
'akhirnya, aku bisa menyelesaikan semuanya sebelum mas datang menjemputku.' aku tersenyum puas karena pekerjaan beres-beres rumah sudah selesai aku kerjakan.
Aku memandang sekeliling, semua sudah tertata rapi seperti yang aku inginkan. Aku senang sekali melihatnya, kamar utama yang biasa aku gunakan untuk memadu kasih dengan mas Ringgo telah beralih fungsi menjadi gudang.
Mulai saat ini, tidak ada lagi Mas ringgo dan kenangan tentangnya. Aku telah membuang jauh semua hal yang berkaitan dengannya.
Aku duduk sesaat sekedar untuk menghilangkan rasa lelah dan penat yang mendera tubuhku. Aku merenungkan kembali semua yang terjadi. Memang benar kata orang, kita janganlah terlalu mencintai sesuatu hingga cinta itu membutakan mata.
'aku iklas menerima takdirku, ya allah' gumamku lirih di akhir lamunanku. Aku benar-benar bersusah payang untuk melupakan setiap goresan luka yang menyayat relung terdalam di lubuk hatiku.
Aku mencoba menutup luka tanpa adanya cucuran airmata dengan melihat hal baik yang mendekati dan menghampiri diriku.
Aku harus menyadari air mata tidak akan mampu merubah apapun, percuma aku buangnya sia-sia hanya untuk menangisi kehilangan seorang suami yang hanya mampu menghadirkan penderitaan di dalam hidupku.
Di atas luka yang menyayat hati, aku masih bersyukur karena kebahagiaan lain masih datang menghampiriku. Allah masih memberikanku jesempatan untuk bertemu dengan keluarga kandungku. Ternyata, aku tidak sepenuhnya menderita karena di balik penderitaanku, kebahagiaan lainpun datang menyapa.
'Kalau dipikir-pikir, aku malah beruntung kehilangan pecundang bahagiapun datang.' Aku tersenyum sendiri, jalan hidupku bagaikan kisah dalam sinetron yang tayang di salah satu saluran televisi yang ada di negeri ini.
'sudah jam lima, aku harus segera bersiap.' Aku menatap jam dinding ternyata sekarang sudah menunjukkan jam lima sore. Itu artinya, aku harus segera bersiap karena mas roland pasti datang menjemputku sebentar lagi.
Aku segera bangkit kemudian beranjak menuju kamar mandi. Tidak menunggu lama, aku memulai ritual mandiku. Aku merasa rasa penat berangsur hilang ketika air mengguyur dan membasahi tubuhku.
Tidak beberapa lama, aku sudah selesai mandi. Tubuhku sekarang terasa segar, tenagaku mulai pulih kembali.
kriuuuuuuk! kriuuuuk!
Aku mendengar jeritan lapar dari perutku, dia demo monta diisi. Aku baru ingat tadi tidak makan siang, karena terlalau berambisi untukemyelesaikan pekerjaan secepat mungkin.
Aku segera memesan makanan secara online, seraya menunggu lanjut mempersiapkan diri. Aku ingin mas roland tidak memunggu la ketika menjemputku nanti.
Aku memakai baju terbaik dan termahal yang aku miliki. Aku menatap sejenak sebelum memakainya, rasanya sudah saat aku memberikan apa yang diriku butuhkan saat ini.
__ADS_1
Aku tidak akan pelit lagi pada diriku sendiri, aku sekarang bukanlah Rianti yang dulu lagi. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk diriku karena aku memang pantas mendapatkannya.
Aku kemudian memberi riasan pada wajahku, hal yang jarang aku lakukan dahulu. Aku dulu tidak mampu merias diri sebaik mungkin karena tidak punya uang untuk membeli semua kebutuhanku.
Aku cuma mampu beli bedak berapa bulan sekali setelah menyisihkan sedikit demi sedikit uang belanja yang di berikan mas Ringgo. Aku menyadari kebodohanku dahulu, terlalu berusaha memahami keadaan mas Ringgo. Aku tidak sadar sama sekali telah dibohongi mentah-mentah olehnya.
Tapi kini, aku bisa berbuat dan memanjakan diriku sepuasnya. Sekarang, aku tidak perlu berhemat lagi karena memiliki kemampuan untukendapatkan yang aku butuhkan.
Setelah selesai merias wajah akupun teringat kalau aku pernah membeli perhiasan. Aku kemudian mengambil dan segera memakainya. Setelah Ritual menghias diri selesai, aku mandang wajahku di cermin.
Aku pangling dan sempat tidak mengenali pantulan diri di sana, aku berubah seratus persen. Aku sudah seperti artis yang lagi kehilangan pentas,aku terlihat anggun dan cantik sekali.
'Apa benar ini aku? Apa cermin ini tidak salah, kok aku bisa cantik begini?' aku tersenyum ketika sadar telah memuji diriku sendiri.
"hai cermin ajaib, tolong katakan siapa wanita tercantik di rumah ini? Aku bertanya sendiri.
"tentu saja nona kamu yang tercantik karena hanya kamu yang ada di rumah ini" aku menjawab sendiri seraya tertawa terbahak-bahak.
Sedang asik mematut diri di cermin, aku mendengar suara klacson mobil dari luar. Aku senang sekali karena sudah bisa dipastikan itu pasti suara mobil mas Roland,aku sudah kenal betul dengan suaranya.
aAku bergegas keluar kamar,dengan setengah berlari aku segera membukakan pintu buat mas Roland.
"mas, kamu sudah datang? Aku bertanya seraya tersenyum padaas roland.
"ya sudah dik, kamu pikir yang datang siapa? Pangeran impianmu." mas Roland berseloroh seraya tertawa lepas.
"oh bukan pangeran impian mas, tapi tadi aku pikir mahkluk tak kasat mata yang datang." Aku membalas seraya tersenyum, mas rolandpun terlihat tersontak mendengarkannya.
"kamu ya dik!" Mas rolad menghampiriku kemudian mengacak lembut rambutku, betapa bahagianya saat mendapat perlakuan hangat darinya.
"kita berangkat sekarang dik?
__ADS_1
"tunggu dulu mas. Aku menunggu makanan yang tadi kupesan."
"kamu belum makan dik?"
"belum mas,aku baru saja selesai beres-beres. Kita menunggu di dalam saja mas, ayo silahkan masuk." Aku mempersilahkan mas Rolang masuk, dia mengangguk kemudian segera mengikutiku.
"eh sudah beres smuanya ya dik? Kamu mengerjakannya sendiri?" Mas roland terlihat tercengang karena yang kemaren kami tinggalkan sekarang sudah tertata rapi.
"iyalah mas, memangnya kenapa? Kok kamu terlihat heran begitu?"
"tidak sangka, tubuh boleh kecil tenaganya besar udah kayak samson samson saja tenaga kamu dik."
"sudah sadar sekarang kan mas, jadi mulai sekarang kamu jangan remehkan kekuatan wanita. Kamu harus tahu, wanita itu tidak selemah yang kaun pria pikirkan."
"ya ya, terserah kata kamu sajalah dik,kamu memang pintar mengolah kata."
"mas roland memuji tapi terdengar menyindir bagiku. Ternyata,dia aslinya menyevalkan juga.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum!"
Aku bergegas membuka pintu, ternyata makanan yang aku pesan sudah sampai. Aku segera menerima dan membayarnya.
Setelah transaksi selesai, aku segera membawa makanan ke meja makan. Aku segera menyiapkannya dan mengajak mas Roland makan bersama.
Tak berapa lama makanan telah berpindah ke perutku, nikmat sekali rasanya makan bersama mas Roland. Aku menikmati kebersamaan yang tercipta. Aku bahagia sekali hari ini, karena bisa merasakan kebersamaan yang dulu tidak pernah aku rasakan.
'ya allah betapa besarnya rahmatmu.' aku bergumam dalam hati, sekarang mata hatiku mulai terbuka. Aku harus mengiklaskan segala yang terjadi, aku yakin luka di dalam hatiku pasti sembuh seiring waktu.
Aku menyadari sepenuhnya semua yang terjadi pasti atas kehendakNya. Aku tidak boleh lagi larut dalam kesedihan dan sekarang sudah waktunya bagiku untuk membalikkan keadaan.
__ADS_1
Aku akan meninggalkan masa laluku biarlah menjadi kenangan yang terkubur jauh di dalam lubuk hatiku. Selamat datang masa depan, aku akan berusaha untuk menciptakan kebahagiaan di masa yang akan datang.