
"cepat mas, aku sudah tidak sabar ingin segera melihat isi hardisk itu."
"sabar dik, kita akan segera mengetahuinya. Nah ini dia." Mas Roland menekan satu tombol dan seketika layar laptop menayangkan satu Vidio.
Dalam Vidio itu, aku melihat bundaku sedang duduk di ranjang dengan wajah sedikit pucat. Aku yakin beliau membuat Vidio itu dalam keadaan sakit, itu artinya Vidio ini belum terlalu lama beliau rekam.
Saat memandang wajah bunda dalam Vidio itu, seketika terbit rasa rinduku pada beliau. Aku ingin sekali rasanya memeluk beliau, walaupun aku sadar sepenuhnya itu tidak mungkin karena beliau sudah tiada.
Sejurus kemudian bunda mulai berucap dan aku mendengarkan dengan segenap perhatianku.
[Putri kesayanganku, Rianti]
["Saat kamu menemukan Vidio ini, mungkin bunda sudah tiada. Bunda minta maaf padamu karena tidak mampu memberi tahu kamu secara langsung. Bunda harap kamu mau memaafkan segala kesalahan bunda karena kamu harus tahu bunda melakukan semua ini karena bunda teramat sayang dan tidak mau kehilangan kamu."
'melalui Vidio ini, bunda ingin memberi tahu jati diri kamu yang selama ini bunda rahasiakan darimu. Sebenarnya, Rianti bukanlah anak kandung bunda. Sekitar dua pulu tahun yang lalu tahun yang lalu, bunda menemukan Rianti menangis di depan pintu rumah. Ketika bunda bertanya, kamu tidak bisa menjelaskan apapun karena kamu memang belum bisa berbicara.'
Hari berganti hati, bulan berganti bulan ternyata tidak ada orang yang mengakui dan mencari kamu. Akhirnya, bunda memutuskan untuk mengasuh dan menjadikan anak bunda karena memang bunda tidak memiliki anak. Sekali lagi, bunda minta maaf pada Rianti telah merahasiakan semua ini.'
'Selain itu, bunda ingin mewasiatkan dan mewariskan semua Harta bunda padamu Rianti. Kamu bisa melihat semua surat-surat dan berkas yang bunda tinggalkan bersama hardisk ini, Semua itu adalah surat-surat berharga dan surat kepemilikan harta benda yang bunda miliki. Bunda berharap kamu mengelola dan menggunakan harta yang bunda tinggalkan dengan bijak.Kamu harus menggunakan harta itu untuk membuat dirimu bahagia. Bunda tidak ingin hidupmu menderita setelah kepergian bunda."
'satu lagi pesan bunda untukmu. Andaikan suatu saat ada yang datang padamu dan meminta bagian atas harta yang bunda tinggalkan, kamu jangan pernah memberikannya walau dengan alasan apapun. Semua harta ini peninggalan dari orang tua bunda, jadi bukan warisan almarhum ayah.
__ADS_1
'Kalau suatu saat ada yang datang dan mengakui, dia adalah anak almarhum ayah kamu jangan pernah percaya kepadanya. Bunda yakin sekali kalau dia bukanlah anak ayah, karena ayah sebenarnya mandul. Kamu jangan berikan sepeserpun harta kita pada mereka, bunda tidak rela mereka menikmati harta bunda. Kamu harus tahu Rianti, bunda sangat membenci mereka, karena mereka telah menghancurkan hidup bunda.
Salam sayang untuk Rianti, bunda mohon kamu pernah pernah membenci bunda. Setelah kepergian bunda, kamu harus menjaga dirimu baik-baik dan jangan pernah biarkan orang lain menyakitimu. Bunda tidak rela kali kamu sampai disakiti oleh orang lain karena bunda sangat menyayangimu. Hanya sekian pesan bunda buat Rianti, bunda selalu berdoa semoga kebahagiaan selalu menyertai hidupmu.']
Aku terpaku tatkala mendengar wasiat bunda dalam Vidio tersebut, aku benar-benar terkejut mendengarnya. Aku sejenak menoleh dan menatap mas Roland, kemudian dia mengusap bahuku.
"mas harap kamu tidak pernah menyalahkan bunda, karena dia orang yang sangat berjasa dan membesarkan kamu dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan."
"iya mas, aku tidak akan pernah menyalahkan beliau bahkan aku bersyukur bisa bertemu dan menjadi anak beliau. Kalau bukan beliau yang menemukanku, aku tidak tahu bagaimana nasibku."
"sebaiknya, kamu selalu mendoakan beliau semoga beliau hidup bahagia di surga." Mas Roland menasehati, aku hanya mengangguk pelan mengiyakan kata-katanya. Ternyata, mas Roland memang bijak sekali orangnya.
" oh ya dik, coba mas lihat berkas dan Surat-surat tadi?"
Mas Roland membuka dan membaca satu persatu surat-surat tersebut. Dia terlihat terpana setelah membaca, aku menjadi bingung melihat ekspresi wajahnya.
"ada apa mas, apakah itu surat catatan hutang?" Aku bertanya pada mas Roland, aku mulai merasa cemas.
"bukan dik, tapi malah sebaliknya. Kamu adalah pewaris tunggal dari harta yang tidak sedikit nilainya. Sekarang, kamu menjadi pemilik beberapa perusahaan yang cukup besar dan beberapa aset yang tidak sedikit jumlahnya.
"apa mas, aku tidak mengerti maksudmu?"
__ADS_1
"iya dik, bunda kamu telah mewariskan semua Harta beliau kepadamu. Sulit dipercaya tapi ini adalah kenyataan, kamu menjadi kaya dalam semalam dik."
"benarkah mas?" aku kembali bertanya seakan tak percaya dengan apa yang aku dengar. Aku kemudian mengambil berkas-berkas yang ada di tangan mas Roland dan membacanya. Ternyata benar, bunda mewariskan semuanya kepadaku.
'betapa baik dan tulusnya cinta dan kasihmu padaku bunda, setelah meninggalkan bunda masih memberikan kebahagiaan padaku.' Aku berkata dalam hati, tanganku gemetar memegang semua berkas yang sekarang berada di dalam genggamanku.
"untung saja, aku menemukan semua berkas ini sekarang mas. Aku tidak tahu apa jadinya andaikan aku menemukan semua berkas ini ketika masih bersama mas Ringgo, mungkin dia akan mengambil semua ini dengan segala tipu daya sebelum dia berselingkuh dengan wanita itu.
"Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya dik, dalam setiap penderitaan dan kepedihan pasti ada kebahagiaan yang akan datang menjelang. Jadi, kamu tidak usah larut dalam duka karena masih banyak yang tulus mencintai dan menyayangimu dik." Mas Roland menasehati ku dengan bijak, aku merasa apa yang di katakan mas Roland itu memang benar. Terbukti sekarang, aku sekarang menjadi kaya raya setelah menderita karena perbuatan mas Ringgo.
"iya mas, aku mengerti. Aku berharap semoga ini awal dari kebahagiaanku."
"teruslah berdoa dik, Allah pasti akan menerima dan menjawab doa orang-orang yang meminta dengan setulus hati.
"iya mas, itu pasti." Aku menjawab mantap seraya menganggukkan kepala.
"sekarang sebaiknya kita tidur dik, hari sudah larut malam." Mas Roland berkata seraya memperhatikan jam tangannya, aku kemudian mengedarkan pandangan. Ketika melihat jam dinding dinding ternyata sudah jam satu malam.
"iya mas, kita tidur sekarang tapi aku tidur dimana ya?"
"kamu tidur dikamar tamu, mas sudah menyuruh bik Ijah membersihkannya."
__ADS_1
"baiklah mas, aku akan tidur." Aku kemudian merapikan semua berkas dan memasukkan kembali ke dalam tasku.
Aku kemudian keluar dari ruang kerja mas Roland hendak menuju ruang tamu. Setelah berada di luar, aku malah bingung harus ke kamar yang mana karena aku melihat beberapa kamar.