SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 130: Okelah Kalau Begitu


__ADS_3

"kita sudah sampai, ayo turun ma." Aku segera mengajak mama turun begitu taksi yang membawa kami berhenti di tempat yang kami tuju.


Aku segera membayar ongkos taksi, kemudian mengajak mama masuk ke dalam mall itu. Kami berdua asik memandang ke segala penjuru, semua barang tidak luput dari perhatian kami.


"ma ayo kita ke sana." Aku menunjuk ke arah deretan baju yang terpajang.


Aku dan mama segera ke tempat itu, kami memilih beberapa baju yang diinginkan. Selama berbelanja, mama banyak protes bahkan tidak suka dengan baju pilihanku. Akhirnya, aku membiarkan mama memilihkan baju untukku.


Aku akui gaya fashion mama jauh di atasku, beliau sangat mengerti mode. Beliau memilih baju yang simpel namun sangat anggun jika di pakai, aku hanya bisa diam seraya memperhatikan.


Setelah puas memilih, aku dan mama segera ke meja kasir hendak membayar baju yang telah mama pilihkan. Dari semua yang dipilih, aku perhatikan mama tak membeli sepotong pun pakaian untuknya, ternyata pakaian yang dibeli untukku semua.


"mama tidak belanja pakaian untuk mama juga?"


"tidak nak, pakaian mama sudah banyak tidak perlu beli lagi."


Aku hanya diam saat mendengarkan jawaban mama seraya mengangguk pelan. Tapi, aku malah terkejut ketika mendengar nominal yang harus dibayar untuk beberapa potong pakaian tersebut.


"semuanya sebesar delapan juta rupiah."sang kasir menyebutkan angka yang harus kami bayar.


"berapa mbak? Apa tidak salah? coba hitung lagi."


"Itu benar mbak, saya tidak salah hitung. Silahkan bayar!"


"ma, kita gak usah beli aja ya. Kita tukar dengan yang lain saja, masa iya beli beberapa potong pakaian harganya bisa untuk makan selama beberapa bulan.


"sudah bayar saja, kita tidak boleh pelit pada diri sendiri nak."


"tapi ma, apa kita tidak berlebihan. Kita tukar dengan model lain yang lebih murah ya."

__ADS_1


"kita punya uang untuk membayarnya jadi jangan pelit, baju yang mama pakai ini, juga segitu juga harganya."


"tapi ma, aku...


"sudah bayar saja."


"iya ma." aku menjawab singkat seraya menyerahkan kartu persegi empat yang di berikan mas Roland tadi malam.


Sebenarnya, aku masih mau protes tapi melihat sikap mama yang begitu serius akhirnya aku menuruti saja apa kata-kata beliau. Setelah selesai membayar, kami melanjutkan melihat-lihat ke sudut lain mall itu.


Aku hanya bisa menurut dengan patuh semua yang mama katakan, percuma membantah beliau lebih keras kepala dari pada diriku. Mama tidak menggubris setiap protes yang kulontarkan, beliau tetap saja membeli yang dilihat dan kira-kira sesuai dengan penampilanku.


Aku sedikit ngeri melihat cara belanja mama, beliau tidak segan-segan membeli barang yang harganya jutaan untuk satu jenis barang. Beliau jugabtidak bisa dibantah, aku hanya bisa mengangguk dan berkata "iya."


Entah berapa banyak uang yang beliau habiskan, aku tak mau lagi menghitungnya. Aku rasa sudah menyentuh angka puluhan juta rupiah.


Aku merasa ngeri melihat cara belanja mama, tapi beliau terlihat biasa saja. Mama malah semakin semangat sedangkan aku tak mau lagi menyentuh barang apapun, takut nanti dikira aku menginginkannya.


"ma, kita cari makan dan istirahat dulu, kaki Rianti terasa sangat pegal sekali."


"iya nak, mama juga sudah sangat lapar. Kita makan di restoran yang ada di seberang jalan mall ini. Mama lihat tadi sepertinya makanan di sana enak, kita coba yuk."


"Iya ma, ayo kita keluar dari mall ini l. Rianti juga udah lapar." Aku mengangguk kemudian mengikuti mama melangkah hendak keluar dari mall.


Aku kesusahan membawa belannjaan di kedua tanganku, ternyata berat juga padahal isinya hanya pakain dan beberapa barang keperluan untuk kuliah nanti. Mama yang berjalan di depan terlihat gesit karena beliau hanya membawa beberapa kantong belanja.


Dubrak!"


Aku menabrak seorang laki-laki yang melintas di hadapanku, semua belanjaan yang ada ditanganku berserakan di atas lantai. Sesaat, aku kaget kemudian berusaha memunguti barang yang berserakan, diapun ikut membantu.

__ADS_1


"kamu...


Aku terkejut saat memandang laki-laki yang baru saja menabrakku, ternyata dia karyawan rumah makan padang yang sering kukunjungi beberapa waktu lalu. Dia terlihat tersenyum tapi raut mukanya terlihat datar, aku pun tersenyum membalas senyumannya.


Tidak dapat kusangkal, ada seritik kebahagian menyeruak dalam hatiku saat berjumpa dengannya. Aku tak tahu perasaan apa yang kurasakan, yang jelas aku begitu bahagia.


Untuk sesaat, aku terpana memandang ke arahnya tanpa sadar mama memanggil namaku. Beliau mengulurkan tangan kepadaku hendak membantuku berdiri.


"maaf mbak, saya tidak sengaja. Saya tadi buru-buru karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan." Pria itu berkata dengan wajah sendu, aku merasa tersentuh oleh ekspresi wajahnya.


Aku melihat ada yang beda dari cara berkata dan ekspresi wajahnya, dia sekarang lebih terlihat kurus dari pada terakhir kali bertemu.


"tak apa-apa mas, saya tadi juga tak lihat-lihat soalnya barang belanjaan ini ternyata berat juga" Aku menjawab ringan, rasanya tidak wajar jika menyalahkannya.


"oh ya, kalau begitu saya permisi ya mbak!


"iya mas."


Setelah pamit, Pria itupun berlalu dengan langkah besar dan terburu-buru. Aku memandang kepergiannya sampai dia tidak terlihat lagi. Entah apa yang terjadi, Aku merasa kehilangan saat dia sudah tampak lagi, ingin rasanya mengikutinya tapi sayang itu tidak mungkin.


"Rianti, siapa dia? Kamu sudah kenal sebelumnya?" Mama menatapku dengan pandangan penuh tanya.


"Rianti kenal dia ma, dia karyawan rumah makan yang sering kita kunjungi, dia ramah dan baik." Aku menjawab dengan sedikit membalikkan fakta, tidak mungkin kukatakan jika dia dulu sering jahil kepadaku.


"Dia juga tampan dan menyenangkan , iya kan?!" Mama berkata seraya tersenyum, aku merasa pipiku terasa menghangat.


"gak kok ma, Rianti melihat dia biasa saja kok. Dia tidak tampan tapi jahil, dulu dia sering jahilin Rianti pas makan di tempatnya bekerja." Aku menimpali perkataan mama, tanpa sengaja aku keceplosan mengatakan yang sebenarnya.


"ya ya, mama mengerti. Dia baik dan ramah tapi juga jahil. Okelah kalau begitu!"Mama berkata seraya tersenyum penuh arti, beliau kemudian melangkah meninggalkanku.

__ADS_1


Aku mengikuti langkah mama meninggalkan mall, sebelum benar-benar pergi aku sempat menoleh kebelakang kea arah perginya pria tadi tapi dia sudah tidak kelihatan lagi.


Perasaan apakah ini, aku merasa sungguh bahagia ketika dia berada di hadapanku. Aku rasanya ingi bertemu dengannya lagi.


__ADS_2