SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 39: Aku Tak Mau Tahu


__ADS_3

Pagi ini, aku bangun lebih awal dari biasanya karena hari ini adalah hari pertama aku membuka usaha laundry kiloan yang baru aku buka. Aku bangun jam empat subuh, satu jam sebelum azan subuh berkumandang. Aku siap menyongsong hari baru dalam kehidupanku, semoga ke depannya aku bisa menjadi wanita yang lebih tangguh dan mandiri


Aku mulai membereskan rumah terlebih dahulu. Selesai membereskan rumah, aku kemudian menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Aku harus melakukan semua pekerjaanku secepat mungkin, pokoknya sebelum mas Ringgo berangkat bekerja semua sudah selesai.


'sudah azan subuh, sebaiknya aku sholat subuh terlebih dahulu.' aku berkata di dalam hati, ketika mendengar azan subuh berkumandang di mesjid.


Sejenak, aku menghentikan segala aktivitasku untuk menghadap kepadanya. Aku segera mengambil wudu' untuk melaksanakan shalat subuh. Aku melaksanakan shalat subuh dengan khusu' melupakan sejenak segala masalah yang sedang aku hadapi.


Selesai sholat, aku tidak lupa memanjatkan doa semoga aku bisa melalui hari ini dengan penuh kesabaran dan diberi kekuatan dalam menghadapi segala masalah. Setelah selesai, aku kemudian kembali melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda.


Sedang membuat sarapan, aku mendengar suara langkah kaki keluar dari kamar tidur. Aku menoleh kearah Suara itu, Mas Ringgo ternyata telah bangun, dia terlihat memasuki kamar mandi.


"dek kok tidak membangunkan mas." kata mas Ringgo berkata setelah keluar dari kamar mandi. Aku hanya menoleh kemudian melanjutkan pekerjaanku yang masih belum selesai.


Tepat jam enam pagi, aku telah menyelesaikan semua pekerjaanku. Aku melihat mas Ringgo keluar kamar dengan penampilan yang sudah rapi, dia terlihat heran memandang rumah sudah rapi sepagi ini.


"mas silahkan sarapan duluan, nanti aku menyusul." aku berkata seraya berlalu menuju kamar tidur.


"mau kemana dek?" mas Ringgo bertanya, kelihatannya dia heran melihatku meninggalkannya yang sedang sarapan. Selama ini, aku tidak pernah bersikap seperti itu karena beranggapan tidak sopan.


"Aku mau ganti baju mas," aku berkata seraya masuk ke dalam kamar. Aku bergegas mengganti baju dan merias wajah secantik mungkin.


Aku merasa perlu merubah penampilanku, karena aku bukan hanya seorang ibu rumah tangga tapi jadi wanita karir mulai sekarang. Aku percaya penampilan sempurna akan ikut menunjang kesuksesan usahaku.


"dek, kamu mau kemana dandan cantik begitu? mas Ringgo bertanya, dia memandang seakan terpesona dengan penampilanku yang sekarang.

__ADS_1


"aku mau ke toko mas, mau membeli perlengkapan untuk usaha laundry kiloan yang akan ku dirikan aku lupa membelinya kemaren." aku berkata kepada mas Ringgo seraya duduk di hadapannya kemudian memuai sarapan.


Aku tidak begitu memperhatikan mas Ringgo, aku fokus menyantap makananku. Dari sudut mataku, aku melihat mas Ringgo tidak henti-henti memandang ke arahku. Entah apa yang dipikirkannya, tapi aku tidak peduli sama sekali. Setelah merasa cukup, aku segera mengakhiri sarapan pagi ku.


"mas hari ini kamu gajian, aku harap kamu menepati janji akan melebihkan uang belanja bulan ini." Aku berkata seraya mengingatkan supaya dia menepati janjinya beberapa hari yang lalu.


"tapi dek, .....


"tidak ada tapi-tapian mas, aku tidak mau tahu. kamu harus menepati janjimu kepadaku." aku berkata seraya bangkit membereskan meja makan. Aku tidak mau menerima alasan apapun, dia harus menepati janjinya beberapa hari yang lalu.


"dek kalau begitu mas berangkat dulu." katanya seraya bangkit meninggalkanku, dia hendak pergi ke kantor. Aku mengikuti mas Ringgo dari belakang bukan berarti aku mau ikut dengannya, tapi aku akan pergi ke toko untuk membeli perlengkapan laundry..


"lho dek mau pergi sekarang? mas Ringgo berkata menatap heran kepadaku, tapi aku hanya mengangguk malas untuk banyak bicara.


" tidak usah mas, aku selama ini sudah terbiasa jalan kaki." kataku sinis, entah kenapa sekarang aku tidak tertarik akan tawarannya.


Semenjak mengetahui mas Ringgo telah berbohong dan selingkuh di belakangku, aku merasa perasaan hormat dan sayang di hatiku hilang begitu saja. Aku merasa hatiku bagai mati rasa, yang tersisa hanyalah luka dan keinginan untuk melihat mereka berdua menderita.


"dek, apakah yang sebenarnya terjadi.Mas merasa kamu menyembunyikan sesuatu? mas Ringgo bertanya, hatiku sekarang semakin terluka dengan segala pertanyaan yang dia lontarkan kepadaku.


"tidak ada apa-apa mas, aku tidak pernah menyembunyikan apapun darimu. kamu tidak usah mengkhawatirkan aku." Aku berkata seraya berlalu darinya, sebaiknya aku cepat menyingkir sebelum aku tidak bisa menguasai diri.


Aku tidak mau berdebat lebih lama lagi dengannya, aku takut nantinya tidak bisa menguasai diriku sendiri. Sekarang, Aku tidak boleh mengungkapkan semua kebohongan yang dia sembunyikan dariku. Aku akan menunggu momen yang tepat untuk mengungkapkan semua itu.


"mas, aku pergi dulu." Aku pamit kepadanya, aku pergi terlebih dahulu meninggalkannya. Aku merasa lucu dengan kejadian pagi ini, seharusnya mas Ringgo yang pamit kepadaku seperti biasanya tapi sekarang akulah yang pamit kepadanya.

__ADS_1


Aku segera berlalu keluar pekarangan rumah, tanpa mau menoleh lagi kepada mas Ringgo yang masih berada di belakangku. Aku terus berjalan menyusuri jalan di komplek perumahanku.


Setelah agak jauh dari rumah, aku berhenti sejenak untuk melihat ke belakang. Ternyata, mas Ringgo tidak mengikuti dari belakang. Aku kemudian menelepon mas Roland, memintanya untuk mengantarku berbelanja.


Tak berapa lama kemudian datang, dia terlihat tersenyum manis memandang ke arahku. Aku melihat mas Roland tersenyum begitu, membuatku salah tingkah karenanya.


"dik Rianti," mas Roland menyapaku dengan senyuman manis masih terkembang di bibirnya.


"aku mau membeli perlengkapan perlengkapan laundry mas, sebaiknya kita membeli dimana ya mas?" aku bertanya kepadanya, sebelum naik motornya.


"dik rianti buka usaha laundry ya, sudah berapa lama?" dia malah balik bertanya kepadaku sedangkan pertanyaan yang aku lontarkan belum di jawabnya.


"baru buka hari ini, mas." aku menjawab jujur pertanyaannya, dia menatap terus kepadaku makin membuatku salah tingkah.


"oh, kalau begitu mari saya antar dik Rianti belanja. Saya tahu tempat belanja perlengkapan laundry yang murah." katanya seraya memberikan helm kepadaku. aku segera Makai helm dan bergegas naik motor mas Roland.


"pegangan yang erat kayak kemaren dik biar hangat," katanya seraya tertawa kecil, mungkin dia bermaksud bercanda.


" gak mau ah, dasar buaya buntung." Aku berkata kepadanya seraya menepuk pundaknya, aku balas bercanda untuk mencairkan suasana.


Tidak sampai tiga puluh menit, kami sampai di toko yang mas Roland maksud. Mas Roland benar ternyata disana menjual perlengkapan khusus laundry. Aku segera masuk dan memborong perlengkapan Laundry yang aku butuhkan.


"sudah selesai dik?" Aku mendengar suara mas Rolan bertanya, aku terkejut ternyata dia masih di sini. Aku kemudian mendadak ingat, aku lupa membayar ongkos ojek mas Roland.


"pantas saja mas Roland masih disini." Aku berkata dalam hati, merasa malu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2