SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 17: Aku Lebih Membutuhkan Uangmu Daripada Perhatianmu.


__ADS_3

"dek, kenapa kamu kok lama sekali buka pintunya? tanya mas Ringgo kepadaku. Aku ketiduran karena kelelahan memikirkan semua yang terjadi.


"maaf mas, aku ketiduran tadi"jawabku jujur, aku merasa tidak perlu bicara semanis dahulu karena di hatiku sekarang telah bercokol berjuta kepahitan. Aku sudah tidak peduli dengan tanggapan mas Ringgo karena dia tidak penting lagi bagiku.


"apakah mas sudah lama sampai dan menunggu aku membuka pintu?" kataku sekedar hanya untuk basa basi. Aku malah mencibirnya di dalam hati menahan rasa benci.


"tidak juga dek, mas baru aja sampai sekitar lima menit yang lalu." katanya seraya memandang ke arahku, tapi aku tidak mengacuhkan pandangannya. Aku sibuk membersihkan tempat tidur yang kusut karena aku tidur tadi.


Mulai hari ini, aku tidak akan peduli mas Ringgo akan pulang larut malam, andai dia tidak pulang sekalipun aku tidak akan menghiraukan lagi. Aku merasa tidak ada gunanya dia pulang tepat waktu, kalau hati dan kelakuan seburuk itu. Kalau di halalkan, aku ingin sekali rasanya melenyapkan dia dari muka bumi ini.


"dek, apa kamu menangis? kenapa mata kamu sembab begitu? mas Ringgo bertanya, aku melihat dia menatap tajam kepadaku.Aku malah merasa jengah dengan pertanyaannya. Tidak perlu rasanya dia bertanya begitu, aku sudah tidak membutuhkan perhatiannya lagi sekarang.


Daripada memberikan perhatian, mas Ringgo sebaiknya memberiku uang. Aku merasa sekarang uang lebih penting darinya. Andaikan aku memiliki uang, aku akan menyayangi dan memanjakan diriku sendiri. Aku tersenyum pahit kearahnya.


"aku tidak apa-apa mas, mungkin cuma kecapean karena semalam habis tempur denganmu" kataku menutupi rasa kecewa di hatiku. Aku semakin membenci mas Ringgo, rasa cintaku yang besar untuknya sudah lenyap di telan badai perselingkuhan.


"nanti malam lagi ya dek" kata mas Ringgo seraya tersenyum menggoda.


Melihat mas Ringgo tersenyum nakal begitu, aku bukannya merasa senang tapi malah merasa jijik. Aku seakan melihat dia bukan seperti malaikat tampan yang sangat aku cintai tapi seperti melihat induk semangnya iblis sedang berdiri di depanku.


'ingin rasanya, aku membuang kamu ke laut mas biar dimakan ikan hiu paling jelek di dasar samudera. Tapi, kamu beruntung aku tidak melakukan itu kepadamu sekarang karena aku membutuhkan uangmu untuk masa depanku' aku berkata dalam hati, muak rasanya melihat muka jeleknya.

__ADS_1


"tau, ah" jawabku seraya tersenyum manja kemudian berlalu dari hadapannya.


Mas Ringgo tertawa melihat tingkahku, tapi aku sekarang tidak menyukai tawanya itu. Aku merasa sekarang lebih baik mas Ringgo itu diam dari pada bicara apalagi tertawa, jengah aku mendengarnya.


"kamu mau kemana dek? tanyanya heran melihat aku pergi meninggalkannya.


"aku mau masak, aku belum menyiapkan makan malam karena ketiduran tadi" kataku santai tanpa bersalah kali ini. Selama menikah, aku tidak pernah melalaikan tugasku sebagai seorang istri, tapi sekarang aku merasa bodoh amat dengan semua itu.


Aku terus menuju dapur, kemudian membuka kulkas. Malas sekali menyiapkan masakan yang ribet, aku maunya yang simpel saja. Aku tidak akan menyusahkan diriku lagi demi memberikan yang terbaik untuknya.


"masak apa dek?" tanya mas Ringgo sontak membuat aku terkejut karena dia tiba-tiba dan bertanya. Sekarang mas Ringgo sudah benar-benar seperti jelangkung, datang tak di jemput pulang gak diantar. kok sekarang, aku mendadak ilfil kepadanya.


"cuma telur dadar dek? apa gak ada lauk lain seperti ikan gitu? tanya mas Ringgo, terlihat. ekspresi heran di wajahnya. Tapi, aku tak peduli dengan dengan sikapnya itu.


"ikan ada mas, tapi aku malas masaknya. Aku tak mau memasak ikan karena repot dan ribet. Aku lebih baik masak telur dadar saja gampang dan simpel." aku berkata dengan memperlihatkan nada santai dan meyakinkan.


Inilah pertama kalinya aku menolak keinginan mas Ringgo, biasanya aku selalu menuruti semua maunya walau rasa maas mendominasi di hatiku. Aku merasa tidak perlu lagi menyusahkan diriku sendiri, enaknya aku bikin gampang saja.


'kalau mau makan enak, sekali-sekali beli jangan merepotkan aku terus, mas. Aku bukan Rianti yang dulu lagi, yang bisa kamu atur semau hati. Enak saja, kamu mau susah bersamaku tapi bahagia bersama orang lain' aku berujar dalam hati, benci sekali aku kepadanya.


Aku melihat dan merasakan ada perubahan ekspresi wajah mas Ringgo, itu terlihat jelas karena dia begitu serius memandang ke arahku. Mas Ringgo mungkin merasa kaget dengan perubahan demi perubahan yang aku tunjukan kepadanya.

__ADS_1


'peduli amat dengan perasaannya, dia sendiri tidak peduli dengan perasaanku. Makan itu rasa kaget kamu memangnya aku peduli' aku berkata dalam hati. aku merasa sakit hati dengan perlakuannya selama ini.


Selagi masak telur dadar aku kemudian memasak mie sebagai sayur, lagi-lagi mas Ringgo kaget dengan apa yang aku lakukan.


"sayurnya kok mie rebus, bukan sayur asli. sebenarnya ada apa denganmu, dek" tanya mas Ringgo, aku bisa melihat dengan jelas rasa penasaran dari pertanyaannya.


"aku baik-baik saja kok mas, aku cuma ingin masakan yang aku buat cepat kelar. Aku ingin segera mandi hari sudah mau menjelang malam," jawabku memberi alasan kepada mas Ringgo, padahal sebenarnya, aku lagi malas memasak, semangatku hilang ditimpa api kebencian yang mulai menyala di hatiku.


"ya sudah mandi sana biar wangi" katanya seraya mengedip mata nakal kepadaku Aku melihat dia tersenyum, aku dulu melihat dia tersenyum terlihat manis sekali di mataku, tapi sekarang malah terasa aneh sekali senyumannya


'dasar pria berotak mesum, pikirannya tak jauh-jauh dari itu' aku berkata dalam hati seraya tersenyum ngeri. Aku heran kenapa dulu aku bisa jatuh cinta kepada makhluk eh, pria seperti itu.


Aku kemudian pergi berlalu darinya, tak ingin lama-lama berada di dekatnya. Daripada aku bersamanya, aku lebih baik mandi menyegarkan diri. Aku segera bergegas menuju kamar mandi.


Lima belas menit di kamar mandi akhirnya, aku menyelesaikan ritual mandi. Aku merasa tubuh dan pikiranku terasa seger sekali.


Aku segera mengenakan pakaian tidur, tapi sebelumnya aku memakai lingerie yang kemarin aku beli dan telah aku pakai sekali. Tak apalah, aku memang cuma punya satu lingerie. Aku mengenakan lingerie itu dengan satu maksud, memikirkan rencana tanpa sadar aku tersenyum penuh siasat menyungging di bibirku.


'aku berharap, semoga malam ini semua rencana akan berjalan lancar tanpa hambatan. Aku akan membuat kamu tidur nyenyak malam ini, hingga kamu tidak sadar kalau malam ini kamu akan kehilangan uang dalam ATM kamu mas' aku bergumam dalam hati, sambil memandangi obat tidur yang kembali akan aku berikan kepada mas Ringgo.


Aku berencana kembali membuat mas Ringgo tidur nyenyak malam ini. Aku akan mencuri kartu ATm mas Ringgo kemudian menguras uang ada di dalamnya. Kali ini, aku harus mendapatkan uang mas Ringgo tak peduli walau harus dengan cara mencuri darinya.

__ADS_1


__ADS_2