SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Draft 111 : Saya Sendiri Yang Akan Menyelesaikannya


__ADS_3

"kamu sudah siap-siap sepagi ini dik?" mas Roland bertanya, ketika aku baru saja keluar dari kamar.


Aku perhatikan dia masih memakai piyama tidurnya, mungkin saja dia berniat akan membangunkanku. Aku menganguk dan menatap heran kepadanya.


"mas kenapa masih belum siap-siap juga, apakah mas tidak ke kantor hari ini?"


"oh iya dik, mas sengaja telat ke kantor karena menunggu mama siap-siap terlebih dahulu. Nanti, kita berangkat bareng ke kantor."


"begitu ya mas, ngomong-ngomong mama di mana ya. Apa beliau sudah bangun?"


"entahlah dik, coba kamu lihat dulu. Mas juga akan bersiap dulu."


"iya mas." Aku melangkah menuju kamar mama, pintu kamar beliau terlihat masih tertutup.


Tok! Tok! Tok!


"iya, mama sebentar lagi keluar." terdengar suara mama dari dalam, ternyata beliau sudah bangun. Tak berapa lama, aku mendengar suara derap sepatu dari dalam kamar mama.


"Ceklek"


Pintu kamar terbuka, aku terkejut melihat penampilan mama. Beliau terlihat begitu anggun dan cantik, aku jadi pangling dibuatnya.


"mama cantik sekali" pujian itu meluncur begitu saja di mulutku. Aku benar-benar takjub melihat penampilan mama, beliau tidak seperti orang yang baru sembuh dari sakit.


Wajah mama berseri dengan senyum terus terkembang di bibirnya. Beliau tampak segar bugar, siapa saja yang melihat pasti tidak akan menyangka kalau beliau baru saja sembuh.


"Rianti juga cantik." Mama balas memujiku ketika beliau memperhatikan penampilanku.


Aku senang sekali mendengar pujian beliau, ternyata bahagia itu sederhana. Kita akan merasa sangat bahagia ketika orang-orang terdekat memberikan pujian, walaupun pujian itu hanyalah untuk hal yang biasa saja.


"mama tahu saja, bukankah Rianti memang sudah cantik dari lahir ma?" selorohku, aku berusaha menghangatkan suasana.


"percaya diri sekali, tapi kamu kok tidak memakai akseroris apapun Rianti. Kamu pasti akan lebih cantik, kalau memakai sedikit perhiasan." mama mengoreksi penampilanku.

__ADS_1


"memakai pehiasan ke kantor, apa tidak akan kelihatan norak nantinya ma?"


"tidaklah Rianti, mama punya perhiasan yang cocok buatmu. Nanti, kamu pakai ya." mama kembali ke kamar beliau. Beliau membuka lemari dan mengambil sebuah kotak segi empat dan kemudian memberikannya kepadaku.


"semua ini adalah perhiasan kesayangan mama, sewaktu masih muda. sekarang, mama berikan kepadamu Rianti, kamu pakai dan jaga baik-baik ya."


Aku ternganga melihat semua perhiasan yang diberikan mama padaku, perhiasan itu banyak sekali. Aku bisa menebak semua perhiasan itu pasti mahal-mahal harganya, karena semua terbuat emas.


"mama ini banyak sekali, apa ini tidak berlebihan ma." Mataku berbinar ketika melihat semua perhiasan itu, aku tak percaya bisa memilikinya.


"kamu pakai ya nak, mulai sekarang mama akan berusaha membahagiakan kamu." mama berkata dengan sungguh-sunguh dan mata beliau terlihat berkaca-kaca.


Mama memperhatikan penampilanku sejenak, kemudian beliau memilih beberapa perhiasan. Aku melihat beliau memilih perhiasan yang ukuran kecil dan bentuknya simpel namun elegan.


"nah ini cocok untuk dipakai ke kantor, sekarang coba kamu pakai Rianti." Aku segera memakainya ternyata pas sekali ukurannya denganku, aku merasa jadi wanita paling cantik di dunia.


"cincin itu bukan perhiasan biasa, itu cincin emas bertahta berlian, itu cincin pertama yang dibelikan papamu untuk mama. Kamu harus jaga baik-baik, jangan sampai hilang." Mama menjelaskan tentang cincin yang sekarang terpasang di jari manisku, ternyata cincin itu mempunyai sejarah dalam kehidupan mama.


"sebaiknya, cincin ini mama simpan saja. Rianti takut hilang, ma."


"baik ma." Aku terus memandangi cincin itu, terus terang aku sangat bahagia. Tidak pernah terpikirkan selama ini, aku bisa memakai cincin emas bertahta berlian.


"mama perbaiki sedikit penampilanmu ya, kamu harus selalu tampil cantik karena itu adalah salah satu cara kita untuk menghargai diri sendiri."


"iya ma." hanya itu yang bisa aku katakan, suaraku tertahan di tenggorokan, tak bisa aku keluarkan. Kasih sayang mama telah berhasil membuat hatiku terharu, hingga lidahku terasa kelu dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Tidak berapa lama, mama selesai mendandaniku. Aku kagum sekali dengan kemampuan mama, beliau sekarang telah mengubahku penampilanku, tidak hanya cantik tapi juga menarik.


"terima kasih ya, ma." Aku memeluk mama seraya mencium pipi beliau, kasih sayang mama telah menyinari hidupku.


"ma, kita sarapan dulu yuk." Tiba-tiba mas Roland mengejutkan kami, aku mengurai pelukanku dari mama.


Kami segera menuju meja makan, di sana sudah terhidang beberapa makanan untuk sarapan pagi. Aku makan dengan lahapnya begitu juga mama, mas Roland terlihat memandangi kami dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, kami segera berangkat ke kantor. Kami sampai sampai di kantor tepat waktu, perjalanan yang kami tempuh lancar tanpa kemacetan.


"mas, aku dan mama akan langsung masuk ke ruangan kami."


"iya dik, mas nanti akan meeting di luar. Kamu dan mama makan siang saja dahulu, mungkin mas akan lama kembali.


"baiklah mas." Kami turun dari mobil dan segera menuju ruangan masing-masing.


Aku dan mama berjalan bergandengan, kami terus menjalin kebersamaaan. Tiba di depan pintu, aku melihat ternyata mas Ringgo suda berada di ruangan.


Tok! Tok! Tok!


Aku mengetuk pintu, mas Ringgo menoleh ke arah kami. Dia terlihat terkejut melihat kedatangan kami, bibirnya terbuka sedangkan tatapannya memindai kehadiran kami.


Aku dan mama melangkah menuju meja kerja kami masing-masing. Mas Ringgo terus menatap kami berdua, dia memperhatikan setiap gerak-gerik kami.


"pak Ringgo, apa laporan yang kemarin saya minta sudah anda selesai." Tanpa basa-basi, Mama langsung menanyakan laporan keuangan pada mas Ringgo.


Mas Ringgo terlihat gelisah, aku bisa mencium hal yang tak wajar dari sikapnya. Tiga tahun hidup bersama membuatku bisa memahaminya.


"be-belum semuanya bu, saya tidak bisa menyelesaikan semua laporan itu dalam waktu dua puluh empat jam."


Mas Ringgo terlihat gugup, dia menjawab pertanyaan mama seraya menundukkan wajah. Sekarang, aku semakin yakin mas Ringgo telah membuat kesalahan sehingga dia tidak mampu menatap muka mama.


"baiklah kalau begitu, saya sendiri yang akan menyelesaikannya. Saya minta anda memberikan semua bukti transaksi, sekarang juga." Mama bicara dengan sangat tegas kepada mas Ringgi, tidak ada ampun bagi beliau.


"ba-baik bu." Mas Ringgo semakin gugup, dia terlihat panik sekarang. Aku geleng kepala melihat, sekarang mas Ringgo gelisah bagai duduk diatas bara api.


"Rianti, kamu buat dulu jurnal-jurnalnya biar mama yang membuat laporannya.


"baik ma." Aku segera mengerjakan perintah mama, beliau sangat profesional sekali


Selama bekerja, mama memperlakukan aku layaknya bRinggi, bukan anaknya. Beliau tegas dan profisional sekali.

__ADS_1


Aku rasa mas Ringgo tak akan selamat kali ini, mama ternyata lebih menakutkan dari mas Roland.


__ADS_2