
"aku harus bergegas pergi, nanti keburu tengah malam" aku berkata dalam hati. Setelah memastikan, mas Ringgo benar-benar telah berada di bawah pengaruh obat tidur yang aku berikan. Aku bergegas mencari keberadaan kartu ATM mas Ringgo dimana dia meletakkannya.
Aku memeriksa saku kanan celana mas Ringgo ternyata tidak ada, kemudian beralih ke saku kirinya tetap tidak aku temukan. Aku mencoba menggulingkan tubuhnya dengan hati-hati, aku takut membuatnya terbangun lagi.
Setelah berhasil menggulingkan tubuh mas ringgo, aku bergegas memeriksa saku belakangnya. Aku merasa kaget karena aku tak menemukan apa-apa di sana.
"dimana mas Ringgo meletakkan dompetnya? perasaan tadi Dia tidak kemana-mana? aku bertanya dalam hati seraya jelalatan mencari keberadaan dompet mas Ringgo.
Setelah mencari di dalam kamar dengan seksama, aku segera keluar mencoba mencari di dekat sofa. aku berjalan menuju sofa dengan terus memperhatikan keadaan sekeliling.
Setiba di sofa, aku langsung bergegas mencari. Aku mencari dengan seksama di semua tempat, tetap tak menemukannya. Aku mulai kelelahan, kemudian aku mendudukkan pantatku di atas sofa di mana mas Ringgo tadi duduk.
Aku beristirahat sejenak seraya mataku terus memindai seluruh tempat. Tiba-tiba, mataku melihat bayangan benda hitam di bawah kakiku. Aku segera memeriksa dan mendapati benda yang kucari tergeletak di sana, mataku terbelalak melihatnya
"ini dia, kamu kok ngumpet dariku sayang" aku berkata dalam hati, tanpa sadar mencium dompet yang sekarang berada di tanganku.
Aku segera membuka dompet mas Ringgo, aku terkejut dengan apa yang aku temukan. Aku mendapati kartu ATM mas Ringgo ada tiga dengan logo keluaran bank yang sama.
Aku sekarang menjadi bingung melihatnya, aku tak tahu mana yang harus aku bawa. Aku merasa heran bagaimana bisa mas Ringgo memiliki kartu ATM sebanyak itu, padahal sepanjang pengetahuanku mas Ringgo itu gajinya kecil.
" berapa sebenarnya gaji mas Ringgo? tanyaku di dalam hati seraya mengamati kartu demi kartu ATM tersebut. Aku tak mengerti mengapa mas Ringgo memiliki banyak kartu ATM.
" mas Ringgo, berapa banyak rahasia yang kamu tutupi dariku?" aku bertanya dalam hati, sakit sekali rasa hatiku. Aku merasa bodoh sekali sekarang, begitu saja mempercayainya.
Aku menyesal selama ini tidak peka, aku terkecoh oleh sikap manis mas Ringgo yang pandai sekali membohongiku. Sekarang aku hanya bisa melongo tak percaya, mas Ringgo berhasil membodohi diriku sedemikian rupa.
__ADS_1
"mas Ringgo, kamu benar-benar telah menyakitiku. Kamu telah menabuh genderang perang aku siap melayani permainanmu" aku menggenggam erat kartu yang ada di tanganku.
Aku meneruskan memeriksa isi dompet mas Ringgo, kali ini aku menemukan benda yang membuatku lebih terkejut lagi. Aku menemukan dua buah kartu kredit keluaran bank yang sama dengan kartu ATM yang telah aku ambil.
"mas, kamu benar-benar keterlaluan." aku bergumam dalam hati.
Aku merasa mendapatkan kejutan dari mas Ringgo, padahal sekarang bukanlah hari ulang tahunku. Mas Ringgo mengejutkanku dengan isi yang ada di dalam dompetnya, kejutan yang sangat membuatku kecewa.
"kamu mengecewakanku, mas" aku terus saja mengoceh dalam hati, merasa tidak bisa terima semua ini.
Aku mengambil kartu itu, kemudian aku menutup dompet mas Ringgo dan meletakkan ketempat semula aku temukan.
Aku kemudian bergegas menuju kamar tidur, mengambil tas buluk yang belum sempat aku ganti. Sejenak, aku memperhatikan wajah mas Ringgo yang terlelap seketika bangkit rasa benciku melihatnya
"kalau tidak takut dosa, aku ingin sekali melenyapkan kamu mas" aku berkata dalam hati seraya berlalu pergi. aku memantapkan hati untuk mulai beraksi.
Setelah merasa sedikit jauh dari rumahku, aku kemudian berhenti mencari apa saja yang bisa aku tumpangi. Aku merasa tidak sabar Sampai ditempat tujuanku yaitu mesin ATM.
Selang beberapa menit, aku melihat sebuah sepeda motor melintas. Aku melihat sepeda motor itu perlahan berhenti, aku sempat takut karenanya.
"ojek dek? tanya pengendara sepeda motor itu memberikan tawaran kepadaku, sejenak aku memperhatikan orang itu dengan seksama. Aku memandang helm, jaketnya ternyata ada tulisan go- jek di sana. Aku merasa lega karena bisa di pastikan pria itu pengendara ojek online.
"iya mas, tapi aku tidak punya aplikasinya" aku berkata kepada pria itu, mencoba menjelaskan. Aku memang tidak mempunyai aplikasi itu karena memang tidak pernah menggunakannya selama ini. Biasanya, aku selalu naik angkot bila hendak ke pasar untuk menghemat uang belanja.
"tidak apa-apa, saya akan mengantarkan adik. memangnya adik mau kemana? tanya pria itu kepadaku lagi.
__ADS_1
"saya mau ke rumah makan Padang yang ada di dekat lampu merah mas" kataku kepada pria itu lagi. Aku tidak mau mengatakan kalau aku mau ke Mesin ATM untuk mengambil uang. aku merasa takut nanti akan muncul niat buruk di hatinya kalau mendengarkan hal itu.
"baiklah, ayo naik" pengendara itu menyuruhku naik ke atas sepeda motornya.
" tapi mas, berapa ongkosnya ke sana? tanyaku sebelum menuruti untuk naik.
"adik cukup membayar tiga puluh lima ribu saja kok" jawab pria itu seraya tersenyum ramah kepadaku.
"baiklah" jawabku seraya bergegas menyambar helm di tangannya dan segera memakainya. Aku kemudian menaiki ojek itu, pria itu segera mengendarai motornya ke tempat yang aku sebutkan tadi.
Belum sampai di tempat yang aku tuju mendadak motor pria itu mati, aku mulai merasa ketakutan. Aku mulai membayangkan hal buruk yang akan menimpaku.
"ada apa mas, kok mendadak berhenti? aku bertanya di sela rasa takutku.
"entahlah dek, mas juga tidak tahu kenapa. mas akan periksa terlebih dahulu. Pria itu lalu turun dari motornya, aku kemudian mengikuti turun. Aku berdiri agak sedikit menjauh dari pria itu, terus terang aku merasa takut.
Pria itu menoleh tersenyum kepadaku, membuat aku semakin takut karena merasa senyumannya terlihat aneh di mataku. Aku memandang sekeliling ternyata tempat itu sepi.
kemudian aku kembali memperhatikan pria pengendara ojek online yang tadi mengantarku.
Aku melihat sibuk memeriksa motornya, mendadak dia memandang ke arahku dengan tatapan yang tajam menurut penilaian ku.
"ternyata bensinnya habis dek," pria itu tersenyum kepadaku, terlihat dengan nada bersalah. Aku melongo mendengar penjelasannya dengan perasaan sedikit kesal.
"terus bagaimana mas, saya keburu lapar" kataku kepada pria itu dengan menunjukkan raut muka sedikit memelas.
__ADS_1
"kita isi dulu bensinnya di itu warung itu, biasanya warung itu menyediakan bensin" kata pria itu lagi tanpa menoleh kepadaku. Dia mendorong sepeda motornya, aku mengikuti dari belakang. Aku merasa pria itu lama berjalan mungkin karena sepeda motornya terasa berat. Merasa tidak sabar, aku bergegas maju membantu mendorong sepeda motor itu.
"hadehhhhh, susahnya berbuat jahat banyak sekali rintangannya" Aku mengeluh di dalam hati, dengan rasa takut masih menggelayut di hatiku.