SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 79: Akhirnya, Aku Resmi Jadi janda Muda


__ADS_3

"silahkan masuk dan duduk di tempat yang di sediakan, karena sidang akan segera dimulai."seorang petugas pengadilan mempersilahkan kami, aku segera mengikuti mas Roland dan pengacara memasuki ruang sidang.


Aku merasa ruangan ini seketika dingin tidak mengenakkan, perasaanku mulai dilanda gelisah. Mas Roland menggenggam tanganku ketika melihatku mulai tidak tenang. Aku menoleh kearahnya, mas Roland terlihat mengangguk pelan ke arahku. Aku membalas anggukkan kepala mas Roland dengan sedikit senyuman tersungging di bibirku.


"tenang dik, kamu tidak usah memikirkan apapun. Kamu hanya perlu menjawab apa yang ditanyakan, mas yakin kamu pasti bisa."


"ya mas. Entah kenapa, aku tiba-tiba merasa gugup."


"pokoknya kamu tenang saja dik."


"baiklah mas." Aku hanya menjawab singkat kata-kata mas Roland, seketika kerongkonganku terasa kering hingga air ludahku sulit untuk ditelan.


Aku melihat sejenak ke sisi lain terlihat mas Ringgo duduk dengan wajah tertunduk, melihat dia duduk dengan wajah kusut perasaan kasihan muncul di hatiku.


'aku harus kuat dan tidak boleh kalah dengan perasaanku. Aku harus segera berpisah dengan mas Ringgo karena ini merupakan jalan terbaik bagiku dan baginya.'


Aku berkata dalam hati mencoba menguatkan hati. Aku segera memalingkan pandanganku dari mas Ringgo karena tidak ingin semakin terjebak oleh perasaanku sendiri.


Tidak berapa lama, pihak pengadilan segera memulai sidang. Aku menyerahkan segalanya pada mas Roland dan pak pengacara, karena aku tidak paham sama sekali dengan persidangan. Aku hanya menjawab apa yang terjadi, tanpa ditambahi dan dikurangi apalagi dibumbui. Aku mengatakan dan menjawab semuanya murni fakta apa yang terjadi.


Untuk menguatkan kata-kataku, aku juga menyerahkan segala bukti yang kumiliki. Para pengunjung berdecak dan memandang aneh pada mas Ringgo, dia terlihat tertunduk mendengar kesaksian dan bukti yang aku sodorkan.


Setelah selesai, aku di persilahkan duduk kembali. Sesaat sebelum duduk, aku memandang ke arah mas Ringgo dan dia pun terlihat melihat ke arahku. Aku melihat rona sedih terpancar di wajahnya.

__ADS_1


Tidak berapa lama setelah aku duduk, pihak pengadilan terdengar memanggil mas Ringgo. Mas Ringgo mulai dihujani dengan pertanyaan demi pertanyaan oleh pihak pengadilan.


Aku melihat mas Ringgo mendengarkan pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan wajah lesu dan tertunduk lemah. Dia tidak mampu membantah setiap kebenaran yang aku ungkapkan dalam persidangan.


Sekian lama sidang bergulir, aku merasa kemenangan akan menjadi milikku. Aku melihat mas Ringgo tidak berkutik selama persidangan. Dia hanya dia diam dan terpaksa mengangguk membenarkan setiap kebenaran yang terungkap. Sekarang, dia bisa melihat dengan jelas kejahatan dan kebusukan yang selama ini dia lakukan padaku.


Akhirnya, hakim mengetok palu dan memutuskan untuk mengabulkan gugatan cerai yang aku ajukan terhadap mas Ringgo. Aku akhirnya bisa bernafas lega karena sekarang statusku sudah jelas, sekarang status janda muda resmi aku sandang.


Tapi, aku tidak bersedih dan kecewa karena statusku yang sekarang.Aku malah merasa lega, akhir aku bisa menentukan langkah hidupku selanjutnya. Aku tidak perlu lagi larut dalam duka dan terkurung dalam kepalsuan dan dusta mas Ringgo.


''apakah Anda tidak mengajukan gugatan atas harta gono-gini?"pengacara bertanya seraya memandang ke arahku.


"saya tidak akan mengajukan pembagian atas harta gono-gini pak, karena saya rasa tidak ada harta yang perlu kami bagi."


"iya pak, saya dan mantan suami tidak mempunyai harta bersama yang akan kami bagi. Kami hanya memiliki motor yang sekarang dia pakai, tapi saya tidak ingin mempermasalahkannya." Aku menandaskan kata-kataku, aku memang tidak ingin menuntut apa-apa lagi pada mas ringgo.


Aku merasa semua tabungan mas Ringgo yang aku ambil diam-diam Tanpa sepengetahuannya itu sudah cukup bagiku. Lagipula, aku rasa mas Ringgo tidak memiliki apa-apa lagi selain motor yang sekarang dia pakai, jadi buat apa aku menuntut harta gono-gini yang nantinya hanya akan membuatku repot.


"baiklah kalau begitu keinginan anda. berarti, kita bisa anggap perkara ini sudah tuntas. Saya akan mengurus semuanya, setelah semua selesai saya akan menghubungi pak Roland."


"terima kasih atas bantuan pak pengacara sekarang semua urusan saya serahkan kepada bapak." mas Roland berkata dengan penuh kharisma pada pak pengacara, aku kemudian menganggukkan kepala seraya tersenyum pada beliau.


"ayo dik, kita segera pulang." mas Roland mengajakku pulang, dia kemudian segera melangkah menuju ke arah dimana dia memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


Aku mengikuti mas Roland dari belakang, karena langkahnya yang cepat, aku jadi tertinggal jauh dibelakang mas Roland.


"dek tunggu dulu!" aku mendengar satu suara yang tidak asing bagiku memanggilku dari kejauhan. Aku paham betul suara itu pasti milik mas Ringgo, aku menoleh ke arah asal suara yang baru saja memanggilku. Ternyata benar, mas Ringgo memanggilku, dia terlihat berjalan cepat dan menghampiriku.


'untuk apa mas Ringgo memanggilku lagi?' Aku bertanya sendiri di dalam hati, aku merasa tidak ada lagi yang perlu di bicarakan lagi dengannya karena semuanya sudah jelas dan sudah selesai.


"ada apa kamu memanggilku mas?" Aku bertanya ketika mas Ringgo sudah berada di hadapanku, dia terlihat kelelahan mengejar ku.


"kenapa baru sekarang kamu katakan dik?


"maksudmu apa mas, aku tidak mengerti?" Aku balik bertanya pada mas Ringgo, aku benar-benar tidak mengerti dengan pertanyaannya.


"kenapa kamu tidak pernah mengatakan nafkah yang aku berikan untukmu itu kurang, dan kamu juga tidak pernah memberitahu kalau kamu bekerja sebagai buruh cuci untuk menambah kekurangannya?"


"untuk apa kamu bertanya ini sekarang mas? selama ini kamu kemana saja?" Sebagai suami, kamu sudah gagal total mas. Lagi pula selama ini, aku tidak banyak menuntut padamu, aku mencoba memahami dirimu sepenuhnya. Tapi kenyataannya, kamu membalas kesetiaan dan ketulusan cintaku dengan penghianatan. Kamu begitu perhitungan padaku tapi untuk wanita itu begitu royal, kamu membelikannya tas mahal harga puluhan juta. Sedangkan untukku, kamu tidak pernah membelikan aku pakaian walau itu hanya daster murahan tak bermutu. Terus terang, aku sakit hati dan kecewa kepadamu."


"maafkan aku dek, aku mengaku salah padamu. Aku harap kamu mau memaafkan aku."


.


"aku sudah memaafkan kamu mas, aku harap setelah ini kamu tidak menggangguku lagi." Aku berkata dengan nada tegas pada mas Ringgo.


"apa ada kemungkinan kita akan kembali bersama dek?" mas Ringgo bertanya dengan pertanyaan gilanya, aku sungguh tidak menyangka dia akan mengeluarkan pertanyaan itu dari mulutnya.

__ADS_1


"aku tegaskan padamu mas, kita tidak akan pernah bisa bersama lagi. Aku tidak mau hidup menderita denganmu seperti dahulu, aku harap kamu jangan pernah bermimpi bisa kembali padaku. Sekarang, kamu harusnya bahagia dan bersyukur karena wanita cantik dan seksi yang kamu impikan selama ini, bisa segera kamu nikahi." Aku berkata seraya menyindir mas Ringgo, dia harus tahu kalau aku benar-benar tidak menginginkan dia lagi.


__ADS_2