
"mas, apakah masih jauh tempatnya? tanyaku kepada pria pengendara ojek yang mengantarku tadi. Aku terus membantu mendorong sepeda motor itu, aku ingin segera pergi ke mesin ATM untuk menguras uang mas Ringgo. Namun ternyata, Dewi Fortuna sedang enggan bersamaku.
"tidak jauh lagi kok mbak, tuh warung yang di sana" katanya seraya menunjuk dengan dengan dagunya. Dia melangkah dengan cepat seraya mendorong motornya, aku berusaha membantu mendorong dari belakang.
Aku merasa pinggangku pegal sekali, ternyata mendorong motor itu melelahkan. Pria pemilik motor itu menoleh kebelakang menatap ke arahku, dia melayangkan senyuman manisnya kepadaku. Aku menjadi salah tingkah diperlakukan begitu.
'ternyata dia tampan juga, walaupun aku baru mengenalnya tapi dia begitu bersahabat. Aku jadi suka..., ah kenapa denganku ini' aku tersadar dari lamunanku, mungkin ini efek dari rasa kecewaku kepada mas Ringgo.
"apa lihat-lihat dik? Adik suka ya sama ya" ledek si pengendara motor, seraya tertawa kecil ke arahku.
"mas apa-apaan sih, gak mungkinlah saya suka sama mas. Kitakan baru bertemu, dari mana datangnya saya suka sama situ" jawabku seraya mencibir menutupi perasaanku.
"mana tahu adik mendadak suka sama saya, wajah saya kan tampan kayak artis sinetron" kata si pria pengendara motor seraya tersenyum menggoda ke arahku, aku menjadi jengah sekaligus makin salah tingkah mendengarnya.
"mas jangan ngawur, ayo cepat saya buru-buru. saya sudah kelaparan mas" kataku kepada pria pengendara itu lagi.
"maafkan saya ya, dik," kata pria itu dengan nada ramah kepadaku. Aku tidak merespon permintaan maaf pria itu, hatiku sedikit kesal.
Aku kesal bukan kepada pria itu tapi karena merasa niatku tidak didukung oleh keberuntunganku. Aku merasa ada saja yang menghalangiku ketika hendak berbuat sesuatu yang salah, walaupun itu sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahanku.
Aku menyadari kalau apa yang aku lakukan ini salah, mencuri uang suami sendiri. Tapi apa yang bisa aku lakukan, aku juga manusia biasa yang mempunyai rasa sakit hati dan kecewa. Aku tidak menyangka mas Ringgo bisa membohongiku begitu rupa.
Aku tidak menyangka sama sekali mas Ringgo akan mengkhianati kesetiaan cintaku, dia main hati dengan perempuan lain. Mas Ringgo tega meracuni cintaku yang tulus dengan perselingkuhan, mas Ringgo benar-benar keterlaluan. Dia telah menyakiti hatiku dengan berselingkuh di belakangku.
'mas Ringgo maafkan aku. Aku tidak pernah berniat melakukan ini, tapi semua ini terjadi karena kamu yang membuatku jadi begini' aku berkata di dalam hati seraya menghembuskan nafas berat, seberat beban hati yang aku rasakan saat ini.
"sekali lagi saya minta maaf dik" kata pria itu lagi menyadarkan pikiranku yang tengah sibuk mengenang kepahitan yang aku rasakan saat ini.
"ya, mas tidak apa-apa, bukan sepenuhnya salah mas" aku berkata seraya tersenyum pahit, membalas permintaan maaf pria itu. Dia memandang ke arahku seraya melayangkan senyum manisnya.
Aku mendorong sepeda motor itu lebih bersemangat, ternyata tempatnya cuma berjarak sepuluh langkah lagi. Sesampai di situ, pria itu langsung memesan bensin kepada pemilik warung.
__ADS_1
"mas, beli bensin dua liter" pria itu memesan.
"maaf mas, minyak barusan habis. Saya belum beli lagi." kata pemilik warung, tak pelak membuat saya terkejut mendengarnya.
"bagaimana ini mas? Aku bertanya kepada pria di depanku, seraya memandang ke arahnya. Aku mendadak bingung harus bagaimana.
"mas bisa beli minyak di warung sana, dekat kok. Mas suruh saja istrinya yang beli, mas tungguin motor di sini." kata pemilik warung tersebut ke pria pengendara motor yang ada di hadapanku. Seketika, aku memandang seraya melotot kearah pria pengendara motor tadi, dia hanya tersenyum saja.
"dia bukan suami saya kok mbak, saya hanya numpang naik motor bersamanya" jawabku cepat, coba menjelaskan kepada pemilik warung.
"oh ya, maaf mbak. saya kira suaminya" kata si pemilik warung tersenyum sendiri seraya masuk kembali ke dalam warungnya.
Aku menatap tajam kearah pria yang kini berada di hadapanku, dia malah terlihat salah tingkah karena tatapanku.
"saya tidak apa-apa kok dik, saya menerima adik kalau mau menjadi istri saya. Jujur saya masih jomblo lho dik" kata pria si pengendara motor terus saja menggodaku.
"ha ha, tapi aku gak mau. Ayo mas, kita harus buru-buru" kataku lagi malas menanggapi godaannya.
"biar saya sendiri yang mendorong dan membelinya, adik tunggu di sini" katanya seraya membalas tatapanku kemudian dia langsung mendorong sepeda motornya ke arah warung yang ditunjuk oleh pemilik warung tadi.
"baiklah, saya tunggu, awas kalau meninggalkan saya" kataku lagi kepadanya.
Pria itu bergegas mendorong motornya , aku memperhatikannya dari kejauhan. Aku mulai merasa sedikit percaya kepadanya, tidak curiga lagi. Aku mulai merasa nyaman dan aman di dekatnya.
Jujur saja awal bertemu tadi, aku merasa sedikit takut kepadanya. Aku merasa takut karena baru pertama kali ini keluar malam sendiri. Aku jadi parno karena sering mendengar berita kekerasan yang terjadi kepada wanita bila keluar malam.
"sudah dik, ayo naik. saya akan mengantarkan adik ke alamat yang diminta" kata pria pengendara motor tadi.
"ayo mas" jawabku singkat seraya lekas menaiki sepeda motornya.
Pria itu segera menjalankan sepeda motornya, aku duduk tenang sedikit menjauh darinya.
__ADS_1
"duduknya jangan menjauh begitu dong, nanti adik jatuh. adik maju sedikit, saya bukan orang jahat kok dik" katanya menjelaskan, aku merasa sedikit lega.
"siapa menjamin mas, sayakan tidak mengenal mas. Jaman sekarang, kita tidak bisa begitu saja mempercayai orang kadang orang yang kita percaya itu yang menghancurkan dan mengkhianati kita mas." kataku serius dengan nada sedih, memberikan sedikit pendapatku kepadanya.
"tapi tidak semua orang begitu, dik. kita jaga menghakimi setiap orang hanya karena perilaku segelintir orang." katanya kepadaku, yang terdengar lebih seperti sedang memberi semangat kepadaku.
Aku hanya bisa terdiam mendengar kata-kata pria itu, karena merasa perkataan pria itu tidak ada yang salah. Aku tidak bisa menyalahkan semua orang hanya karena perbuatan busuk mas Ringgo kepadaku. Mas Ringgo yang kurang ajar tidak seharusnya semua orang menanggung dosanya.
"masih lama kah mas? tanyaku merasa tak sabaran, ingin segera sampai.
"lima menit juga sampai, dik" jawab pria itu kepadaku"
tak berapa lama, kami sampai di depan restoran Padang yang menjadi tujuanku. Aku melongok ke segala arah, dan menemukan yang aku cari.
'tuh mesinnya di sana" aku berujar didalam hati, merasa senang sekali.
"oh ya dik, boleh kenalan gak. adik namanya siapa? tanyanya kepadaku.
"nama saya Rianti mas," jawabku seraya menyebut nama kepadanya.
"nama yang cantik sama seperti orangnya. kenalkan saya Roland" katanya memperkenalkan namanya sendiri.
"ihhh nama mas lucu, seperti merk jam tangan saja" berseloroh tersenyum kepadanya dan dia balas tersenyum kepadaku.
" oh ya dik rianti, adik bisa menelpon saya andai nanti membutuhkan jasa saya" katanya lagi seraya memberikan nomor ponselnya kepadaku. Aku menerima dan mencatat nomor ponsel tersebut di ponselku, karena merasa suatu saat aku pasti membutuhkannya.
"oh ya, mas kalau begitu terima kasih ya" jawabku seraya menyerahkan uang sebagai ongkos sebayak yang di sepakati diawal yaitu sebesar tiga puluh lima ribu.
"iya dik, sama-sama. semoga kita bisa bertemu lagi lain kali" katanya kepadaku, aku kemudian balas mengangguk seraya meninggalkannya.
Aku segera bergegas menuju mesin ATM, segera melakukan aksiku, semoga tidak ada lagi rintangan kali ini. Aku berharap semoga aku berhasil.......
__ADS_1