
"aku tidak tahu maksud kamu mas" aku berkata pada mas Roland, berpura-pura tidak mengerti dengan yang mas Roland katakan. Tapi, mas Roland hanya senyum-senyum saja ke arahku. Aku menjadi semakin salah tingkah dengan senyuman yang diperlihatkan mas Roland padaku.
"sudahlah dik, mas tidak akan menyalahkan kamu atas apa yang kamu lakukan. Mas merasa semua itu layak dan pantas Ringgo dapatkan. Mas Malah salut padamu, kamu bisa melindungi dirimu walau caramu itu salah."
"aku mencuri kamu kok malah bangga, mas ini ada-ada saja deh." aku menjawab, sebenarnya aku malu tapi bagaimana lagi mas Roland ternyata telah mengetahuinya.
"mas rasa Ringgo pantas mendapatkan balasan seperti itu dik, andaikan kamu membalas lebih dari itu mas rasa itu wajar-wajar saja."
"aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku, tidak lebih dari itu. Aku tidak mau wanita yang telah merenggut surgaku menikmati apa yang seharusnya aku dapatkan mas, makanya aku menguras tabungan mas Ringgo." Aku menjelaskan alasanku mencuri uang yang ada dalam ATM mas Ringgo.
"mas paham dengan apa yang kamu rasakan saat ini dik, kamu harus kuat menerima segala takdir yang digariskan oleh yang maha kuasa kepadamu." Mas Roland berkata, aku hanya mengangguk kecil mendengarkan nasehatnya.
"aku rasa kamu tidak sepenuhnya paham dengan apa yang aku rasakan mas. Aku merasa sangat terpuruk ketika mengetahui mas Roland menduakan aku selama ini. Aku yang selalu setia menemaninya sejak dari masa sulit, tapi dia tega mengkhianati ku ketika telah sukses seperti sekarang ini mas. Aku mati-matian berhemat karena mengira pendapatannya tidak seberapa. Aku mencoba memahaminya tapi apa yang aku dapatkan mas, aku malah terluka karena dia lebih memilih memanjakan selingkuhannya dengan membelikan barang-barang mahal. Terus terang, aku sangat terluka atas perlakuan mas Ringgo kepadaku mas." Aku menjelaskan panjang lebar kepada mas Roland.
Aku tidak bisa menyembunyikan emosi jiwa yang meledak ketika menjelaskan perasaan yang aku rasakan saat ini. Mas Roland terdiam mendengar penjelasan, aku merasa sedikit lega setelah mengutarakan isi hati yang selama ini mengendap memenuhi ruang hatiku.
"kamu sabar ya dik, mas yakin si Ringgo dan selingkuhannya pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya. Aku harap kamu segera melupakan semua ini, kamu harus segera move on dik,"
__ADS_1
"iya mas, aku akan berusaha menjadi pribadi lebih baik ke depannya mas. Aku tidak mau terperangkap dalam mas lalu, semoga saja aku bisa mendapatkan kebahagian lain di masa depan." aku berujar seraya menghibur diri sendiri, semoga saja harapanku di kabulkan oleh yang maha kuasa.
"sudah dik, kamu jangan sedih lagi. Mas pastikan mulai sekarang mas akan berusaha membuat kamu bahagia." Mas Roland berkata seraya mengusap lembut pucuk kepalaku, aku merasa suatu kehangatan dan kekuatan mengalir dari telapak tangannya. Aku benar-benar mendapatkan kekuatan ketika mas Roland mengusap kepalaku.
"iya mas." aku cuma bisa mengatakan hal itu karena kebahagiaan yang yang di berikan mas Roland mampu membuat hatiku bahagia.
"bagaimana mas, apa kamu ada waktu untu menemaniku buat bersih-bersih? Terus terang aku takut melakukannya sendirian karena kamar belakang itu sudah lama tidak aku bersihkan."
"baiklah dik, ayo kita bersihkan mumpung sekarang mas libur." mas Roland menyanggupi permintaanku, aku senang sekali mendengarkannya. Aku segera bangkit mengambil kunci kamar belakang yang aku sembunyikan jauh dari pandangan mas Ringgo.
Setelah mendapatkan kunci, aku segera membuka pintu kamar belakang seketika hawa pengap menyeruak keluar. Aku bergegas mengambil masker dan segera memakainya. Tidak lupa, aku juga memberikan masker pada mas Roland.
Belum terlalu lama melakukan, ponsel Roland tiba-tiba berdering. Mas Roland sedikit menjauh kemudian dia menjawab panggilan.
Entah apa yang dibicarakan, aku tidak bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mas Roland do ponselnya.
"maaf ya dik, mas tidak bisa membantu kamu sampai selesai. Mas harus segera pergi menemui seseorang. Mas lupa kalau hari ini mas punya janji, mas harus segera menemuinya."
__ADS_1
"gak apa-apa mas, kita lanjutkan nanti kalau kamu sudah tidak sibuk. Aku sebaiknya membereskan barang-barang yang telah kita keluarkan." Aku berujar pada mas Roland, mas Roland mengangguk kecil mengiyakan kata-kataku.
"kalau begitu mas pergi dulu ya, mas harus segera menemui orang itu."
"iya mas" jawabku singkat. Aku melihat mas Ringgo berlalu pergi, dia terlihat buru-buru sekali. Entah apa yang akan dia lakukan, aku merasa apa yang akan dilakukan sangat penting sekali.
Setelah kepergian mas Roland, aku segera kembali mengunci pintu kamar belakang. Aku kemudian kembali menyembunyikan kunci ke tempat yang aku rasa tidak akan di duga oleh orang lain. Aku kemudian lanjut membersihkan barang-barang yang tadi telah kami keluarkan.
Aku butuh waktu lama membersihkan barang-barang tersebut karena ternyata barangnya banyak juga. Aku memisahkan barang-barang yang masih layak untuk di pakai dan barang barang yang tidak mungkin bisa aku gunakan lagi.
Ternyata di sana masih banyak pakaian ibuku yang masih bagus-bagus dan layak pakai. Aku melihat dan memindai, aku rasa baju itu tidak pantas aku kenakan karena memang pakaian ibu-ibu banget.
"Sebaiknya, aku apakan baju-baju ini. kalau aku bagikan ke tetangga mungkin mereka tidak akan mau menerimanya karena disini rata-rata orang berpunya. Aku merasa mereka tidak mau menerima pakaian bekas seperti ini."
"apa sebaiknya aku sumbangkan saja ke badan penyalur bantuan untuk bencana alam? Mereka pasti lebih membutuhkannya dan mereka pasti senang menerima baju pemberianku.Baiklah kalau begitu, aku akan menyumbangkannya saja semoga menjadi pahala untuk ibuku di alam sana." Aku berpikir dan berkata sendiri di dalam hati, aku kemudian membawa baju-baju tersebut ke kamar mandi untuk di cuci.
Aku akan mencuci semuanya sebelum aku sumbangkan. Walaupun baju bekas, aku akan memberikan dan menyumbangkan yang terbaik untuk mereka. Aku berharap mereka senang dan bahagia menerima pemberian dariku.
__ADS_1
Sementara merendam pakaian, aku melanjutkan membereskan barang barang yang tersisa. Aku membakar barang-barang yang tidak berguna dan tidak mungkin bisa di pakai lagi. Aku butuh waktu dua jam membereskan semuanya, setelah selesai ternyata tubuhku sangat lelah sekali. Aku beristirahat sejenak melepaskan lelah yang membelit tubuhku, tanpa terasa aku ketiduran.
Aku terbangun dari tidurku, aku segera melihat ke jam dinding ternyata hari sudah menunjukkan pukul tiga. Aku segera bangkit dan bergegas ke kamar mandi. aku segera mandi dan merapikan penampilanku, aku kemudian beranjak pergi ingin mencari makan.