SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 19: Kamu Memang Pantas Mendapatkan Semua Ini


__ADS_3

"mau kemana mas? tanyaku ketika melihat mas Ringgo beranjak pergi. Aku merasa ada yang salah dengan mas Ringgo, jangan-jangan uangnya kurang untuk membayar tagihan.


"mas mau keluar sebentar dek, mas mau ambil uang di ATM. kamu tunggu disini" kata mas Ringgo seraya menatap ke arahku. Aku merasa dia kesal karena ulahku sehingga dia harus membayar sebanyak itu..


Aku sendiri menyadari kalau uang segitu banyak sekali terutama bagiku, hampir sebanyak uang belanjaku sebulan. Tapi sekarang, aku sudah tak peduli apalagi merasa bersalah. Aku malah sengaja melakukannya supaya dia bisa merasa sedikit pembalasanku.


Andaikan, mas Ringgo tidak berbuat curang kepadaku semua ini tak perlu terjadi. Dia telah melukai hatiku, jadi tak salahnya pula aku menghancurkan hidupnya. Aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan. Aku akan berusaha membalas semua rasa sakit yang dia berikan kepadaku.


"Mas aku ikut kamu ya" pintaku kepadanya. Enak saja meninggalkan aku disini, aku tidak mau dijadikan barang jaminan. Aku sekarang merasa lebih berharga ketimbang dirinya.


"jangan dek, nanti mereka kira kita berdua akan kabur. Mas cuma sebentar disebelah sana mas lihat ada mesin ATM" kata mas Ringgo menjelaskan kepadaku. Aku kemudian berpikir sejenak, benar juga yang dikatakannya.


"baiklah mas, cepat kembali ya" jawabku seraya menganggukkan kepala. Aku merasa sedikit kesal, tapi biarlah aku tunggu saja.


Andaikan bisa ikut, aku punya kesempatan untuk mengamati dan membuat vidio ketika dia mengambil uang di ATM. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan semua uang mas Ringgo, tak peduli bagaimanapun caranya.


'semua harta mas Ringgo harus menjadi milikku, tidak akan aku sisakan untuk perempuan itu' aku membatin didalam hati. aku bulatkan tekad, berusaha membuang jauh-jauh segala keraguan.


"mbak, ini makanannya" kata pelayan yang tadi melayani kami seraya menyodorkan makanan yang telah dia bungkus. Aku kaget dan terperangah melihat pemandangan yang sekarang ada di hadapanku. Bagaimana tidak, Aku melihat sekantong besar makanan sisa makan kami tadi.


"sebanyak inikah mas?" tanyaku sambil membulatkan mata seakan tak percaya, heran sekali di buatnya.


"iya mbak, Cukup untuk makan selama dua hari mbak." dia berkata seraya tertawa melontarkan candaan kepadaku.


"he he, mas bisa saja" aku cuma bisa tertawa masam membalas candaannya, aku merasa candaannya tidak lucu.

__ADS_1


"mbak tidak biasa makan di rumah makan Padang ya? Semua makanan dicoba, resikonya ya mbak harus bayar semua" kata pelayan itu seraya tersenyum kepadaku, kesal sekali aku mendengar perkataannya.


"Enak saja sudah sering kali, aku sudah mengetahui peraturannya. Aku memang sengaja melakukannya, jadi jangan sok tahu. aku lebih pintar tahu" kataku seraya tersenyum mengejek kearahnya. Aku kemudian melangkah angkuh meninggalkannya yang terpaku mendengar jawabanku.


Aku merasa kesal kepada pelayan tadi, dia mengatakan begitu. Sebenarnya dia tidak salah berkata begitu, aku tahu dia heran mendengarkan jawabanku. Aku kemudian memandangnya dari jarak jauh, aku kembali melontarkan senyuman manis kerahnya.


"kalau diperhatikan wajahnya ganteng juga." kataku dalam hati tanpa sadar aku terbawa dalam lamunan.


"kenapa aku malah memujinya? sepertinya pikiranku mulai tak waras" aku kembali sadar dari lamunanku.


Aku kemudian mengalihkan pandanganku ke pintu rumah makan, ternyata mas Ringgo belum kelihatan juga.


"Mas Ringgo kok lama sekali ya, jangan-jangan aku ditinggal" kataku dalam hati, aku terus melayangkan pandangan kearah pintu.


Tidak berapa lama, mas Ringgo kembali melangkah dengan cepat. Aku senang melihat dia kembali, aku tak harus menunggu lagi. aku harus segera kembali ke rumah, kalau tidak rencana ku bisa gagal.


"mas harus antri dek, panjang juga antriannya" jawabnya seraya menatapku.


"ayolah dek, kita bayar tagihannya. Mas tidak mau berlama-lama di sini, kesal sekali rasanya.


Mas merasa kesal karena makan bayarnya sebanyak uang belanja sebulan.


'rasain kamu mas, rasakan pembalasanku. itu belum seberapa mas, aku pastikan kamu akan merasakan yang lebih menyakitkan dari yang sekarang" aku berujar dalam hati, puas sekali rasanya berhasil membuat mas ringgo kesal seperti itu.


"Ayolah mas, besok-besok kita tidak usah lagi makan di sini. Kita makan di rumah makan lain saja andaikan mau makan di luar, di sini makanannya mahal-mahal." aku membalas perkataan mas Ringgo dengan nada marah, padahal dalam hati aku sangat bersyukur.

__ADS_1


Kemudian mas Ringgo segera menuju meja kasir, aku mengikutinya dari belakang. Mas Ringgo kemudian menyerahkan uang sebanyak satu juta rupiah, dan menerima kembalian hanya sebesar tiga puluh lima ribu.


Aku melihat ekspresi wajah kesal menerima uang kembalian itu, terlihat wajahnya cemberut. Aku yang melihat hal itu, malah ingin tertawa. Aku merasa perutku terasa sakit menahan tawaku, tak ingin mas Ringgo tahu apa yang aku rasakan saat ini.


'puas aku mas, aku senang melihat kamu susah begini. Aku janji ini bukanlah yang terakhir tapi ini adalah awal dari deritamu.


"mas bantu aku membawa ini, kantong ini terasa berat" pintaku kepada mas Ringgo. Enak saja, dia melenceng dengan santai sedang aku susah membawa beban ini.


Sebenarnya, kantong ini tidak terlalu berat karena isinya cuma makanan. Dulu, aku tidak pernah membebani mas Ringgo kalau aku bisa melakukan sendiri.Tapi sekarang semua sudah berbeda, mas Ringgo harus lebih susah dariku.


"sini, malas sekali membawa makanan ini. kalau bukan karena harganya mahal, mas tinggalkan saja di sini." katanya kesal dengan wajah cemberut.


"ini mas, bantu ya" kataku dengan nada manja seakan menunjukkan rasa terima kasih. Aku merasa senang sekali malam ini. Seharusnya memang begini, mas Ringgo memikul beban jangan selalu mengandalkan dan menyusahkanku.


Aku mengikuti langkah mas Ringgo yang telah berjalan lebih dahulu di depanku. Aku berjalan bak nyonya besar melenggang sempurna tanpa beban karena mas Ringgo telah membawanya.


Sesampai di parkiran,mas Ringgo segera membuka pintu mobil dan menghidupkan mesinnya, aku segera mengikutinya. Aku mendudukkan pantatku di jok, puas sekali rasanya. Aku tidak henti-hentinya tersenyum walau hanya dalam hati, ternyata aku mampu melakukan semua ini.


"mas kesal sekali dek, makan sekali bayar buat sebulan. Mas menyesal makan di sini" kata mas Ringgo mengutarakan kekesalannya.


"ngak apa-apa mas cuma sekali ini, kita tidak rugi-rugi amat Kitakan diperbolehkan membawa makanan sisanya buat sarapan besok"kataku tanpa melihat kearahnya, aku mengatakan begitu dengan adanya perasaan bersalah karena aku memang sengaja melakukan.


"apa dek besok kita sarapan ini, kita sarapan dengan makan sisa? tanyanya seraya membulatkan mata ke arahku.


"tidak apa-apa mas, nantikan bisa makanan kita hangatkan lagi. Aku akan menghangatkan supaya tidak basi besok" aku berkata santai,senang membuat kamu seperti itu.

__ADS_1


'semua ini pantas untukmu mas, kamu memang sudah terbiasa makan makanan sisa.Buktinya, kamu mau dengan wanita bekas orang lain sedangkan kamu sendiri mempunyai aku yang lebih baik darinya.' aku berujar dalam hati seraya mengepalkan tangan, rasa sakit hatiku kembali menyeruak dalam kalbuku.


__ADS_2