SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 76: Tidak Ada Dia, Tempat Ini Terasa Berbeda


__ADS_3

"ayo mas," Aku menjawab singkat seraya senyum masih menempel di bibir. Aku segera mengikuti langkah mas Roland, mas Roland hanya geleng-geleng kepala melihatku.


Aku terus melongok ke kiri dan ke kanan, mataku terus saja mencari keberadaan pria itu. Aku merasa tempat itu seakan berbeda tanpa melihat dan mendengar suara usilnya.


"kamu kenapa sih dek, lagaknya seperti mencari koin yang hilang." Mas Roland kembali menggodaku dengan candaan garing, aku hanya senyum sedikit menanggapinya.


Karena tidak fokus melangkah, aku tanpa sadar menabrak seseorang. Seketika aku melongok ke atas melihat siapa orang yang aku tubruk ternyata pria yang sejak tadi kucari. Pria itu hanya diam untuk sesaat, aku memperlihatkan ekspresi wajah marah dengan mata sedikit melotot ke arah pria tersebut.


"maaf ya mbak, saya tidak sengaja karena buru-buru." Pria itu berkata, dia meminta maaf seraya mengulurkan tangan kepadaku. Aku segera meyambut uluran tangannya, kemudian dia meraih tanganku dan membantuku berdiri.


"tidak apa-apa mas, aku juga salah karena tadi tidak fokus." Aku menjawab dengan nada datar, tanpa ada sedikit emosi ketika mendengar dia meminta kepadaku.


Entah mengapa, aku merasa sedikit kecewa ketika mendengar dia berkata begitu. Tadinya, Aku menyangka dia akan marah kepadaku, setidaknya dia akan menyentil hatiku dengan mulut usilnya. Tapi kali ini beda, aku merasa dia berbeda dengan dia yang sebelumnya.


"eh maaf, nama kamu siapa ya mas?


"nama saya Rizky mbak, memangnya kenapa mbak menanyakan nama saya?"


"oh nama kamu Rizky ya? Ternyata nama kamu sama jelek nya dengan orangnya." Aku berkata asal ceplos, dia hanya tersenyum simpul mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulutku.


"mbak maaf ya, apakah mbak merasa tidak apa-apa?"


"saya merasa baik-baik saja, tapi tidak tahu kalau nanti baru muncul rasa sakitnya."


"saya permisi dulu ya mbak karena saya masih ada keperluan yang mendesak. Saya berharap semoga mbak baik-baik saja." Pria itu berkata seraya beranjak menjauhiku.


Aku merasa ada setitik kekecewaan di hatiku, tatkala pria bernama Rizky itu bersikap normal terhadapku. Ternyata, aku lebih suka ketika dia bersikap usil kepadaku walaupun hatiku terasa kesal karena ulahnya.


"Aneh, kok bisa dia tiba-tiba baik dan manis begitu?" Aku bertanya sendiri, Aku tak sadar mas Roland memperhatikan semua tingkahku sejak tadi.


"bukannya yang aneh itu kamu, dek. Orang jahat padamu kamu kesal, giliran orang bersikap baik kamu malah heran. Dasar cewek aneh." Mas Roland balik menggodaku seraya melangkah meninggalkanku. Aku seketika menoleh ke arah mas Roland, tidak disangka mas Roland yang terlihat cool bisa juga membuat hatiku greget mendengar celetukannya.


Aku segera mempercepat langkahku mengikuti mas Roland, kakinya yang panjang terlihat ringan ketika melangkah. Hanya sekejap, mas Roland telah jauh meninggalkanku.

__ADS_1


"mas kok jalannya cepat sekali sih, aku tertinggal jauh di belakang.


"kamu yang lamban seperti siput, kok malah menyalahkan mas, dek."


"iya nih mas, perutku masih terasa berat di bawa jalan."


"hehe, dasar cewek aneh, lihat makanan enak saja langsung kalap begitu." mas Roland kembali menggodaku, aku senang sekali mendengar candaan mas Roland karena ini pertama kalinya aku melihat sisi lain dari mas Roland.


"ayo dik, kita berangkat sekarang nanti keburu malam."


"ayolah mas." Aku hanya menjawab singkat ajakan mas Roland. Selama di perjalanan, aku hanya duduk manis di sebelah mas Roland. Aku tidak berani menyentuh apapun yang ada didalam mobil mas Roland.


"kamu kenapa sih dik, kok tegang begitu?"


"aku tidak kenapa-kenapa mas, aku hanya merasa nyaman naik mobil ini." Aku menjawab sekenanya, tapi mas Roland malah tersenyum mendengar jawaban yang aku berikan.


"sebenarnya kita mau kemana sih mas?" Aku kembali bertanya pada mas Roland. Terus terang, aku merasa penasaran kemana dia akan membawaku.


"kamu tenang saja dik, sebentar lagi kita akan sampai."


"ini rumah siapa mas?"


"ini rumah mas, mas ingin mempertemukan kamu dengan seseorang yang mirip dengan kamu dik."


"ternyata, mas memiliki rumah yang sangat bagus ya. Mas tinggal di rumah sebesar ini dengan siapa?"


"mas tinggal bersama mama sekarang karena papa sedang berada di luar negeri mengurus bisnisnya tapi bulan depan kata beliau akan kembali ke sini setelah urusan bisnis beliau beres."


"oh, selain mama. Selain mama mas siapa lagi yang tinggal di sini sekarang?"


"hanya pembantu dan satpam dik, selain itu tidak ada lagi."


"memangnya mas belum memiliki istri, maksudku belum menikah?"

__ADS_1


"belum dik, mas belum cukup umur untuk menikah mungkin menunggu tiga atau empat tahun lagi."


"memangnya umur mas berapa sekarang?"


"bulan depan masuk dua lima dik,"


"itu sih sudah cukup umur untuk menikah mas, Aku saja menikah waktu itu belum genap delapan belas tahun. kalau mas menunggu tiga atau empat tahun itu sepertinya ketuaan mas."


"itu belum ketuaan dik, kamu saja kegenitan kecil-kecil sudah menikah." Mas Roland kembali menggodaku dengan candaannya yang garing. Aku hanya tersenyum mendengar setiap gurauannya, dia terlihat berbeda dari mas Roland yang biasanya.


"ayo turun dik, kita sudah sampai." Mas Roland menyuruhku turun setelah memarkirkan mobil mewahnya. Setelah turun, aku mengikuti langkah kaki mas Roland.


"silahkan masuk dik," mas Roland mempersilahkan aku masuk setelah pintu dibuka oleh seorang wanita paruh baya.


"mama mana,kok gak keliatan bik?


"beliau sudah tidur den barusan minum obat."


"Oalah kita telat dik, mama sudah tidur sepertinya kamu belum bisa bertemu mama sekarang."


"tidak apa-apa, mas. Aku mungkin bisa bertemu mama mas lain kali. kalau begitu, aku pulang saja mas sekarang mas dari pada nanti kemalaman pulangnya."


"baiklah, mas akan kamu pulang sekarang." mas Roland kembali berbalik sebelum mempersilahkan aku duduk di sofa mewahnya.


'aku belum berjodoh dengan sofa mewahnya mas Roland' Aku berkata sendiri dalam hati, ternyata aku harus pulang sebelum merasakan enaknya duduk di sofa mewah milik mas Roland.


Aku mengikuti langkah kaki mas Roland ke luar rumah, mas Roland begitu cepat dan panjang langkahnya hingga aku tidak mampu berjalan sejajar dengannya.


Sedang berjalan keluar rumah mas Roland, aku tidak sengaja melihat sebuah foto terpasang di ruang tamu mas Roland. Aku terkesiap memandang wajah orang yang ada di dalam foto tersebut.


'lha kok bisa fotoku terpajang di sini, mas Roland pasti telah mengambil fotoku secara diam-diam dan memajangnya di sini. Ini sudah tidak benar, mas Roland telah mengambil fotoku tanpa sepengetahuanku. Aku harus menanyakan padanya, kenapa dia begitu lancang melakukannya?' aku benar-benar terkejut melihat foto itu, ternyata mas Roland mengambil dan memajang fotoku di rumahnya tanpa sepengetahuanku.


"

__ADS_1


"


__ADS_2