
POV Roland bagian 3
"mbak Ayuna cantik ya mas?" Rianti bertanya, dia mengejutkanku hingga tersadar dari lamunanku.
Aku segera menoleh ke arahnya, dia terlihat senyum-senyum saja. Aku mendadak merasa jengkel melihat kelakuannya adikku itu.
Tidak disangka, dia sekarang membalikkan keadaan, dia menemukan sesuatu untuk meledekku. Aku hanya diam menerima sindiran dan ledekan dari adik kesayanganku itu.
Aku senang ketika transaksi jual beli tidak langsung jadi, kami akan kembali ke rumah pak Roman besok. Rianti ternyata punya jiwa bisnis, dia mampu menguasai keadaan ketika semua lepas dari kendaliku.
Aku berharap besok bisa bertemu dengan gadis cantik yang telah berhasil mencuri perhatianku itu, semoga saja dia berada di rumah ketika kami ke rumahnya nanti.
Tidak berapa lama, kami sampai di rumah. Aku segera pamit kepada Rianti, segera masuk ke kamar. Aku tidak ingin Rianti tahu apa yang aku rasakan dan dia kembali meledekku.
Malam ini, aku tidak bisa memejamkan mata, pikiranku terus menerawang jauh ke sana. Aku tidak bisa membuang dan mengusir bayangan gadis itu dari kepalaku, dia terus saja menari-nari di pelupuk mataku.
Senyumannya begitu manis, aku tidak bisa melupakannya. Aku merasa malam ini begitu panjang, tidak sabar rasanya pagi menjelang. Aku merasa tiap detik malam ini begitu lama, entah apa yang terjadi padaku bayangan gadis itu terus saja menggangguku.
Setelah sekian lama berkelana dalam lamunan akhirnya aku tertidur.
Aku terperanjat ketika bangun, ternyata jam sudah menunjukkan jam delapan pagi. Aku buru-buru menyambar handuk lalu segera menuju kamar mandi.
Aku harus segera berangkat ke kantor, karena ada janji dengan klien penting jam setengah sembilan. Aku mandi kilat karena buru-buru yang penting wangi.
Aku harus meninggalkan kesan sempurna ketika bertemu dengan klien. Aku selama begitu memperhatikan penampilanku, karena penampilan adalah penunjang suatu keberhasilan.
Tapi saat ini semua itu tidak berlaku, aku buru-buru sekali. Aku tidak mau terlambat karena meeting pagi ini sangatlah penting bagi kemajuan perusahaanku.
Aku segera keluar kamar setelah selesai selesai merapikan diri sekenanya. Aku bergegas mengambil kunci motor karena tidak mungkin lagi mengendarai mobil ke kantor.
Ketika berpapasan dengan Rianti, dia terlihat kaget dan tersenyum kecil ke arahku. Aku tidak memiliki waktu untuk mengomentari sikapnya itu, aku terus berlalu darinya.
__ADS_1
"mas tunggu sebentar, kamu mau kemana?"
"mas akan ke kantor dik, nanti kita bicara lagi ya. Mas buru-buru, sudah terlambat ." Aku menyahut ketika menaiki motorku.
"tapi mas, kamu dengarkan aku dulu bajumu itu...."
"sudahlah dik. Kamu jangan bicara terus, Mas sudah terlambat ke kantor, mas ada meeting penting." Aku menstater motor dan menggas dengan keras, tidak ada waktu menhangatkan mesinnya terlebih dahulu.
"mas bajumu itu kebalik, kamu harus........" Aku tidak bisa mendengar kelanjutan kata-kata Rianti, selain karena suara motor yang berisik, aku juga sudah berlalu pergi dengan mengendarai motorku.
Aku mengendarai motor dengan kecepatan yang tidak seperti biasanya. Kali ini, aku agak ngebut tidak ingin terlambat.
Tidak berapa lama, aku sampai di kantor. Aku berjalan buru-buru fokus dengan langkahku. Aku merasa ada yang janggal karena beberapa orang yang melihatku, mereka terlihat tersenyum.
Aku menoleh ke arah mereka, mereka terlihat senyum-senyum kemudian tertawa. Aku tidak mengerti dengan sikap mereka, karena terburu-buru aku tidak ambil pusing dengan semua itu.
Setelah sampai di ruanganku, Aku melihatku asistenku sudah duduk di mejanya. Dia tengah asyik mengetik sesuatu, aku berdehem beberapa kali agar dia mengetahui aku sudah berada di sana.
"kenapa kamu ketawa Roni? Kamu bisa berhenti tidak, aku kesal melihat kamu tertawa begitu." Aku berkata dengan perasaan gusar, melihat asistenku itu terus tertawa sampai-sampai airmata keluar di sudut matanya.
Aku benar-benar kesal padanya, jangankan berhenti, tawanya semakin menjadi. Aku benar-benar heran melihat tingkahnya, baru kali ini aku melihatnya begitu.
Aku segera melangkah ke meja kerjaku, mengambil berkas-berkas yang di butuhkan untuk meeting. Ketika hendak berjalan keluar ruangan, seketika Roni berhenti tertawa.
"Roland, kamu yakin akan menemui klien dengan penampilan seperti ini?" Roni bertanya, aku heran mendengar pertanyaannya.
Aku menoleh ke arahnya lagi, dia terlihat senyum-senyum tidak jelas.
"apa ada dengan penampilanku?"
Roni tidak menjawab pertanyaanku, dia berjalan mendekati. Aku tidak mengerti, apa yang akan dia lakukan.
__ADS_1
Dia berjalan seraya terus menatap dan bibirnya terlihat terus tersenyum kepadaku. Lama-lama, aku menjadi risih dan jengkel kepadanya.
"kamu mau apa Roni?" Aku heran melihat dia memutari seraya terus tersenyum.
"kamu sadar gak sih Roland penampilanmu itu sekarang seperti orang baru diusir dari rumah?"
"apa maksudmu?"
"kamu masih bertanya? Sekarang kamu perhatikan penampilan kamu di kaca itu, rambut berantakan, baju terbalik, celana sama baju gak masuk warnanya. ini lagi, ha ha ha." Dia tertawa lepas, aku seketika memandang penampilanku di cermin.
"argh" aku kaget melihat penampilanku, aku benar benar berantakan. Untung saja, aku bertemu Roni sebelum meeting.
Aku tersenyum menatap bayanganku, benar-benar memalukan dan menggelikan. Aku segera membuka baju kemeja yang di kenakan kemudian memakainya dengan benar.
Setelah semua selesai, aku kembali memeriksa dan mematut diri di cermin. Aku tidak ingin ada kesalahan lagi, pantas saja semua karyawanku tertawa melihat penampilanku tadi.
Aku kemudian menemui klien di ruang meeting, berharap semua berjalan lancar sesuai dengan harapanku. Ternyata, harapanku terkabul, proyek yang menjadi incaranku berhasil ku dapatkan.
Aku tersenyum puas, ingin segera pulang merayakan keberhasilanku dengan adik dan mamaku. Aku tak mau kembali ke ruanganku karena tidak ingin mendengarkan ledekakan Roni, asisten sekaligus temanku.
Aku juga punya janji dengan Rianti akan menemaninya menemui pak Roman kembali.
Betapa bahagia dan senangnya hatiku, aku berharap bisa bertemu kembali bertemu dengan Ayuna. Aku benar-benar tergila-gila padanya, dia berhasil menjeratku dengan segala pesona yang dimilikinya.
Aku bergegas pulang, tidak sabar rasanya segera tiba di rumah. Setiba di rumah, aku segera menemui mama dan Rianti, rupanya mereka sedang asik bersenda gurau. Aku sangat bahagia melihat pemandangan itu, tidak terasa air mata mengalir di sudut mataku.
Aku segera menghampiri mereka berdua, tidak lupa menyalami dan mencium punggung tangan mama. Aku merasa mama sudah jauh lebih baik sekarang, beliau lebih banyak tersenyum sekarang.
Sungguh luar biasa dampak kehadiran Rianti terhadap kesehatan mama, Aku sangat bersyukur karena adikku yang sudah lama hilang sekarang kembali pulang.
Aku berjanji dalam hatiku, tidak akan membiarkan dia terluka dan menderita lagi.
__ADS_1
.