
Tok! Tok! Tok!
'mas Ringgo ternyata belum pulang juga, dia masih saja mengusik ketenangan hidupku. Biar saja dia mengetuk pintu sampai tangannya pegal, Aku tidak peduli sama sekali.
Baru saja memejamkan mata, aku kembali mendengar ketukan pintu dari luar. Aku malas sekali membukakan pintu, pasti yang mengetok pintu mas Ringgo. Aku menutup kedua kupingku dengan tangan seraya meneruskan tidurku.
Setelah beberapa jam tertidur, aku terjaga dari tidurku, Aku merasa lebih baik dari sebelumnya. Aku beranjak dari tempat tidur hendak mencuci muka ke kamar mandi.
Setelah bersih-bersih, aku melihat jam dinding ternyata sudah menunjukkan jam tujuh malam, waktunya bagiku untuk minum obat.
'bagaimana ini?" Aku merasa bingung karena teringat tidak memiliki apapun untuk dimakan padahal aku harus minum obat.
'apa aku minta bantuan mas Roland saja untuk membeli makanan? Ah tidak, aku tidak boleh selalu merepotkan mas Roland.' Aku segera bangkit hendak membeli makanan, aku tidak boleh selalu mengandalkan mas Roland dalam segala hal.
Aku berjalan dengan perlahan karena kondisi tubuhku masih belum benar-benar pulih. Aku ingat di ujung komplek perumahan ada orang yang berjualan nasi Ampera, walaupun harganya murah tapi rasanya terbilang enak.
Setelah beberapa langkah berjalan, aku melihat sebuah sepeda motor berjalan mendekatiku. Ternyata pengendara motor tersebut mas Roland, dia tersenyum seraya menatap ke arahku.
Aku sangat senang ketika mengetahui yang datang itu adalah mas Roland. Tidak bisa aku pungkiri, aku merasa ada kebahagian hadir di relung hatiku ketika mas Roland berada di dekatku. Aku merasa perasaan ini begitu dekat dan hangat.
"kamu kemana dik?"
"aku mau membeli makanan ke ujung komplek."
"tidak usah membeli makanan dik, mas sudah membawa makanan untukmu." Mas Roland berkata seraya memperlihatkan bungkusan makanan yang ditentengnya. Mas Roland ternyata dia datang membawakan makanan untukku.
Aku merasa sangat terharu melihat perhatian yang mas Roland berikan kepadaku, tidak terasa air mataku berlinang. Aku benar-benar bersyukur telah dipertemukan dengannya, ternyata masih ada orang yang peduli dan sayang kepadaku.
"Terima kasih mas. Aku merasa tidak enak karena selalu saja merepotkan kamu mas." Aku tersenyum riang, hatiku sangat senang sekali melihat mas Roland membawa makanan untukku.
"Tidak usah bicara begitu mas senang melakukan semua ini untukmu dik."
__ADS_1
"bagaimana caranya aku membalas semua kebaikanmu mas, sedangkan aku tidak pernah melakukan kebaikan apapun untuknya."
"sudah dik, mas tidak ingin mendengar kamu berkata seperti itu lagi. Sekarang, kamu sebaiknya cepat masuk."
"iya mas," Aku berbalik mengikuti sepeda motor mas Ringgo yang telah terlebih dahulu memasuki pekarangan rumahku.
Aku segera membuka pintu dan mempersilahkan mas Roland masuk. Aku segera membawa makanan yang dibawa mas roland ke meja makan. Tidak beberapa lama, aku selesai menghidangkan makanan.
"mas ayo kita makan dahulu, nanti kita ngobrolnya."
"ayo dik, mas juga merasa lapar" mas Roland berkata seraya berjalan mendekati meja makan.
Aku dan mas Roland segera menyantap hidangan yang ada di hadapan kami, makanan ini terasa sangat enak sekali. Aku sangat senang ketika makan bersama mas Roland. Aku merasa ada kebahagiaan tersendiri mengalir di dalam hatiku.
Aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, aku merasakan perasaan ini begitu tulus. Aku merasakan betapa indahnya kebersamaan antara aku dan mas Roland, aku berharap kebersamaan ini tidak akan terputus selamanya. Tanpa sadar, aku menatap mas Roland begitu lama.
"kok menatap mas terus dek, kamu harus makan yang banyak supaya cepat sembuh." mas Roland mengagetkanku, aku tersadar dari lamunanku. Aku benar-benar bahagia malam ini, aku merasa kebahagian yang pernah hilang sekarang seakan kembali kepadaku. Kebahagiaan macam apakah ini? Aku tidak pernah merasakannya selama ini.
"jangan terlalu banyak mas, aku tidak bisa menghabiskan semuanya nanti"
"kamu harus banyak makan dik."
"iya mas, tapi tidak sebanyak ini juga kali mas." Aku berkata seraya tertawa kecil, berusaha mengakrabkan diri dengan mas Roland.
Tidak berapa lama, kami selesai makan malam. Mas Roland tersenyum ke arahku, ternyata aku makan banyak kali ini. Aku begitu menikmati makan malam bersama mas Roland, mungkin baru kali ini aku menikmati makan malam semenjak mengetahui mas Ringgo mengkhianati ku.
Aku segera membawa piring kotor ke dapur kemudian mencucinya. Setelah membereskan meja makan, aku kemudian segera mengambil obat ke kamar.
"sebentar ya mas, aku mau mengambil obat dulu. Sebaiknya, kamu bersantai dulu di sofa."
"ya dik." Mas menjawab singkat.
__ADS_1
Aku segera keluar kamar setelah mengambil obat kemudian meminumnya. aku melihat mas Roland duduk santai di sofa seraya menonton TV, aku kemudian mendekati mas Roland dan duduk bersamanya.
"bagaimana kondisi kesehatanmu sekarang, dik" mas Roland bertanya membuka percakapan denganku.
"aku merasa sudah mendingan, paling dua hari lagi sudah sembuh mas"
"syukurlah, mas sangat senang mendengarnya. Kamu harus menjaga kesehatan, ingat Senin besok jadwal sidang berikutnya dik."
"ya mas. Aku rasa Senin besok aku sudah sembuh mas." Aku berkata meyakinkan mas Roland.
"oh ya, aku ingin bertanya sesuatu sama kamu mas. Aku berharap kamu tidak salah paham padaku mas."
"kamu ingin menanyakan apa dik?"
"kenapa kamu begitu baik padaku mas, padahal kita belum lama bertemu? Terus terang, aku tidak memiliki apapun yang akan aku berikan untuk membalas kebaikanmu padaku mas."
Mas Roland seketika terlihat murung, air mukanya terlihat sedih. Aku melihat ada kesedihan yang mendalam di matanya ketika menatap ke arahku. Aku menunggu jawaban dari mas Roland, dia terlihat kesulitan t menjawab pertanyaan yang aku lontarkan kepadanya.
"mas melakukan semua ini tulus ikhlas, tanpa mengharapkan balas budi darimu dik. Kamu jangan pernah berpikir mas memiliki maksud yang tidak baik padamu." Mas Roland berkata seraya menatap ke arahku, aku merasa senang mendengarkan jawaban mas Roland.
"tapi mas, apa alasan kamu semua kebaikan ini adaku mas? Aku merasa tidak mungkin kamu melakukan semua ini tanpa ada alasan yang jelas mas."
Mas Roland menatapku dengan tatapan semakin sendu ke arahku, tatapan matanya begitu penuh arti walau aku tidak bisa membaca arti dari tatapan matanya. Aku benar-benar penasaran di buatnya, aku ingin segera mendapatkan jawaban dari mas Roland.
"kamu mengingatkan mas pada seseorang dik, wajahmu begitu mirip dengan wajah ibuku. Aku seperti menemukan adikku yang pernah aku hilangkan dik?"
Aku terpana sekaligus tidak mengerti dengan perkataan mas Roland, apa maksud perkataan mas Roland.
"kamu menghilangkan adikmu, apa maksudmu mas?"
"iya dik. Ketika aku berumur tujuh tahun aku pernah menghilangkan adikku yang waktu itu masih berumur tiga tahun. Ibu menitipkan adikku karena beliau ingin ke toilet, karena keasyikan melihat orang berjualan anak ayam warna-warni aku tidak sadar adikku sudah pergi entah kemana. Aku dan ibu sudah mencari ke segala arah, tapi kami tidak menemukannya. akhirnya, ibuku jatuh sakit dan masih selalu memikirkan adikku yang hilang sampai sekarang." Mas Roland bercerita, matanya terlihat berkaca-kaca. Aku bisa melihat mas Roland benar-benar sedih ketika menceritakan hal itu kepadaku, aku merasa ikut sedih mendengarkan ceritanya.
__ADS_1
Mas Roland baik kepadaku ternyata inilah sebabnya, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu kekhawatiran mendengarkan cerita Mas Roland.