SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 104: Dia Adikku


__ADS_3

Aku akhirnya bisa menemukan wanita yang selama ini hilang dalam hidupku, dia adalah adikku Rianti.Tidak bisa dilukiskan betapa bahagianya, aku bagai tertidur dari mimpi buruk dan sekarang di hadapkan dengan kenyataaan yang membuat hidupku dan mama kembali berwarna.


Aku berusaha membangun kebersamaan dengan Rianti, agar jarak yang ada akan segera sirna. Aku berjanji akan menjaganya dan memastikan dia akan selalu bahagia tidak peduli bagaimana caranya.


Setelah sekian lama terpisah, Aku merasa sekarang waktunya bagiku untuk menjadi kakak yang dapat dia andalkan. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah tuhan berikan kepadaku.


Aku melihat segala yang ada pada diri Rianti, membuat aku semakin yakin dia adalah adikku. Tidak ada keraguan lagi di hatiku, aku merasa tidak perlu melakukan tes DNA untuk membuktikannya.


Sekarang, aku percaya pepatah lama yang mengatakan "buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya" karena pepatah itu benar adanya. Rianti telah membuktikan kebenarannya, dia memperlihatkan sifat yang tidak jauh berbeda dengan papa dan mama.


Aku kagum kepadanya, dia terlihat tegas, tegar dan pantang mengeluarkan airmata tapi lembut bagaikan sutera. Dia menuruni sifat tegas tegas dan pantang menyerah dari sifat ayahku sedangkan sifat lembut dan tegas dia turuni dari mama. itu m ragukan dia adalah adikku.


Hari ini, aku dan Rianti telah sepakat untuk menemui pak Roman untuk menyelesaikan transaksi jual beli tanah. Aku dan Rianti menemui pak Roman pada sore hari setelah pulang dari kantor.


Setelah tiba di sana, aku langsung hendak menemui beliau tapi sayang beliau tidak ada dirumah. Beliau sedang berada di rumah sakit menemani istri beliau yang sedang sakit.


Aku memutuskan untuk pulang tapi belum sempat naik kemobil, seorang gadis cantik nan ayu datang menghampiri kami. Aku langsung merasa kelimpungan, hatiku deg-degan tak karuan.


Semakin dia mendekat, aku merasa semakin tidak karuan. Aku merasa aliran darahku tiba-tiba terasa memompa dengan cepat, otakku berhenti berpikir. Sekarang, aku hanya terpaku memandang wajah ayu yang kian membuatku tidak berdaya.


Aku tidak bisa berkata-kata, untung ada Rianti yang menyelamatkanku dari semua keadaan ini. Dia bicara santai dengan gadis itu, memang hebat adikku dia bisa bergaul dengan cepat.


Dia berbicara dengan gadis itu bagai seorang yang sudah lama berkenalan tidak menampakakkan kecanggungan dalam sikapnya.


Setelah beberapa lama, Rianti mengajak dan memutuskan menemui pak Roman di rumah sakit. Aku hanya bisa manut aja apa yang dikatakannya.

__ADS_1


Setiba di rumah sakit, dia kembali berbincang dengan pak roman. Ibarat sebuah mobil, sekarang Rianti berperan sebagai sopir sedangkan aku malah diam tak ubah bagai keneknya keneknya. Aku hanya bisa manut dan patuh apa yang dikatakan adikku itu.


Rianti bukan hanya lembut tapi juga pintar, dia bisa mengendalikan situasi di saat otakku lagi mati suri. Aku benar-benar beruntung memiliki dia, ada kebanggaan tersendiri bagiku ketika memiliki dia sebagai adikku.


Aku membayar biaya administrasi perawatan istri pak Roman, itu inisiatif dari Rianti. Rianti berinisiatif begitu karena mendengar pak Roman mengeluh, istri beliau tidak akan mendapat perawatan yang layak kalau biayanya belum di bayar. Seketika jiwa lembut yang di turuni dari mama mendominasi, dia memintaku untuk membayarnya.


Setelah membayar administrasi Rumah sakit, Rianti kembali menunjukkan sisi lembutnya. Dia mengajak pak Roman makan ke kantin, dia meninggalkan aku dan Aluna yang sedang menunggui ibunya.


Aku merasa canggung ketika hanya berdua saja dengan Aluna. Aku memandang wajah ayu itu yang semakin lama kupandang, semakin membuatku jatuh hati.


Tatkala sedang memandangnya, Aluna tiba-tiba saja memandang kearahku. Pandangan kami saling bertemu, dia melemparkan senyum manisnya kepadaku. Aku seakan terbang melihat senyumannya, membuatku tenggelam dalam dunia hayalku.


'astaga, tuhan tolong sadarkan aku.' Aku merintih dalam hati memohon kesadaran karena aku sekarang sudah terlena dengan keindahan yang sekarang ada di hadapanku.


Aku mencoba membuka percakapan dengannya tapi lidahku kelu. Aku hanya bisa membalas tersenyum sebagai jawaban dan mbalasan dari senyumnya tadi.


Keyakinanku terhadap adikku tidak salah, Rianti bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Dia bisa menyelesaikan transaksi dan menyelamatkanku dari perasaanku sendiri.


'hadeh repotnya jatuh cinta.'


Setelah menyelesaikan urusan dengan pak Roman kami meninggalkan rumah sakit. Aku senang sekali semua berjalan lancar berkat adikku yang pintar, aku benar-benar bangga memiliki dia.


Aku tidak langsung pulang kerumah tapi ingin mengajaknya ke mall untuk belanja. Aku merasa tidak ada salahnya memanjakan dia, semoga saja hubungan kami semakin erat dan semakin hangat.


Aku menyuruhnya membeli apa saja yang di inginkannya, tidak peduli berapapun nominal belanjaannya aku akan membayarnya. Rianti harus tahu aku sangat menyayanginya, dialah adikku satu-satunya.

__ADS_1


Namun sayang, Rianti tetaplah Rianti. Wanita lembut yang punya harga diri. Dia mengembalikan sebahagian barang yang telah dipilihnya, begitu tahu harganya tidak sesuai dengan uang yang dimilikinya.


Aku memperhatikan semua yang dilakukannya dari kejauhan. Dia seharusnya meminta bantuanku, tapi dia tidak melakukan itu. Dia malah tidak jadi membeli ketimbang meminta aku untuk membelikannya.


Aku mendekati wanita penunggu kasir dan menanyakan harga semua belanjaan Rianti kemudian membayarnya. Walaupun Aku merasa bangga dengan sifatnya itu, aku sebenarnya merasa terluka.


Aku berharap bisa menjadi pelindung baginya dan ingin sekali dia meminta sesuatu padaku. Tapi itu mustahil, dia begitu mandiri dan tangguh seperti batu karang.


Ketika tengah asyik melihat-lihat, aku mendengar keributan tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku mencoba melihat apa yang tengah terjadi.


Betapa terkejutnya, aku melihat Adik kesayanganku sedang di permalukan. Aku mengenali siapa yang telah berani membully Rianti, seketika darahku mendidih melihatnya.


Aku melihat Ringgo dan selingkuhannya di sana. Wanita itu terlihat sedang mengatai Rianti sedangkan Ringgo hanya diam sana tanpa berkata Apa-apa untuk melerainya.


'dasar laki-laki bangsat, dia membiarkan selingkuhannya menmpermalukan adikku.' Aku mengumpat dalam hati, dia akan membayar semua rasa sakit hati yang di terima dan dirasakan oleh adikku.


Aku mengamati dari kejauhan, wanita itu terus memancing kemarahan Rianti. Tapi Rianti terlihat tenang menghadapinya, dia tidak emosian. Aku salut dengan adikku itu, dalam keadaan seperti ini dia bisa mengontrol emosi.


Aku mendekati adikku setelah beberapa saat memperhatikan, Rianti yang di permalukan tapi hatiku yang mendidih. Awas saja mereka, aku akan membalas semua perbuatan mereka.


"dik, kamu tidak apa-apa?"


"aku tidak apa-apa mas". Rianti menjawab, aku tahu dia sedang menyembunyikan kemarahannya.


Aku bisa melihat dengan jelas api kemarahan berkobar menyala dimatanya. Api itu dia pendam dan siap membakar orang yang telah menyulutnya.

__ADS_1


'Kalian akan menyesal telah membangkitkan kemarahan dan berurusan dengan Rianti, karena dia akan membuat kalian akam memabyar perbuatan kalian karena DIA ADIKKU'


__ADS_2