
"mama sudah bangun?" Aku bertanya menatap wajah cantik wanita paruh baya yang ketika aku lihat begitu mirip denganku. Dalam hati, aku merasa bahagia sekali mendapati kenyataan ini, aku merasa tidak perlu membuktikannya lagi
"Rianti kamu dari mana? mama cari di kamar kamu tidak ada." Mama bertanya tanpa menjawab pertanyaan yang aku lontarkan sebelumnya, beliau sekarang malah memeluk tubuhku erat seakan tak mau melepaskannya.
"eh anu ma, aku dari belakang." Aku menjawab dengan tergagap, aku tidak tahu bagaimana reaksi mama andai tahu aku masuk kamar tadi. Sebaiknya, aku tak usah mengatakannya.
"Yanti, mama sangat merindukan kamu. Bertahun-tahun mama mencari kamu, tapi kamu tidak dapat mama temukan. Apakah selama ini kamu baik-baik saja nak?" mama berkata seraya mengelus wajahku, aku dapat melihat air mata mama berlinang di pelupuk matanya.
"aku baik-baik saja ma." Aku hanya mampu mengeluarkan kata-kata itu, mulutku bagaikan terkunci.
Aku dan mama menikmati kebersamaan yang tercipta, sungguh luar biasa rasanya. Aku sangat bahagia, serasa penderitaan yang aku alami selama bukan apa-apac dan tidak berarti sama sekali bagiku.
"mas kamu mau berangkat ke kantor ya?" aku bertanya kepada mas Roland ketika melihat mas Roland telah bersiap dan memakai pakaian yang sangat rapi.
"iya dik, mas ada meeting dengan klien pagi ini." Mas Roland berkata seraya ikut duduk bersama aku dan mama.
"tuan sarapannya sudah siap!" seorang pelayan berucap ketika kami tengah asyik berbincang merajut ikatan cinta yang sempat hilang simpulnya.
"oh ya mbak,kami akan segera ke meja makan."
"ma, ayo kita makan!" mas Roland berkata seraya menatap kearah mama tanpa menoleh ke arahku. Aku jadi kesal karena tidak di ajak ikut serta.
"aku gak di ajak mas." Aku berkata dengan sedikit sewot, mas Roland menatap seraya tersenyum.
"mas pikir kamu tidak lapar dik, seharusnya kalau mau makan ya kamu tinggal makan saja. Mas tidak perlu menawarkan karena ini rumahmu sendiri dik." mas Roland berkata seraya berjalan meninggalkanku yang semakin sewot mendengarkan ucapannya.
Aku kemudian mengikuti mas Roland dengan langkah riang, perasaanku sungguh luar biasa senangnya. Suasana hangat yang tercipta bagaikan sinar matahari pagi menyinari hatiku.
Aku menatap ke arah meja makan, ternyata di sana terhidang masakan kesukaanku. Aku seonggok rendang Padang dalam piring yang dalam sekejap langsung mengundang rasa lapar.
"ayo makan dik, jangan dipandangi saja."
"iya mas." Aku menjawab dengan nada canggung, terus terang ini adalah kali pertamanya aku makan bersama dengan mama.
"Rianti sini, duduk dekat mama." mama mengajakku duduk di sebelahnya. Aku menganggukkan kepala.
"Rianti kamu itu harus makan banyak, lihat tuh tubuh kamu sangat kurus." mama berucap seraya mengambil nasi ke piring dan menyodorkan kepadaku.
__ADS_1
"terima kasih ma."
"iya sayang, ayo makan." mama berucap dengan senyuman terkembang di bibirnya.
Sebenarnya, aku tidak begitu lapar tapi karena melihat rendang, makanan kesukaanku seketika membangkitkan nafsu makan ku.
Aku segera mengambil dan meletakkan di piringku. Beberapa saat kemudian, aku mulai menyantapnya. Entah mengapa, aku merasa begitu berselera dalam sekejap makanan di piringku sudah habis. Karena masih lapar, aku kembali nambah nasi dan rendangnya tanpa sadar mama dan mas Roland memperhatikanku.
Aku terus melahap makanan sampe habis, aku benar-benar menikmati sarapanku pagi ini. Aku merasa sarapan kali ini sungguh nikmat.
"arggggh" Aku benar-benar kekenyangan, tanpa sadar aku bersendawa. Aku menatap ke arah mama dan mas Roland, mereka hanya terlihat menggeleng seraya tersenyum.
"maaf." aku berkata seraya menutup mulutku
"hari ini, kamu mau kemana dik? Apa kamu akan istirahat dirumah ini saja dulu?"
"aku akan pulang kerumah yang di sana dulu mas, aku mau membereskan pekerjaanku yang belum selesai." Aku berkata teri gay rumahku yang di sana masih berantakan belum di bersihkan.
"kamu bukannya bari sembuh dari sakit sebaiknya, kamu cari orang untuk membantu membersihkan rumahmu dek."
"mengenai rahasia kamu? mas Roland berkata seraya menatap ke arahku.
"ya." jawabku singkat, aku merasa sekarang tidak ada perlu menyembunyikan rahasiaku dari mas Roland, toh dia kakak kandungku.
"ha ha dik, itu masalah gampang dik."
"maksud mas gampang bagaimana?"
"kamu kan bisa menabung kan semua uang itu di bank?"
"tidak segampang itu mas, aku tak mau meninggalkan jejak dan menimbulkan kecurigaan sekecil apapun. aku tidak mau ambil resiko sedikitpun mas. Aku tidak mau mas Ringgo curiga kalau dia tahu aku mempunyai tabungan segitu banyak setelah aku menggugat cerai kepadanya. Andai dia tahu, dia pasti mencurigai dan menuduhku nanti walaupun tuduhannya tidak salah."
"benar juga yang kamu pikirkan, ternyata kamu pintar juga. Jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
"aku belum tahu mas, aku akan memikirkannya nanti. Aku akan membelikan sesuatu dengan uang itu, walau aku belum tahu apa yang akan ku belikan."
"ternyata, kamu licik juga ya."Mas Roland menyudahi kata-katanya.
__ADS_1
" memuji atau menyindir mas." Aku berkata seraya memanyunkan bibirku.
"ha ha ha." mas berkata seraya tertawa lepas, aku senang mendengarkan walau ada rasa kesal.
"eh mas, apa mas buru-buru?
"mas tidak buru-buru kok, pertemuan dengan klien nanti jam sembilan, dik. memangnya kenapa?"
"aku mau nebeng dengan mobil mas ke rumah, boleh ya mas."
"iya nanti mas antar kamu."
"pak Roland sudah saatnya ibu minum obat."
"oh
tolong ambilkan obat ibu mbok biar saya yang akan meminumnya."
"baik pak."
beberapa saat kemudian wanita tadi datang membawa obat dan memberikannya pada mas Roland.
'ini obatnya pak."
"terimakasih, oh ya mbok kenalkan ini Rianti." mas Roland memperkenalkanku pada wanita itu aku mengangguk seraya tersenyum pada beliau.
"ini mbok Ratmi dik, beliau sudah bertahun-tahun ikut keluarga kita. Beliau sudah mas anggap bagian dari keluarga kita." Mas Roland berkata seraya meminumkan obat pada mama, betapa salut aku pada mas Roland dia begitu perhatian dan bertanggung jawab.
Mama terlihat mengantuk tidak lama setelah meminum obat, akupun mengajak beliau kekamar. hanya beberapa menit saja berbaring mama sudah terlihat tertidur pulas. Aku kemudian keluar kamar dengan hati-hati dan tak lupa menutup pintu.
"mama sudah tidur dik?"
"sudah mas"
" ayo, kita berangkat sekarang. mas akan antar kamu pulang."
"ayo mas." aku mengikuti langkah mas Roland, kami segera meninggalkan rumah dan istana yang baru saja memberikanku kebahagiaan. Aku merasa hatiku dipenuhi kehangatan yang tercipta dari sebuah ikatan cinta yang sudah lama hilang simpulnya.
__ADS_1