemaren memeriksa laporan keuangan. Beliau menemukan ada yang janggal di sana, untuk memastikannya lagi, tadi beliau membuat ulang laporan keuangan itu. Ternyata benar, mama menemukan ada sejumlah dana peeusahaan yang hilang." Aku mulai menjelaskan apa yang telah kami temukan.


"jadi maksud kamu, ada yang korupsi diperusahaan kita dik? Apa jumlahnya besar dik?"


"kemungkinan besar begitu mas, ada yang korupsi. Mama menemukan ada sekitar lima milyar dana yang hilang, aku tidak tahu apakah jumlah segitu besar buat perusahaan. Tapi bagiku, itu jumlah yang luar biasa banyaknya mas." Mas Roland terdiam waktu mendengarkan penjelasanku, tak lama kemudian dia menangguk pelan.


"apa menurut kamu, si Ringgo mantan suamimu itu terlibat dik?"


"kenapa kamu berkata begitu dik?"


"aku pernah menjadu istrinya mas, jadi aku bisa membaca bahasa tubuhnya. Aku lihat mas Ringgo berubah pucat dan gelisah ketika mamabertanya padanya." Aku memberikan pendapatku pada mas Roland, mas Roland mengangguk beberapa kali, mungkin dia merasa pendapatku ada benarnya.


"mas, aku merasa mas Ringgo melakukan penggelapan tidak sendirian mas."


"Maksud kamu apa dik?"


"Aku sangat yakin, mas Ringgo pasti melakukannya bersama orang, aku berkata begini ada alasannya mas. Apa mas masih ingat ketika kita mula bertemu?

__ADS_1


"iya mas ingat dik, kamu sering ke rumah makan padang. Aku tahu tujuan kamu bukan hanya untuk makan ke sana tapi ke ATM yang ada di sana, benar kan dik?


"benar mas, aku kesana buat menguras tabungannya. Aku sakit hati padanya ketika tahu dia selingkuh di belakangku. Aku mengambil semua kartu ATMnya dan berusaha mengambil semua uangnya.


"mas sudah tahu kok, dik." mas Roland berkata seraya mengulum senypabena


"nah dari kedua kartu ATM yang di milikinya, aku hanya menemukan uang sebanyak lima ratus juta lebih sedikit. Mama bilang dana yang hilang lima milyar, itu artinya sepuluh kali lipat dari yang aku temukan."


"penjelasan kamu masuk akal dik, Ringgo pasti bekerja sama dengan orang lain."


"iya mas, aku sangat yakin itu mas. Tapi mas kita tidak boleh membiarkan mama bekerja terlalu keras seperti hari ini, aku takut beliau akan drop kemali.


"iya dik, besok mas akan memanggil Ringgo dan meminta penjelasan padanya. Kalau benar dia melakukan penggelapan, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." Mas Roland berkatakdengan penuh penekanan, aku melihat ada api kemarahan di matanya.


Setiba di rumah,kami langsung masuk kamar masing masing. Aku segera mandi karena badanku terasa lengket karena keringat, setelah selesai aku langsung berwudhu.


Aku langsung menunaikan ibadah sholat magrib, karena sayup-sayup terdengar suara azan magrib berkumandang di mesjid.


Aku tidak ingin melalaikan kewajibanku yang satu ini, karena aku sadar begitu banyak yang allah berikan kepadaku. Aku tidak mau semua yang aku terima diambil kembali olehNya karena lupa bersyukur.


Setelah selesai menghadap kepada pemilikku, aku keluar kamar untuk berkumpul dengan mama dan kakakku. tidak ingin melewatkan satu momenpun, aku terus memupuk kebersamaan dengan keluargaku.


Setelah bebeapa lama bersama, aku sudah tidak canggung lagi dengan mereka. Aku bahagia sekali karena sekarang kembali memiliki keluarga, setelah ibuku meninggal dunia dan mas Ringgo menghancurkan Rumah tangga kami.


Setelah makan malam, kami menyempatkan untuk berbincang-bincang terlebih dahulu. Kami membicarakan apa saja, yang pasti bukan soal pekerjaan.


"Roland ke kamar dulu ya ma." Mas Roland berkata seraya beberdi, dia terlihat sudah ngantuk sekali.

__ADS_1


"mama juga sudah ngantuk, sebaiknya Rianti juga segera tidur karena besok pagi harus bangun lebih pagi dari biasanya."


"baik ma, kalau begitu Rianti akan ke kamar juga." Kami bertiga masuk ke kamar masing-masing, rasanya ingin segera tidur.


__ADS_2