
"Ratu, kamu seksi sekali. aku baru sadar kalau kamu begitu menggairahkan" mas Aldo terlihat tersenyum menyeringai, dia memandangi satu persatu foto yang ada di ponselku.
Aku melihat senyum menyeringai mas Aldo membuat bulu kudukku berdiri, bergidik ngeri menyaksikannya. Walaupun sekarang dia sedang tersenyum, tapi aku melihat roman mukanya sungguh menakutkan.
"kamu benar-benar keterlaluan Ratu, aku tidak menyangka kamu begitu hina. Selama ini aku selalu memenuhi kebutuhanmu ternyata aku tidak bisa memenuhi kebutuhan batin kamu, sehingga kami meminta pada suami orang" mas Aldo berkata dengan amarah yang sangat luar biasa setelah menyaksikan Vidio yang berisi pembicaraan antara Ratu dan mas Ringgo di rumah makan kemaren.
Aku hanya diam menyaksikan dan mendengarkan mas Aldo bicara, aku merasa takut ketika melihat perubahan sikapnya. Mas Aldo terlihat begitu menyeramkan, tatapannya dingin tak bersahabat bagaikan elang yang siap menyantap mangsanya. Ternyata mas Aldo yang sekarang lebih menakutkan dari Aldo yang dahulu.
"apa selama ini kamu kurang bahagia bersamaku Ratu? Ternyata, kamu bukanlah tipe wanita yang puas dengan satu pria. Maafkan selama ini, aku tidak mengerti keinginanmu. Tapi sekarang, aku akan memberikan apa yang kamu mau. Malam ini kita berpesta, aku akan puaskan nafsu binatang kamu." mas Aldo berkata dengan nada dingin, tatapan matanya tajam bagai menusuk hati.
Aku benar-benar makin takut mendengar kata-kata mas Aldo, walau dia tidak menujukan perkataannya kepadaku tapi aku bisa merasakan sisi terburuk mas Aldo telah muncul. Aku mundur beberapa langkah sekedar mengurangi rasa takut yang mulai menyerang diriku.
"Rianti kamu mau kemana? apakah kamu takut kepadaku?" Mas Aldo bertanya seraya memandang dengan tatapan dinginnya, aku makin gugup tapi aku berusaha tetap tenang walaupun aku merasa tubuhku mulai gemetaran.
"aku tidak takut sama sekali kepadamu, aku hanya ingin keluar untuk memberi waktu kepada kalian berdua untuk bicara." Aku berkata sekedar menutupi perasaan, padahal aku sebenarnya benar-benar takut.
Mas Aldo kembali tersenyum kepadaku, aku makin merasa aneh melihat senyumnya. Aku ingin rasanya pergi dari hadapannya, tapi aku masih punya urusan dengan mereka. Akhirnya, aku bertahan walaupun hatiku makin ciut karenanya.
__ADS_1
"Rianti ternyata kamu tidak pernah berubah, masih seperti dahulu." mas Aldo berkata seraya tersenyum kepadaku, tapi senyumnya tidak mengurangi suasana menakutkan yang ditimbulkannya di ruangan ini.
"tenang Rianti, aku tidak akan memakan kamu. Aku hanya akan mengundang kamu ke pesta kami malam ini. Apakah kamu mau ikut?" Mas Aldo bertanya seraya tersenyum menyeringai ke arah Ratu. Aku melihat sisi dingin dan arogannya, aku pernah melihatnya seperti ini ketika masih pacaran dia begitu menakutkan.
"maaf, aku tidak tertarik dengan tawaranmu, aku hanya ingin kamu menepati janjimu tadi. Aku berharap kamu membuat Ratu mencabut laporannya di kepolisian, kamu harus memastikan hal itu. Aku tidak mau berurusan dengan hukum, jangan sampai namaku cacat selama ini aku selalu berusaha menjaga tindakanku." Aku berkata kepada mas Aldo, mengingatkannya tentang janjinya kepadaku. Aku ingin memastikan dia menepati janjinya.
"Aku pastikan kepadamu, Ratu akan mencabut laporannya hari ini juga. Kamu bisa pegang janjiku, aku tidak akan mengingkari janjiku sendiri." mas Aldo berkata memberikan kepastian, aku lega mendengarkannya.
Aku sangat mengenal sifat mas Aldo, kalau sudah berjanji pantang bagi nya untuk mengingkari. Aku merasa lebih tenang sekarang karena tidak perlu berurusan dengan hukum.
"terima kasih mas, aku pegang janji dan kata-katamu mas. Aku tidak akan pernah meminta dan mengingatkan untuk kedua kalinya kepadamu. Aku harap menepati janjimu, aku sangat sangat mempercayai kamu mas.Aku berkata seraya berbalik hendak meninggalkan ruangan itu.
"yakin tidak ikutan pesta dengan kami." mas Aldo kembali bertanya seraya memandang dengan tatapan aneh. Aku semakin bergidik ngeri, tidak sanggup membayang kan apa yang akan dilakukan mas Aldo nanti.
"Aku harap kamu tidak melampaui batasan kamu kamu, tetaplah bertindak sewajarnya. aku harap kamu tidak menyesal nantinya, cuma mengingatkan saja." Aku berkata, kulihat Ratu semakin ketakutan.
"kamu tenang saja Rianti, aku akan bertindak sesuai dengan apa yang pantas dia dapatkan." mas Aldo berkata dengan nada dingin seraya tersenyum menyeringai. Dia menatap Ratu dengan pandangan yang tajam menusuk kalbu, benar-benar menyeramkan.
__ADS_1
"oh ya mas kembalikan ponselku, kamu sudah puas menyaksikannya bukan!" Aku berkata seraya menyodorkan tanganku kepadanya, kemudian mas Aldo memberikan ponselku kembali kepadaku tapi sebelumnya dia menuliskan sesuatu di ponselku.
"itu nomor ponselku, kamu bisa hubungi aku kapanpun kamu membutuhkanku." dia berkata dengan nada lembut seraya tersenyum, tapi senyumannya masih terlihat menakutkan bagiku karena aku kepikiran apa yang aku lakukan mas Aldo kepada Ratu.
"baiklah, aku akan menghubungi kamu lagi mas." aku segera berlalu dari ruangan itu, sekarang aku sudah menyelesaikan tugasku, biar mas Aldo membereskannya. Aku yakin bisa memaksa Ratu untuk mencabut laporannya.
Sepanjang perjalanan menyusuri lorong rumah sakit, aku masih kepikiran dengan apa yang akan dilakukan kepada mas Aldo. Aku khawatir mas Aldo akan melakukan hal yang melampaui batas, mengingat sikap dingin yang ditunjukkan mas Aldo tadi menyimpan bara api yang siap membakar siapa saja.
Ratu pasti tidak akan selamat dari amukan mas Aldo, jika mas membuat perhitungan kepadanya. Aku tidak mau mas Aldo akan berbuat hal yang merugikan dirinya sendiri karena bagaimanapun juga, aku pernah sangat mencintai dirinya.
'semoga saja, mas Aldo tidak sampai membunuh Ratu.' aku berkata pada sendiri, berdoa dalam hati semoga mas Aldo dapat mengendalikan dirinya nanti.
Aku sedikit menyesal melibatkan mas Aldo dalam masalahku dengan Ratu, dilihat dari sudut manapun tidak ada hal yang baik terdapat disana. Tapi semua itu bukanlah keinginanku, Ratu yang membuatku bertindak begitu karena tadinya dia menolak permintaanku untuk mencabut laporannya.
Aku tidak mau berurusan dengan hukum karena aku tahu itu akan membuat namaku menjadi gunjingan orang nantinya selain itu pasti akan banyak menyita waktuku. Itulah sebabnya, aku selalu menghindari perbuatan yang dapat menyeret diriku ke ranah hukum.
Dalam perjalananku menyusuri lorong rumah sakit, aku melihat sekilas bayangan yang telah lama tidak lihat. sejenak, aku merasakan rasa rindu menyelinap di hatiku. Aku yang telah berjalan melewatinya, mundur beberapa langkah untuk melihatnya.
__ADS_1
Ternyata benar, dia mas Roland laki-laki yang menjadi tukang ojek yang menjadi langgananku selama ini. Entah kenapa, aku merasa ada rasa rindu di dalam hatiku terhadap dirinya.