
"sudah subuh, aku harus segera bangun." aku berkata berusaha bangun dari tidurku. Aku semalam tidur dengan nyenyak sekali, puas menikmati keberhasilanku.
Aku merasa puas bisa membalas dendam kepada mas Ringgo dan si Ratu ular itu. Mereka pasti merasa malu karena kejadian semalam. Membayangkan semua itu, aku merasa merasa bahagia sekali
'berani mempermainkan hidupku, berarti kalian siap menerima pembalasanku dariku' aku berkata seraya bangkit menuju kamar mandi, aku tersenyum penuh kepuasan.
Hari ini, aku akan memulai usaha yang telah aku rencanakan. Aku siap memulai babak baru dalam hidupku. Aku akan memperlihatkan pada mas Ringgo, aku juga mampu seperti dia atau bahkan bisa melampauinya.
Aku melihat kearah jam yang tergantung di dinding kamarku, ternyata jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Setelah selesai melaksanakan shalat subuh, aku segera menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Sekarang, aku membuat sarapan tidak lagi memprioritaskan mas Ringgo. Aku merasa percuma mengorbankan diriku sendiri hanya. demi orang yang tidak pernah menghargai cintaku. Mulai sekarang, aku lebih baik memperhatikan dan menyayangi diriku sendiri.
Satu jam berlalu, aku selesai membuat sarapan yang tentunya lebih mementingkan keinginanku. Aku membuat sarapan nasi goreng dengan telur ceplok sebagai lauknya. Aku malas membuat makanan lain, karena memakan waktu lama dan ribet membuatnya.
Aku menata nasi goreng di atas meja, kemudian aku langsung menyantapnya tanpa menunggu mas Ringgo terlebih dahulu. Aku biasanya makan setelah atau paling tidak bersamaan dengan mas Ringgo, tapi sekarang aku tidak akan melakukan itu lagi.
Aku menyantap sarapan dengan lahapnya, karena aku memang sudah lapar. Baru separuh memakannya, aku melihat mas Ringgo sudah bangun dan sekarang menghampiri meja makan.
"dek tolong buatkan kopi untuk mas" Mas Ringgo berkata minta di buatkan kopi untuk ya.
"baik mas." Aku berkata seraya bangkit kemudian berlalu menuju dapur. Aku sebenarnya malas sekali membuat kopi untuknya, tapi aku tetap membuatkan kerena dia masih statusnya masih suamiku.
Beberapa menit kemudian, aku selesai membuatkan kopi untuk mas Ringgo dan segera membawa dan menyuguhkan kepadanya. Aku melihat mas Ringgo mulai menyeruput kopi yang aku hidangkan untuknya.
__ADS_1
Sesaat setelah menyeruput kopi, aku melihat mas Ringgo memuntahkan kopi yang masih berada di dalam mulutnya. Dia segera meletakkan gelas kopi yang ada di tangannya ke atas meja. Aku paham kenapa dia begitu, pasti kopi yang aku buat rasanya pahit karena memang tidak aku kasih gula.
"kenapa mas?" Aku pura-pura bertanya seraya mengernyitkan kening ke arahnya. Aku serasa ingin tertawa melihat ekspresi wajahnya saat ini, aku senang sekali bisa memberi pelajaran kepadanya.
Ternyata membalas perbuatan mas Ringgo tidak sulit sama sekali, aku bisa membalas perbuatan jahatnya kepadaku setiap saat. Hari ini, aku mulai hariku dengan memberikan sedikit pelajaran kepadanya.
Aku sengaja membuat kopi pahit untuk mas Ringgo, sebenarnya aku masih memiliki gula tapi aku sembunyikan. Aku ingin dia juga merasakan sedikit rasa pahit yang sekarang aku rasakan.
"dek kopinya tidak di kasih gula ya, rasanya pahit sekali." Dia berkata seraya menelan air ludahnya yang terasa pahit.
"iya mas, aku tadi memang tidak memberi gula karena gula kita habis dan aku tidak punya uang untuk membelinya." aku berkata dengan pelan berusaha menjelaskan kepadanya.
"memang nya, uang belanja yang mas berikan sudah habis dek? mas Ringgo bertanya hatiku langsung panas dibuatnya.
"sudah habis mas, kamu memberikan uang belanja kepadaku cuma satu juta lima ratus sebulan untuk semua kebutuhan. Mana cukup uang sebanyak itu untuk belanja sebulan mas." Aku berkata kepada mas Ringgo, kali ini dia harus tahu kalau uang yang diberikannya selama ini kurang. Aku tidak mau menutupinya lagi.
"selama ini, aku memang tidak pernah protes mas tapi sekarang aku tidak bisa lagi mengatur uang sebanyak itu. terus terang uang belanja yang kamu berikan itu kurang." Aku berkata kepada mas Ringgo, ini kesempatanku untuk mengungkapkan kekesalanku.
Aku kemudian meneruskan sarapan, aku sengaja tidak menawarkan kepadanya. Aku lebih memilih untuk segera menyelesaikan sarapanku karena ada yang harus lakukan hari ini.
Mas Ringgo harus terbiasa mengambil sarapannya sendiri, aku telah menghidangkan di atas meja. Biasanya, aku selalu mengambilkan makanan dan menyuguhkan tepat di depannya tapi sekarang sudah berbeda. Aku sudah tidak mau lagi melakukannya, dia harus mengambil sendiri makanannya.
"ada apa dek, mas merasa ada sesuatu yang terjadi padamu? mas Ringgo bertanya rupanya dia menyadari perubahan sikapku.
__ADS_1
"tidak ada apa-apa mas, aku hanya lelah dengan semua ini. Aku harus pintar untuk membagi uang belanja yang sedikit, padahal uang yang kamu berikan memang tidak bisa mencukupi kebutuhan bulanan rumah ini. Aku mulai lelah mas." Aku berkata kepada mas Ringgo, aku sudah tidak sanggup lagi menahan gejolak di hatiku
Mas Ringgo harus mengetahui semua yang aku rasakan, sebaiknya aku mengungkapkannya sekarang. Dia harus tahu selama ini dia belum mampu memberi nafkah sebagaimana mestinya, jadi dia tidak pantas memperlakukan aku seperti ini.
"mas kurang mengerti, apa sebenarnya maksudmu dek?" Mas Ringgo berkata kepadaku seraya menatap serius kepadaku, mungkin dia mulai merasa perubahan sikapku pagi ini.
"mas Ringgo sebenarnya, apa yang kamu sembunyikan dariku selama ini? Aku berharap kamu jujur kepadaku." Aku melontarkan pertanyaan kepada mas Ringgo, aku ingin dia menjawab dengan jujur meski aku telah mengetahui kenyataan sebenarnya.
Aku memandang mas Ringgo dengan tatapan tajam menunggu kejujuran keluar dari mulutnya. Aku berharap dia masih memiliki sedikit kejujuran di hatinya.
"mas tidak menyembunyikan apapun darimu dek, kamu harus percaya pada mas." mas Ringgo berkata seraya tersenyum dengan penuh percaya diri, seakan tidak ada kebohongan di sana. Mas Ringgo benar-benar memiliki kemampuan tingkat dewa dalam berbohong.
Aku mendengar kata-kata mas Ringgo merasa kecewa, ternyata dia mampu berbohong sambil tersenyum. Mas Ringgo ternyata tidak sebaik yang aku pikirkan selama ini, aku merasa tidak mengenalinya Selama ini.
"Apakah benar mas, apa kata-katamu bisa Aku percaya?" aku bertanya kepada mas Ringgo seraya menatap ke arahnya. Aku ingin mendengarkan sekali lagi apa yang akan diucapkannya.
"benar dek." jawabnya singkat.
Aku tidak bertanya lagi kepada, sudah cukup aku mendengar ucapannya. Aku merasa percuma saja aku bertanya, dia tidak akan pernah berkata jujur.
Selesai sarapan, aku segera menuju kamar. Aku kemudian segera mandi dan mengenakan pakaian yang paling bagus yang aku miliki. Aku tidak lupa memakai riasan wajah, Aku ingin berpenampilan jauh lebih cantik dan menarik dari biasanya.
Aku keluar kamar setelah selesai merias diri, aku mendekati mas Ringgo dengan maksud untuk berpamitan kepadanya. Dia terlihat tercengang melihat perubahan penampilanku yang sekarang.
__ADS_1
"kamu mau kemana dek?" mas Ringgo bertanya seraya memperhatikan penampilanku.
"aku mau mencari pekerjaan mas, aku pamit ya." aku berkata seraya berlalu meninggalkannya. Aku tidak mau menunggu jawaban darinya.