
Pov Ratu
"aduhhhhh...! Aku terjaga dan membuka mata, penglihatanku masih sedikit kabur. Perlahan-lahan kugerakkan tubuhku yang terasa kaku, seluruh tubuhku terasa sakit.
Aku mencoba berdiri walaupun dengan sedkit terhuyung. Aku memandang sekeliling, ternyata aku berada di dapur.
"awwwww...!" Keningku terasa sakit saat ku sentuh.
Aku kemudian berjalan tertatih-tatih menuju kamar, mas Ringgo ternyata benar-benar menghajarku. Aku sampai pingsan di dapur dan dia tidak membantu menyadarkanku.
'benar-benar keterlaluan.' Aku bergumam geram dalam hati.
Dia sekarang sudah berubah, bukan lagi Ringgo yang dulu bersamaku. Aku tak lagi berkuasa atas dirinya dan tak bisa membuatnya menuruti semua permintaanku.
Setiba di kamar, aku duduk di tepian ranjang. Aku melihat ke arah jarum jam yang tergantung di dinding kamarku, ternyata menunjukkan jam setengah dua.
Ternyata belum pagi, aku kemudian menoleh ke ranjang tidak ada mas Ringgo di sana. Aku bangkit berdiri, tubuhku masih sakit semua terutama pada bagian keningku.
Aku berjalan mendekati cermin, kulihat pantulan wajahku di sana. Aku melihat dengan jelas di sana, keningku membiru kehitaman bekas mas Ringgo benturkan tadi.
'ishhhhh....!'
Aku mecoba mengusap luka memar itu, ternyata sangat sakit sekali. Mas Ringgo bener-benar keterlaluan, dia tega berbuat kasar seperti ini padaku. Dia tidak seperti dulu lagi, aku tidak mengerti apa yang membuatnya berubah.
'apa dia ingin kembali bersama mantan istrinya?' pikiranku mulai menebak dan menerka-nerka, kemungkinan apa yang membuat mas Ringgo berubah.
'kemungkinan itu besar, sekarang mantan istrinya itu bukan lagi wanita biasa tapi anak seorang pengusaha dan cantik pula. Aku kalah saing dengannya sekarang. Apa yang harus ku lakukan sekarang?' Aku bermonolog sendiri dalam hati rasa khawatir akan kehilangan mas Ringgo mulai mendera hatiku.
__ADS_1
Aku terus memandangi pantulan wajahku di cermin, wajahku kusut dan acak-acakan. Hatiku cemas, aku takut memikirkan semua yang akan menimpaku.
Aku sangat takut Ringgo akan kembali bersama mantan istrinya, karena kemungkinan sangat besar. Rianti sekarang bukan lagi wanita lemah seperti dulu hingga dengan begitu mudah kusingkirkan.
Dulu, Rianti hanyalah seorang istri tanpa kelebihan apapun. Dia hanyalah seorang wanita yang mengurus rumah tangga yang mengharapkan penghasilan suami. Dia tidak pandai merawat diri, kumal dan polos.
Tapi siapa sangka, wanita yang dulu ku anggap bodoh dan tak berdaya itu berubah dalam sekejap. Rianti sekarang menjelma menjadi ratu yang sesungguhnya, bukan hanya sebatas nama seperti nama yang tersemat di diriku.
Kegelisahan hatinya semakin membuncah, aku semakin tak tenang. Aku mencari keberadaan Ringgo ke setiap sudut rumah, namun tidak menemukan laki-laki yang telah sah menjadi suamiku itu.
'sekarang, apa yang harus kulakukan?' Aku mulai terisak dalam tanginnya, seraya meremas rambut dengan kedua tangannya.
Aku merasa bingung, takut serta gelisah. Aku menangis sesunggukan, berusaha melepaskan sesak yang menghimpit dalam hatiku. Entah berapa lama menangis hingga akhirnya, aku merasa lelah.
Aku bangkit berdiri tujuannya cuma satu, ingin membaringkan tubuhku yang terasa sangat lelah dan letih.
Setiba di kamar, aku langsung membaringkan tubuh lelahnya. Tidak ada proses bersih-bersih atau cuci muka seperti yang biasa kulakukan.
Aku teringat saat pertama jumpa dengan Ringgo, dia begitu mempesona dengan penampilannya yang perfeck dalam pandangannku. Ringgo begitu rapi dan perfecksionis, punya mobil dan pastinya berduit.
Sejak saat pertemuan pertama itu, aku berusaha keras menarik perhatian Ringgo. Aku tak peduli dengan statusku waktu itu yang masih menyandang gelar istrinya Aldo, mantan suamiku.
Aku mulai melancarkan berbagai macam cara, termasuk melakukan hubungan intim bersama pria incarannya itu. Akhirnya, Ringgo jatuh ke dalam pelukanku, hingga mampu menggeser posisi Rianti di hati mas Ringgo.
Aku mulai berusaha mendominasi, menguasai hati dan pikiran Ringgo. Aku mulai memoroti namun Ringgo tak menolaknya, dia terus menuruti semua keinginananku sebagai wanita selingkuhannya.
Pengaruhku yang kuat, membuat Ringgo lupa untuk membahagiakan istri sahnya. Aku sangat bangga dengan sikap dan perhatian Ringgo padaku.
__ADS_1
Akhirnya perselingkuhan kami terbongkar, Rianti menggugat cerai Ringgo dan suamiku, Aldo menceraikanku. Aku waktu itu tidak merasa takut dan sedih sama sekali, malahan sangat bahagia karena akhirnya apa yang kuinginkan dapat kuraih.
Aku merasa sangat bahagia karena akhirnya Ringgo menjadi milikku seutuhnya. Aku menjadi satu-satunya ratu di hati Ringgo seprtibyang di inginkannya selama ini.
Tapi, aku sungguh terkejut mendapati kenyataan yang tidak sesuai dengan yang di fikirkannya selama ini. Ringgo tak sekaya yang kufikir selama ini.
Rumah mewah dan besar yang selama ini ditempati Ringgo dan Rianti, bukanlah milik Ringgo tapi harta peninggalan mendiang ibunya Rianti. Rianti mengusir kami dari rumahnya hingga terpaksa mengontrak di rumah kontrakan yang sempit yang sekarang kutempati.
'ternyata kau penipu, mas. Aku sangka hidupku akan senang bersamamu tapi ternyata lebih menderita.' aku bergumam dalam hatinya, kecewa sekali Ringgo yang sekarang menjadi suaminya.
'kalau, aku tahu akan jadi seperti ini, lebih baik aku hidup bersama Aldo. Setidaknya, aldo memiliki penghasilan dan rumah untuk kutempati.' aku terus bergumam dalam hati, dai mulai membandingkan kehidupannya.
Penyesalan mulai menyeruak dalam hatiku, dulu waktu bersama Aldo hidupku tidak kekurangan walaupun tidak dalam kemewahan. Aldo memcukupi kebutuhan hidupku walau harus hidup berjauhan. Dia selalu mengirimkan uang untukku.
Hanya satu hal yang tidak terpenuhi, yaitu kebutuhan bathin. Aldo yang bekerja di luar kota tidak bisa memberikan nafkah batin sepenuhnya. Aldo hanya pulang sekali dalam sebulan dan hanya seminggu. Begitulah perasaanku, sewaktu aku tahu kebenarannya.
Pikiranku terus mengelana kian kemari tanpa ujung, aku terus mengumpulkan dan mengenang setiap peristiwa yang terjadi. Satu persatu ingatan itu bermunculan, dan menjelma dalam ingatan.
Akhirnya, aku tertidur dengan segala ingatan yang masih terus bermunculan hingga terbawa larut dalam mimpi. Aku sekarang tak lagi bahagia bahkan dalam mimpipun semua kenangan itu terus menghantuinya.
Penyesalan demi penyesalan terus menampakkan rupa di hatiku, aku jatuh kedalam jurang penyesalan terdalam namun apa daya kini telah terjebak di dalamnya. Kini hanya ketakutan dan kegelisahan yang akan menemaniku, dia sangat takut kehilangan Ringgo.
Aku tersentak dari tidurnya kemudian menoleh ke jam yang tergantung di dinding kamarnya. Alangkah terkejutnya, ternyata sudah jam sepuluh siang.
Aku segera bangkit hendak keluar kamar namun kepalanya terasa sangat pusing. Aku kembali duduk sebentar untuk meredam rasa pusingnya, setelah pusingnya sedikit reda pelan-pelan bangkit dan berjalan.
Aku segera mencuci muka dan membersihkan diri sekenanya. Aku kemudian menuju dapur untuk mencari makanan karena rasa lapar telah merongrong perutnya.
__ADS_1
Aku teringat semalam memasak namun belum memakannya. Sejenak hatiku merasa lega, karena bisa mengisi perutnya yang lapar secepatnya.
Aku bergegas memasukkan makanan itu kepiring dan membawa makanan itu ke meja makan. Aku kemudian melahap makanan yang ada di hadapannya. Tapi...........