
Plok! Plok! Prak!
Akhirnya, mas Roland berhasil membuka lantai keramik tersebut. Aku terperanjat kaget melihat apa yang ada di hadapanku. Aku melihat ada lobang dibawahnya, terlihat ada sebuah kotak di dalamnya.
"kotak apakah itu?" Aku bertanya pada mas Roland, mas Roland hanya menggeleng mendengar pertanyaan yang aku lontarkan padanya.
"mas cepat keluarkan kotak itu, aku ingin melihat isinya."
Mas Roland mengeluarkan kotak itu dari lobang dan membawanya keruangan tengah. Aku memperhatikan kotak itu yang terlihat masih bagus, sepertinya belum lama di letakkan di sana.
'siapa kira-kira yang menaruhnya ya?' aku bertanya di dalam hati.
"ayo mas, kita buka sekarang. Aku benar-benar penasaran ingin mengetahui isinya"
"sabar sedikit dik, kamu lihat sendiri kotak ini di gembok." mas Roland berkata seraya memperlihatkan gembok yang terpasang.
"aku tidak punya kuncinya mas, bagaimana kalau kita buka paksa dengan menggunakan palu."
"boleh juga, cepat ambil palunya dik." mas Roland menyuruhku mengambil palu, aku bergegas mengambilnya karena rasa penasaranku semakin tidak terbendung.
"ini mas." aku menyerahkan palu pada mas Roland, mas Roland segera memukul gembok dengan sekuat tenaga.
Prang!
Seketika gembok terbuka, aku segera mengambil kotak tersebut dari mas Roland. Aku membongkar isi kotak tersebut satu persatu, betapa herannya aku melihat isinya.
Benda pertama, aku menemukan sepasang baju anak perempuan berwarna biru muda berhias renda warna pink. Aku memperkirakan baju itu, baju anak berusia dua tahun.
Ketika aku menggoyang-goyangkan pakaian itu, terlihat sebuah benda terjatuh dari pakaian itu. Aku memperhatikan dan memungut benda itu ternyata benda itu sebuah kalung rantai berhiaskan tiga huruf yaitu huruf R,P dan S.
__ADS_1
"aku yakin sekali, semua ini pasti bunda yang memasukkan. Tapi, aku tak mengerti mengapa bunda mesti menyimpannya sejauh ini." Aku tersenyum bercampur heran dengan yang dilakukan bunda, kemudian aku meletakkan baju dan kalung itu begitu saja di dekat mas Roland.
Tanpa kuduga, mas Roland terlihat tertarik melihat baju dan kalung itu. Dia terlihat memperhatikan dengan wajah serius.
"bunda memang begitu orangnya mas, beliau akan menyimpan sesuatu yang beliau anggap ada nilai sejarahnya. Mas jangan heran melihatnya karena itu bukanlah hal yang mencengangkan" Aku berkata seraya tertawa kecil mencoba bercanda tapi mas Roland malah semakin serius melihat kedua barang tersebut.
Aku kemudian membongkar barang lainnya yang ada di dalam kotak, ternyata ada beberapa map berisi lembaran-lembaran kertas. Aku membuka map-map tersebut, sepertinya kertas-kertas penting karena di sana setiap kertasnya dibubuhi materai dengan tanda tangan di atasnya.
Walaupun melihat dengan sekilas dan tanpa membacanya, aku bisa memastikan semuanya berkas penting.
"Aku akan membacanya nanti, kira-kira ada apalagi di dalam kotak itu?" Aku meletakkan map-map tadi di dekat mas Roland, kemudian aku kembali melongok kedalam kotak.
Aku melihat benda terakhir, yaitu sebuah amplop berisi surat dan sebuah hard disk. Aku bergegas membuka plastik tersebut dan mengambil amplop yang ada di dalamnya. Aku benar-benar penasaran, mungkin surat ini bisa memberi jawaban atas rasa penasaran yang semakin menggunung di hatiku.
Aku segera membuka surat itu dan membacanya, tatkala aku melihat yang tertulis di sana aku malah dibuatnya semakin penasaran.
[Teruntuk buat putri bunda tersayang dan satu-satunya Rianti.
Kalau kamu ingin tahu semuanya, kamu bisa melihat isi hardisk ini. Oh ya nak, bunda telah membuat surat wasiat dan semua yang dirasa perlu, untuk penjelasannya kamu bisa menemukannya di dalam hardisk ini]
Aku benar-benar semakin penasaran, karena isi surat hanya seperti itu. Aku hanya menggeleng kepala seraya menelan ludah karena rasa penasaranku belum mendapat jawabannya.
Aku memasukkan kembali surat itu ke dalam amplopnya, sejenak kemudian aku memandang hardisk yang ada di tanganku.
'aku akan melihat isi hardisk ini nanti saja, sekarang sebaiknya aku simpan dulu.' Aku kemudian memasukkan kembali surat-surat dan hardisk itu ke dalam kotak.
Tengah asyik memasukkan semuanya ke kotak, mas Roland tiba-tiba memelukku. Aku merasa heran dengan pelukan mas Roland karena pelukan itu begitu erat.
"ada apa mas?"
__ADS_1
Mas Roland tidak menjawab pertanyaan yang aku berikan padanya, dia malah semakin memperkuat pelukannya kepadaku. Untuk sesaat, aku membiarkan mas Roland memeluk tubuhku.
Aku merasa senang dipeluk oleh mas Roland walaupun ada perasaan heran di hatiku. Mas Roland memelukku dalam waktu yang cukup lama, sampai nafasku terasa sesak dibuatnya.
"Ada apa mas, kok memelukku begitu erat?" Aku kembali berkata, tak beberapa lama kemudian mas Roland melepaskan pelukannya dariku.
Setelah melepaskan pelukannya dariku, mas Roland sekarang menatapku dengan tatapan yang begitu serius. Aku semakin heran melihat tatapan mas Roland, dia menatap ku dengan mata berbinar tapi air matanya malah berlinang.
'mas Roland terlihat aneh sekali, aku harus bagaimana ya.' Aku membatin dalam hati, tidak bisa aku pungkiri aku agak risih ditatap sedemikian rupa oleh mas Roland.
"mas ada apa? Kamu jangan nakuti aku dong." Aku menggoda mas Roland berusaha memecah suasana yang semakin serba salah bagiku.
"ternyata benar dugaan mas selama ini dik."
"maksud kamu apa mas aku semakin tak mengerti?" Aku kembali bertanya, ingin mendengar jawaban mas Roland.
"mas telah menemukan orang yang selama ini mas cari dik, ternyata benar kamu adalah Rianti adik kandung mas yang telah lama hilang." mas Roland berkata dengan suara lembut, matanya terlihat berkaca-kaca.
"apa kamu benar-benar yakin aku adalah adikmu yang hilang mas? Bagaimana kalau dugaan kamu itu salah?" Aku kembali bertanya pada mas Roland, aku memberanikan diri menatap jauh kedalam matanya. Aku mencoba menyelami perasaan mas Roland melalui matanya.
"mas yakin sekali dek, mas yakin 100%." Mas Roland berkata dengan suara terdengar mantap sekali penuh keyakinan, sepertinya tidak ada keraguan dalam kata-katanya itu.
Aku merasa sangat senang mendengar jawaban mas Roland, tidak bisa dipungkiri aku mulai berharap semua yang mas Roland katakan itu benar."
"dari mana kamu mengambil kesimpulan kalau aku adik kandungmu mas?" Aku kembali melontarkan pertanyaan, aku ingin tahu alasan mas Roland.
"dari kedua benda ini dik. ketika Rianti menghilang dia memakai baju dengan motif dan warna seperti baju ini. Kamu tahu gak dik, mas juga memiliki kalung yang sama persis dengan milik kamu."
"mas juga miliki kamu yang sama persis dengan kalung ini mas?" Aku kembali bertanya dengan sangat antusias, ini benar-benar membuatku merasa penasaran.
__ADS_1
"iya dik, mas mempunyai kalung yang bentuk dan inisialnya sama persis dengan yang kamu miliki. Bukankah, kita memiliki nama dengan inisial yang sama. R untuk Rianti dan R untuk Roland." mas Roland menjelaskan alasannya, aku mengerti sekarang.
Aku benar-benar bahagia dan bersyukur, sekarang aku tidak sebatang kara lagi, ternyata aku masih keluarga tempatku bersandar dan mengadu.