
POV. Ratu
Hoek!
Aku langsung menyemburkan makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutku, rasanya sungguh mengerikan.
Tak dapat kubayangkan, jika mas Ringgo juga ikut memakannya tadi malam. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana reaksinya reaksinya, dia pasti akan lebih marah dan berbuat kasar lagi kepadaku.
Aku merasa ngeri ketika membayangkan hal itu, mas Ringgo tak lagi seperti dulu. Dia tidak lagi dalam kendaliku. Andai, mas Ringgo memakan masakanku ini aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya padaku.
Makanan itu begitu asin, rasanya pun tak jelas. Jangankan menelan makanan itu, singgah di lidah terasa begitu enggan. Aku segera berhenti menyuap makanan kemudian membawanya kembali ke dapur.
Aku memang tidak pandai memasak, selama ini aku memiliki asisten rumah tangga yang membantu pekerjaanku di rumah. Selama hidup bersama mas Aldo, aku tidak pernah terlibat dengan pekerjaan rumah tangga.
Pikiranku menerawang, aku teringat kembali masa-masa hidup bersama mas Aldo, mantan suamiku. Aku tidak kekurangan apapun dari segi materi, semua kebutuhanku di penuh. Namun sayang, Aldo tidak bisa memenuhi kebutuhan batinku.
Aldo bekerja di luar kota, dia hanya pulang menemuiku hanya minggu dalam sebulan. Sebenarnya, Aldo sering mengajakku tinggal bersamanya.Tapi, aku keberatan ikut karena tidak mau berhenti dari pekerjaanku sekarang. Aku merasa sayang sekali resain karena gajiku lumayan besar dan pastinya mampu memenuhi gaya hidupku.
Aku bekerja selama ini bukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tanggaku melainkan hanya untuk menunjang gaya hidupku.
Semua kebutuhan rumah tanggaku sudah di penuhi mantan suamiku itu, aku bisa melakukan apa saja dengan uangku. Aku memang sudah terbiasa dengan gaya hidup mewah sedari dulu, semua benda-benda yang kupakai adalah barang mahal.
Aku teguh dengan pendirianku untuk tetap bekerja walau harus hidup berjauhan dari mas Aldo, karena tidak mau berhenti bekerja. Dia akhirnya menerima keputusanku, akhirnya dia tidak lagi memintaku ikut dengannya.
Setelah beberapa waktu berjalan, aku di pertemukan dengan mas Ringgo, yang menjadi suamiku sekarang menggantikan mas Aldo. Aku sangat tertarik dengan kepribadiannya kala itu, dia begitu rupawan dan sempurna di mataku.
Penampilannya yang selalu rapi ke kantor membuatku penasaran, aku berusaha mencari tahu ternyata dia tajir juga. Aku merasa tertarik ingin mengenalnya lebih jauh.
__ADS_1
Aku berusaha menjalin keakraban dan terus mendekatinya. Setelah beberapa waktu berlalu, aku merasa nyaman dengan kepribadiannya. Dia begitu baik penuh perhatian.
Aku jatuh hati padanya, ruang kosong di hatiku mulai di tempatinya. Dia bahkan mampu memggeser posisi mas Aldo di hatiku. Aku benar-benar terobsesi padanya, apapun akan kulakukan untuk mendapatkannya.
Tak di sangka, mas Ringgo ternyata memiliki perasaan yang sama denganku. Dia mengatakan suka dan cintanya padaku, aku langsung menyambut uluran cinta dan kasih sayang darinya.
Makin lama hubungan kamipun semakin dekat, aku semakin mencintainya karena perlakuannya sungguh manis kepadaku. Aku merasa bahagia dan yakin dia bisa memberi kebahagiaan kepadaku, karena aku tahu dia menejer keuangan di perusahaan tempatku bekerja.
Hubungan kamipun semakin jauh, aku berkali-kali melayani nafsu liarnya di atas ranjang. Aku tidak pernah menolak ajakannya karena aku sebenarnya juga haus akan sentuhan birahi. Aku kekurangan nafkah batin walaupun nafkah lahirku berlimpah.
Awalnya, aku marah saat tahu mas Ringgo ternyata telah beristri. Aku ingin mengakhiri hubunganku dengannya, tapi setelah berpikir kembali aku bertekad meneruskan hubunganku dengannya.
Aku tidak mau kehilangan mas Ringgo karena merasa segala yang kubutuhkan ada padanya. Dia begitu tampan dan memperlakukaku dengan baik bahkan melebihi istrinya.
Selama berhubungan dengannya, aku selalu mendapatkan apa yang kupinta darinya. Dia selalu menuruti keinginanku bahkan dia tak jarang membelikan barang-barang mewah untukku.
Aku terus melancarkan aksiku, hingga akhirnya kami ketahuan selingkuh oleh pasangan masing-masing. Akhirnya, mas Aldo menceraikanku dan mas Ringgo di gugat cerai oleh istrinya.
Aku tidak merasa sedih saat mas Aldo menceraikanku karena memang itu yang kuinginkan. Setelah, mas Ringgo resmi bercerai dari istrinya akupun minta dia segera menikahiku.
Setelah menikah dengannya, satu persatu jati diri mas Ringgo mulai terkuak. Dia tidak sekaya yang aku pikirkan, ternyata rumah yang dia miliki bukan miliknya tapi peninggalan dari orang tua istrinya.
Aku bertambah kaget ketika mobil yang selama ini dia pakai masih dalam masa kredit, masih lama jangka waktunya. Dia tidak pernah menceritakan hal itu padaku sebelumnya.
Aku merasa tertipu, rupanya dia tak seperti yang kupikir selama ini. Aku merasa kecewa namun apa daya semuanya dah terlanjur terjadi.
Kriuuuk! Kriuuuuk!
__ADS_1
Aku tersentak dari lamunaku, suara lapar di perutku mulai berdemo. Aku menghela nafas berat seberat beban pikiran yang mulai merayap di pikiranku.
Setelah membawa kembali semua masakanku ke dapur, aku bergegas menuju ke kamar untuk mengambil uang dan sedikit menghias diri sebelum keluar. Saat bercermin, aku melihat wajahku lebam bekas tamparan mas Ringgo semalam.
'ahhhhhh'
Aku meringis menahan perih ternyata luka itu masih terasa sakit saat disentuh. Aku memakai bedak sedikit tebal untuk menutupinya tapi ternyata warna biru lebam nya masih jelas terlihat.
Aku urung keluar rumah untuk membeli makanan, akhirnya kuputuskan untuk memesan makanan secara online. Selagi menunggu makanan pesananku sampai, aku mengompres mukaku supaya bekas lebam itu cepat hilang.
Tok! Tok! Tok!
Aku mendengar ketukan pintu dari luar, sungguh lega rasanya hatiku. Aku segera berdiri, aku yakin yang datang pasti yang mengantar makanan pesananku.
Ternyata benar, aku segera menyelesaikan pembayarannya. Aku benar-benar sudah lapar, rasanya tubuhku mulai gemetaran menahan lapar.
Aku segera membawa makanan ke meja makan, dan memindahkannya ke piring. Tanpa aba-aba, aku langsung melahap makanan yang ada di hadapanku. Aku benar-benar kelaparan karena dari kemaren malam belum makanan apapun.
Makanan itu terasa nikmat sekali, aku melahap dan menghabiskannya dalam sekejap. Aku makan bagai orang kesurupan, bahkan sampai lupa minum.
Aku merasa sakit perut setelah makan, mungkin karena makan yang terburu-buru dan tidak minum. Aku kemudian kemudian mengambil minum dan mereguknya sedikit demi sedikit.
Rasa sakit di perutku tidak langsung hilang malahan makin menjadi, keringat dingin mulai bercucuran menahan sakit. Aku merasa perutku mual hendak muntah, segera ku berlari ke kamar mandi tak ingin muntah di ruang makan.
'hoek'
Semua makanan yang tadi kumakan keluar semua, aku sampai lemas di buatnya. Aku terduduk di lantai karena tenagaku habis setelah muntah tadi.
__ADS_1
'kenapa hidupku jadi seperti ini....?' hatiku merintih tiada berdaya.