
"Apakah segitu besarnya kamu membenciku dek?"
"apa aku pelu menjawab semua pertanyaan sampah yang keluar dari mulutmu itu mas?"
"dek, mas tahu telah sangat menyakitimu tapi apa salah kalau aku masih mengharapkan kata maaf darimu?"
"kamu tidak salah sama sekali mas, tapi aku yang tidak bisa melupakan segala penghinaan yang kau berikan kepadaku. Kamu tahu tidak mas betapa sakitnya ketika mengetahui kamu berbohong dan berselingkuh di belakangku. Betapa pedihnya ketika mengetahui kau memanjakan dia sementara aku berjuang mati-matian dalam segala keterbatasan. Aku yang berusaha orang lain yang memetik hasilnya, itu sangat menyakitkan mas. Kenapa kamu melakukan semua ini padaku mas, kenapa?"
"apakah kamu selama ini tidak pernah memikirkan perasaanku? Aku memang bodoh ya mas, bertanya begitu kepadamu. Tentu saja jawabannya tidak, kamu pasti tidak pernah memikirkannya." Aku terus melontarkan kata demi kata dan tak lupa menghujamkan beberapa pertanyaan yang tida membutuhkan jawaban kepadanya.
Aku merasa cukup dia bicara sok peduli dan sayang padaku, semua yang di katakan sekarang sudah tidak bisa merubah apapun lagi. Aku akan mengatakan apa yang seharusnya dia ketahui untuk terakhir kalinya dan tidak akan pernah akan aku ulangi lagi.
Aku merasa sudah saatnya dia tahu kurasakan saat ini agar dia sedikit tahu diri. Aku akan menjelaskan dan menjabarkan betapa buruknya kelakuannya kepadaku, hingga rasa cintaku tidak mampu bertahan. Rasa cinta itu sekarang sudah pergi dan tidak akan kembali lagi karena dia sudah mati
"mas minta maaf dek. Andaikan ada yang bisa mas lakukan supaya kamu bisa memaafkan semua kesalahan yang telah mas lakukan kepadamu, pasti akan mas lakukan dek."
"kamu tidak perlu melakukan apapun untukku sekarang mas, tidak ada gunanya. Sebaiknya, kamu pergi dan menjauh dariku karena itulah yang terbaik saat ini."
"apakah mas masih boleh datang dan mengunjungimu ketika mas merindukanmu dek?"
Aku tersenyum menyeringai tidak mengerti jalan pikirannya, untuk apalagi dia datang berkunjung kalau sudah tidak adalagi ikatan cinta di antara kami.
"tidak boleh, kamu tidak boleh datang menemui ku lagi karena aku sudah tak menginginkannya. Aku sekarang bukanlah siapa-siapa lagi bagimu dan kamu sekarang sudah menjadi milik orang lain, jadi mulai sekarang kamu harus melupakan dan menjauhiku."
"jangan hukum aku seberat ini dek, kalau sudah tidak mungkin aku menjadi pasangan hidupmu maka jadikanlah aku saudaramu." mas Ringgo berkata dengan suara lembut, dia mendadak bersikap manis dan berkharisma di depanku.
__ADS_1
Aku terdiam dan mencoba mencerna perkataan yang baru saja keluar dari mulut mas Ringgo. Aku tak percaya dia bisa bicara seperti itu sekarang, selama ini dimana dia letakkan segala kebijaksanaan yang dia miliki.
"sebaiknya kamu pulang sekarang mas, aku tidak mau Ratu mencari dan menemukanmu di sini. Aku berharap kamu berhenti jadi masalah dalam hidupku, biarkan aku hidup dengan tenang mas." Aku bicara dengan nada serius seraya menatap kedua matanya.
"andaikan waktu bisa diputar kembali, mas tidak akan pernah membiarkan semua ini berlaku. Mas tidak akan membiarkan semua ini terjadi dek."
"tidak usah di sesali mas, ibarat nasi sekarang sudah menjadi bubur. Sebaiknya, kamu jalani hidupmu dan aku juga akan mencari kebahagiaanku."
"apa maksudmu dek? Apa kamu akan segera mencari pengganti diriku?"
"tentu saja mas, aku tidak mau hidup sendiri sedangkan kamu bahagia bersama dia."
"secepat itukah dek?"
Aku tidak ingin mas Ringgo melihat keraguan dan kelemahan dalam diriku. Sekarang, aku bukan wanita lemah yang bisa dia rayu cuma dengan bermodalkan gombalan yang tidak berguna.
"dek maafkan aku." Mas Ringgo kembali mengucapkan kata maaf kepadaku, aku melihat ada setitik air mata jatuh di sudut matanya.
Tapi, aku tidak akan melihat kesedihan yang ada dimatanya karena itu hanya akan melemahkan hatiku. Aku harus bisa menahan perasaanku karena bagaimanapun juga dia sekarang dia bukan milikku lagi.
Aku hanya diam dan tidak menanggapi kata-katanya, tidak ada yang bisa aku ucapkan kali ini.
Mas Ringgo membalikkan badan dan melangkah menjauh pergi. Dari belakang, aku bisa melihat dia mengusap mukanya.
'apakah dia menangis' Aku berkata dalam hati, tak percaya apa yang baru saja aku lihat.
__ADS_1
"mas,."
"ya dek," mas Ringgo segera menoleh ke arahku. Aku melihat matanya basah dan mukanya terlihat merah. Benar saja, ternyata dia menangis.
"Aku sudah memaafkan kamu mas tapi kamu jangan pernah menemui ku lagi. Aku juga tidak akan pernah ikut campur urusan apapun yang menyangkut dirimu dimasa yang akan datang. Kamu dan aku bukanlah siapa-siapa mulai sekarang kamu harus selalu ingat hal itu." Aku mengakhiri kata-kataku sedangkan mas Ringgo pergi tanpa berkata apapun.
Aku merasa lega setelah mengatakan semua itu, aku berharap mas Ringgo mengerti dan tidak menggangu hidupku lagi. sekarang, aku hanya termenung mengenang kejadian yang baru saja aku alami.
Terus terang, aku merasa bukanlah hal yang mudah mengatakan semua itu. Aku harus terlihat tenang meskipun batinku bergejolak menahan emosi.
Setelah kepergian mas Ringgo aku segera membuka pintu dan masuk kedalam rumah. Aku melihat sekeliling, rumahku berantakan.
Aku segera mengganti pakaianku dan mulai membersihkan rumah. Aku harus segera menyelesaikannya karena nanti sore aku akan kerumah pemilik tanah yang akan aku beli.
Sebenarnya, aku bisa saja mentransfer uang itu kepada mas Roland. secara, mas Roland adalah seorang pengusaha jadi uang 500 juta bukanlah uang yang besar baginya walaupun bagiku baru kali ini aku melihat uang sebanyak itu.
Andaikan, aku menyimpan uang itu pada mas Roland pasti tidak ada orang yang akan curiga. Tapi, aku tidak mau melakukan itu karena aku berjanji pada diriku sendiri akan menjadi pribadi yang kuat dan mandiri.
Aku akan tunjukkan pada dunia bahwa perempuan bukan makhluk lemah yang hanya bisa menangis bila disakiti tapi dia juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh seorang pria.
Mulai sekarang, aku harus mampu menjaga dan belajar berani untuk mengambil keputusan yang terbaik untuk diriku sendiri. Aku tidak bisa selalu mengandalkan Roland, bagaimanapun juga dia akan memiliki kehidupannya sendiri kalau nantinya sudah berumah tangga.
Aku buru-buru menyelesaikan pekerjaanku, bagaimanapun juga sebelum sore semuanya sudah beres. Aku memindahkan ranjang yang biasanya berada dikamar utama ke kamar belakang karena aku tidak mau tidur disana.
Aku tidak mau ingatan tentang mas Ringgo terus mengusikku, bagaimanapun juga tiga tahun hidup bersamanya pasti meninggalkan banyak kenangan di dalam hidupku. Aku berharap dengan tidak lagi menempati kamar utama, seiring waktu aku bisa melupakan semua kenangan yang pernah kami rajut bersama.
__ADS_1