
"dik Rianti" "panggil mas Roland dari sebelah kiri, aku sedikit terkejut karena tidak menyadari kedatangannya. Dia datang dari arah kiri sedangkan aku sibuk menoleh ke arah kanan, menyangka dia akan datang dari arah kanan.
"oh iya mas, saya minta maaf karena merepotkan tengah malam begini." Aku berkata meminta maaf kepadanya seraya tersenyum, merasa bersalah karena telah merepotkan.
"tidak apa-apa dik, saya merasa tidak direpotkan sama sekali karena ini memang pekerjaan saya." Mas Roland membalas, dia melayangkan senyum manisnya kepadaku.
'dia tampan juga.' Aku berkata di dalam hati tanpa sengaja menyunggingkan senyum di bibirku.
"lho, kenapa dik Rianti senyum sendiri begitu? Mas Roland bertanya kepadaku, menyadarkan aku dari lamunan.
"tidak apa-apa mas." jawabku singkat, seraya naik ke sepeda motor mas Roland.
"Dik rianti mau saya antar ke mana? Saya siap mengantar selamat sampai ke tujuan." Mas Roland kembali bertanya seraya berseloroh, aku mendadak senang mendengarkannya.
"kita ke mall saja mas, saya mau membeli sesuatu sebelum pulang ke rumah." Aku berkata pada mas Roland.
"ayo dik, kita jalan sekarang." Mas Roland segera menghidupkan motornya, dia segera menjalankannya. Aku larut kembali dalam lamunan dan pikiranku sendiri.
Sebenarnya aksiku yang ini diluar rencana awal, aku tidak berpikir ini sebelumnya. Aku tidak mengetahui sepenuhnya kalau mas Ringgo memiliki kartu kredit. Aku benar-benar terkejut dengan kenyataan yang aku dapatkan ketika memeriksa dompet mas Ringgo tadi. Mas Ringgo ternyata memiliki kartu kredit, bukan hanya satu tapi dua sekaligus.
Mungkin ini jalan yang ditunjukkan kepadaku oleh yang maha kuasa, aku yang selalu dicurangi dan dibohongi sudah saatnya tahu semua kebusukan suamiku. Aku bersyukur mengetahui semua ini sebelum benar-benar terlambat. Mas Ringgo harus merasakan pembalasan atas perlakuan buruknya kepadaku.
'mas saat itu telah tiba, aku akan membuatmu menderita secara perlahan sehingga kamu merasa sakitnya dicurangi dan dibohongi. Aku telah membuktikan malam ini, aku bisa menguras habis isi salah satu ATM sampai tak tersisa' aku berkata di dalam hati, menyuarakan keberhasilanku malam ini.
"dik kok kamu diam saja? mas Roland bertanya kepadaku, seketika aku tersadar dari lamunanku.
__ADS_1
"tidak apa-apa mas, aku hanya tidak sabar Sampai di tempat tujuan" jawabku sekedar memberi jawaban.
"oh begitu, saya pikir kenapa. Adik tidak usah takut sama saya, saya orang baik-baik kok" katanya mencoba akrab denganku.
"semoga saja begitu mas, saya merasa lelah jadi sasaran kejahatan orang" kataku penuh kebencian teringat akan kelakuan mas Ringgo kepadaku.
"maksud adik apa? mas Roland bertanya aku merasa dia ingin mengetahui maksudku lebih jelas.
"sudahlah mas, aku tidak ingin membahasnya. aku merasa sakit hati ketika mengingat dan membahas semua itu" aku menjawab pertanyaan mas Roland dengan penuh kebencian, aku tidak bisa menahan perasaan sakit hatiku ketika membicarakan semua itu.
"ya sudah, saya tidak akan membicarakan itu lagi tapi jangan sewot begitu dong dik." Mas Roland berkata seraya berseloroh, bercanda denganku tapi itu tidak lucu menurutku.
Aku kemudian diam saja melihat jalanan yang sedang kami lalui, mas Roland sekarang turut diam seraya menjalankan motornya. Aku sudah tak sabar tiba di mall untuk belanja. Aku ingin merasakan belanja barang-barang mewah, karena selama ini aku tidak bisa merasakannya.
Selama menikah dengan mas Ringgo, aku belum pernah merasakan belanja di mall karena harga barang di sana terbilang mahal. Aku hanya bisa belanja di pasar dekat komplek perumahanku, aku bisa membeli barang dengan harga murah disana walaupun kualitas barang yang dijual di sana pastinya berkualitas rendah
Aku akan mencari cara bagaimana menghadapi mas Ringgo nanti, kalau sampai ketahuan. Tapi, aku tidak ingin memikirkan karena sekarang aku fokus untuk membeli semua kebutuhanku. Aku harus membeli barang sampai batas maksimum kartu kredit mas Ringgo, ini adalah kesempatanku.
"apa masih lama mas? Aku bertanya kepada mas Ringgo, tak sabar segera sampai.
"tidak lama dik, kita sudah sampai kok. Mas roland menghentikan sepeda motornya, aku segera bergegas turun.
"apakah mas Roland sibuk atau mau menjemput penumpang lain?" aku bertanya pada mas Roland seraya membuka helm yang melekat di kepalaku.
"tidak dik, memangnya kenapa?" tanya mas Roland memandang serius kepadaku.
__ADS_1
"maukah mas Roland menungguku di sini sampai aku selesai belanja, nanti aku bayar lebih.
"berapa lama dek? tanya mas Roland dengan tatapan serius kepadaku.
"sekitar satu jam mas," jawabku singkat seraya tersenyum kepada mas Roland.
"lama sekali dik. Apa tidak bisa dipercepat? tanya mas Roland lagi.
"saya usahakan cepat selesai mas, mas tidak perlu cemas nanti saya bayar lebih" jawabku kepada mas Ringgo seraya tersenyum berharap dia mau.
"saya akan bayar mas seratus ribu bagaimana" aku berkata dengan maksud membuat penawaran.
"apa bisa dinaikkan sedikit nggak, bagaimana kalau dua ratus ribu dik? Mas Ringgo bertanya kepadaku, mengajukan penawaran.
Aku berpikir sejenak memikirkan penawaran mas Roland. Sebenarnya kalau berpikir seperti biasanya, aku merasa penawaran mas Roland itu terlalu tinggi tapi ini keadaannya berbeda. Aku tidak mempunyai banyak pilihan malam ini. Akhirnya, aku menerima penawaran mas Roland membayar sebanyak yang dia minta.
"baiklah, aku setuju. Aku akan membayarnya setelah sampai di rumah." Aku berkata seraya memandang ke arah mas Roland menunggu kata-kata setuju dari mulut mas Roland.
"saya setuju. Saya akan menunggu dik Rianti di sini satu jam lagi. saya akan menunggu dik Rianti seraya minum kopi di cafe sebelah sana." kata mas Ringgo seraya menunjuk ke arah kafe yang berada diseberang jalan.
"baiklah mas". Aku menjawab seraya meninggalkan mas Roland, bergegas masuk kedalam mall. Aku akan berbelanja sepuas hati, sampai batas maksimum.
Aku berjalan dengan santai memperhatikan sekeliling, melihat semua itu aku begitu takjub dan bersemangat. Aku melihat banyak barang bagus terpajang, semua yang aku butuh kan ada di sana. Aku berjalan ke tempat deretan baju wanita, aku memilih beberapa potongan pakaian dan mencobanya di ruang ganti.
Akhirnya, aku menemukan beberapa potongan pakaian yang ku sukai. Aku melihat di catatan harganya, ternyata harganya mahal menurutku diatas lima ratus ribu. Setelah berpikir sejenak akhirnya aku memutuskan untuk membelinya.
__ADS_1
"kapan lagi, aku bisa membeli baju bagus seperti ini kalau bukan sekarang. aku merasa sekaranglah saatnya, aku tidak akan melewatkan kesempatan bagus ini." Aku berkata di dalam hati. Aku sekarang sudah tidak peduli soal Harga karena bukan aku yang akan membayarnya. Aku merasakan itu bukan masalahku, tapi menjadi hutang mas Ringgo biar saja dia yang membayarnya.