SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 54: Aku Menunggu Keputusan Dan Surat Cerai Darimu, Mas


__ADS_3

"dek, kamu mau kemana?" Aku mendengar mas Aldo bertanya, tapi aku terus berjalan menuju pintu. Aku merasa tidak ada yang bisa aku lakukan lagi sekarang, semuanya sudah tiada artinya.


"aku mau pulang mas, tiada gunanya aku terus di sini. Aku sudah tidak mempunyai urusan dengan mereka berdua sekarang, silahkan kamu urus mereka berdua." Aku berkata seraya berlalu dari kamar sialan itu, aku sudah tidak kuat menghadapi semua yang terjadi, sebaiknya aku pergi.


"dek Rianti, tunggu tolong dengarkan dulu penjelasan dariku." Mas Ringgo terdengar memanggil namaku, tapi aku sudah tidak peduli dengannya. Aku sudah tidak mau mendengar alasan apapun darinya.


Aku tidak membutuhkan penjelasan apapun dari mas ringgo sekarang, semua sudah tampak nyata di mataku. Aku tidak akan membiarkan mas Ringgo, mempengaruhiku dalam mengambil keputusan.


"mas, aku berharap kamu segera mengambil semua barang-barang kamu dari rumahku. Aku menunggu keputusan dan surat cerai darimu, aku berharap kamu tidak mempersulitnya." Aku berkata tanpa menoleh kepadanya, sekarang aku sudah benar-benar muak dan sangat membencinya.


Aku sudah menutup semua pintu hatiku untuk mas Ringgo, sekarang dia tidak bisa kembali dalam kehidupanku. Aku harus kuat menerima kenyataan, walaupun pahit aku terpaksa mengambil semua keputusan ini.


'kamu yang memulainya mas, aku terpaksa harus mengakhiri semua hubungan ini. Aku akan mencoba menjalani hidup sendiri tanpa ada kamu di sisiku, mungkin inilah jalan yang tebaik bagiku mas.' Aku bergumam dalam hati, menelan semua kesedihan yang sekarang memenuhi setiap sudut di dalam hatiku.


Sekarang, aku sudah siap kehilangan mas Ringgo dari hidupku. Aku sudah tidak ingin mempertahankan rumah tanggaku dengan mas Ringgo, karena dia sudah menodai ikatan suci yang telah kami jalin selama ini.


Aku sekarang merasa sudah saatnya melepaskan mas Ringgo, aku sudah tidak mampu hidup bersama orang yang penuh dusta di dalam hatinya. Aku siap melepaskan mas Ringgo, berharap masa depanku lebih baik setelah tidak bersamanya.


Aku terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit, air mata tidak sanggup aku hentikan keluar dari tempatnya. Aku merasa pikiranku penuh dengan bayangan kejadian yang telah terjadi tadi.


'kenapa ini harus terjadi padaku?" Apakah aku pernah melakukan kesalahan dan berbuat dosa sebelumnya, sehingga tuhan memberikan hukuman seberat ini padaku?" Aku terus berjalan tanpa memperhatikan keadaan sekitarku, Aku menangisi nasib sial yang menimpa rumah tanggaku.

__ADS_1


Karena terlalu sibuk dengan pikiranku, aku tidak menyadari seorang pria muda lewat di depanku. Aku tanpa sadar menabrak orang tersebut, hingga jatuh berbarengan dengannya.


"aku tidak sengaja menabrak kamu, tolong maafkan aku." Aku segera meminta maaf seraya meringis menahan sakit, karena aku sadar memang akulah yang bersalah.


Pria muda itu memandang ke arahku, tatapannya begitu meneduhkan hati. Aku membalas tatapan matanya, terlihat ada duka tersimpan di dalam sana.


"tidak apa-apa mbak, aku juga bersalah tadi jalan buru-buru." dia berkata seraya bangkit berdiri, dia terlihat begitu letih. Entah apa yang sedang menimpanya, hingga terlihat begitu berduka.


Aku merasa sedikit kesusahan untuk berdiri, lutut kakiku terasa perih mungkin terluka karena terjatuh tadi. Pria muda itu mengulurkan tangannya kepadaku, Aku memandang kearahnya sejenak. Kemudian, aku menerima uluran tangannya dan berusaha untuk berdiri.


"maaf mbak, aku pergi dulu keluargaku sedang menunggu" Pria muda itu pamit meninggalkanku. Dia terlihat begitu terburu-buru, hingga aku tidak sempat mengucapkan terima kasih kepadanya.


Aku memeriksa lutut kakiku yang masih terasa perih, ternyata benar lutut kakiku terluka ada darah mengalir di sana. Aku merasa luka ini, makin menambah perih luka yang kurasakan.


Aku berjalan keluar rumah sakit dengan menyeret kakiku yang terluka. Setelah sampai di lobi, aku bertemu dengan mas Roland yang terlihat sedang mengobrol dengan seseorang. Mas Roland kemudian mendekat ke arahku, mungkin dia merasa heran dengan kondisiku.


"kenapa dengan kakimu, dik? Kamu kok jalannya seperti itu?" mas Roland bertanya,dia terlihat heran melihatku berjalan dengan menyeret salah satu kakiku.


"tadi, aku terjatuh di koridor sebelah sana mas." Aku berkata seraya menunjuk ke arah tempatku bertabrakan dengan pria muda tadi.


"oh, apa masih sakit dik? kalau masih sakit, sebaiknya kita obati dulu lukamu, setelah itu aku antar kamu pulang." Mas Roland memberi usul, aku merasa tidak enak karena akan merepotkan dia nanti ya.

__ADS_1


"lukanya sudah tidak terlalu sakit mas, sebaiknya aku pulang sekarang. Aku merasa sangat lelah sekali mas." Aku berkata menolak bantuan darinya, dia telah terlalu banyak menolongku selama ini.


Mas Roland memang baik orangnya, dia juga menunjukkan perhatiannya kepadaku. Aku merasa nyaman ketika berada di dekatnya tapi aku juga tidak mau selalu merepotkan dia.


"kalau begitu, mas antar kamu pulang ya, dik" mas Roland berkata menawarkan bantuan kepadaku, suaranya begitu lembut penuh perhatian. Aku memandangnya dengan tatapan penuh haru, hatiku begitu hangat melihat segala perhatian yang dia tunjukkan kepadaku.


"ya mas," Aku menerim tawaran mas Roland seraya menganggukkan kepala ke arahnya. Aku merasa perasaan kagum makin memenuhi hatiku, tatkala dia semakin menunjukkan kebaikan hatinya kepadaku.


Mas Roland membantuku berjalan ke halaman rumah sakit, tempat dia memarkirkan sepeda motornya. Aku segera memakai helm yang di berikan mas Roland kepadaku, sejenak mas Roland tampak memandangi wajahku.


Tidak tahu mengapa, aku merasa sesuatu yang tersirat dari tatapan mata mas Roland kepadaku. Aku sudah merasakan hal itu semenjak beberapa kali pertemuan kami, tatapan matanya seakan mengatakan sesuatu.


"ayo dik, kamu bisa naik sendirian?" mas Roland bertanya, dia mungkin ingin memastikan kalau aku bisa naik ke atas sepeda motornya.


"bisa, jangan khawatir aku tidak terluka parah kok mas." Aku berkata seraya naik motor mas Roland, luka di kakiku memang tidak terlalu sakit.


Aku merasa sakit di kakiku, belum seberapa bila tapi luka hatiku. Aku tidak percaya semua ini benar-benar terjadi, bukan hanya cuma mimpi.


Dalam perjalanan,aku hanya banyak diam tanpa banyak bicara. Aku masih bergulat dengan pikiranku, yang belum sepenuhnya bisa mencerna apa yang telah terjadi. Kenyataan ini sungguh pahit, aku terpaksa menelan pil pahit yang mas Ringgo berikan kepadaku.


"dik kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang telah terjadi padamu? Kenapa kamu terlihat begitu sedih?" mas Roland bertanya, seakan dia merasakan kesedihan yang sekarang sedang aku rasakan.

__ADS_1


Aku hanya diam saja tanpa bisa menjawab pertanyaannya, aku merasa lidahku kelu untuk mengatakannya. Aku mencoba menyandarkan kepalaku di punggung mas Roland, berharap ada sedikit kekuatan yang akan menguatkan hatiku.


Tak terasa air mataku meleleh berderai membasahi pipi, aku larut dalam kesedihan yang sekarang menaungi hatiku


__ADS_2