
'aku harus secepatnya membersihkan kamar ini, supaya dapat secepatnya menjalankan usahaku.' Aku berkata sendiri, ingin rasanya segera memulai bisnis yang telah aku rencanakan.
Aku harus menjadi wanita yang mandiri karena aku tidak mau selalu mengandalkan dan merepotkan mas Roland. Aku akan membangun usahaku sendiri dan membuat orang-orang di sekitar mengakui kemampuanku.
Aku mengeluarkan semua barang yang ada di kamar belakang, kemudian memilih dan memilah mana yang masih bisa digunakan dan mana yang harus aku singkirkan.
"uangku!" Aku berseru ketika uang yang aku simpan di dalam kardus tanpa sengaja berjatuhan. Aku cepat-cepat mengumpulkan dan memasukkan kembali ke dalam kardus.
'dimana sebaiknya aku menyimpan uang-uang ini, ya?" Aku berkata seraya memikirkan tempat yang tempat untuk menyimpan uang tersebut.
Aku berjalan menuju kamar tidurku, kemudian duduk sejenak memandangi uang yang ada di dalam kardus. Sejenak pikiranku melayang mengingat ulahku, aku mencuri semua uang mas Ringgo yang ada di dalam tabungannya.
Aku tersenyum kecil mengenang Masa-masa itu, ternyata aku tidak sebodoh yang mas Ringgo pikir selama ini. Aku mampu bertindak jauh melampaui ekspektasinya.
Aku bangkit dan berjalan menuju lemari pakaian yang berada tidak jauh dariku. Aku kemudian menyimpan semua uang hasil menguras tabungan mas Ringgo di sana.
Aku menyimpan uang di tumpukan paling bawah pakaianku, kemudian aku mengacak semua pakaian, kemudian menumpuknya di atas kardus berisi uang tersebut
Sebenarnya, aku merasa sedikit ragu menyimpan uangku di sana. Aku takut nanti mas Ringgo tiba-tiba datang dan bertanya banyak hal padaku termasuk mengenai uang tabungannya yang hilang secara misterius.
Tapi, aku tidak mempunyai tempat lain untuk menyembunyikannya. Aku akan menyimpan uang-uang ini di sana sampai semua terasa aman dan tidak akan ada yang curiga padaku nanti.
Setelah yakin dan merasa aman, aku kemudian kembali melanjutkan pekerjaanku. Aku bertekad akan menyelesaikan pekerjaan ini, hari ini juga.
Ping! Ping!
Aku mendengar ponselku berbunyi dari kejauhan, aku memindai sekeliling ternyata ponselku berada di atas meja. Aku segera menghampiri ponselku dan melihat siapa yang mengirim pesan. Ternyata, aku mendapat pesan singkat dari mas Roland.
[dik kamu di mana Sekarang?"]
[aku di rumah mas, aku sedang membersihkan kamar belakang"]
[oh, kamu jangan terlalu memaksakan diri, kalau ada kesulitan kamu segera hubungi mas]
[baiklah, mas sekarang lagi dimana?"]
[mas lagi di kantor, baru saja selesai meeting. Kalau begitu udah dulu ya dik, kamu jangan lupa makan dan istirahat"]
__ADS_1
[Ya mas."] aku menjawab singkat pesan mas Roland beberapa saat kemudian mas Roland tidak lagi mengirimkan pesan padaku.
Aku tersenyum seraya menatap ke arah ponselku, betapa senangnya ada yang memberikan perhatian. Aku bersyukur di balik kepedihan dan luka akibat perceraian ku dengan mas Ringgo, ternyata masih ada secercah kebahagiaan yang menyinari hidupku.
Aku kembali lanjut membersihkan kamar belakang, setelah lama berjuang akhirnya aku bisa mengeluarkan barang-barang yang ada di sana kecuali sebuah lemari besar yang minta ampun beratnya.
Aku mencoba mendorong lemari itu keluar kamar, jangankan berpindah tempat bergerak saja tidak. Ternyata, lemari itu memang luar biasa beratnya bagiku.
''apakah isinya lemari ini, kok berat benar. Sebaiknya, aku mengeluarkan isinya terlebih dahulu..' aku ngoceh sendiri.
Kemudian, aku mengeluarkan semua barang yang ada di dalam lemari sampai tidak ada satupun yang tersisa. Aku kembali mendorong lemari itu dengan sekuat tenaga, ternyata masih berat. Aku tidak sanggup mendorongnya sendiri, ternyata aku memang membutuhkan bantuan orang lain untuk mengeluarkannya dari kamar.
Sejenak, aku duduk di sofa untuk istirahat ternyata melelahkan juga membersihkan kamar ini. Aku duduk seraya memejamkan mataku karena kelelahan tidak terasa aku ketiduran.
Tok! Tok! Tok!
Aku terbangun dari tidurku tatkala mendengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Aku yang baru saja bangun, merasa ragu apa benar ada yang mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
Aku kembali mendengar suara ketukan pintu, ternyata benar ada yang datang ke rumahku Aku segera bangkit dan bergegas membukakan pintu, ternyata yang datang mas Roland. Aku terkejut melihat kedatangan mas Roland, setelah melihat jam dinding baru aku sadar kalau sekarang sudah sore.
"kok lama sekali buka pintunya dik?"
"maaf mas, aku tadi ketiduran karena kelelahan habis membersihkan kamar belakang."
"oh begitu, mas pikir kamu kenapa-kenapa. Apa kamu sudah makan?"
"belum mas, Aku baru saja bangun. Oh ya mas, tolong bantu aku mengeluarkan sebuah lemari mas. Aku tak sanggup mendorongnya ternyata berat sekali."
"sebaiknya kamu makan dulu, nanti mas bantu mendorong lemari itu."
"sebaiknya kita sekarang saja mengeluarkannya mas, karena lemarinya cuma satu. Setelah itu kita keluar cari makan gimana mas?" Aku bertanya, tak sabar rasanya.
"baiklah kalau begitu, ayo kita lakukan sekarang.
Mas Roland segera melangkah menuju kamar belakang, aku mengikutinya dari belakang. Setiba di sana, dia langsung mendorong lemari itu keluar kamar.
__ADS_1
Aku salut melihat tenaga mas Roland,dia dengan mudahnya memindahkan lemari itu. Tidak berapa lama, mas Roland sudah berhasil mengeluarkan lemari itu dari kamar belakang.
"nah gimana dik? Sekarang kamu kamu sudah puas kan?"
"makasih ya mas."
"kita keluar sekarang yuk, kamu belum makan dari pagi kan?" mas Roland mengajakku makan, sesaat sebelum pergi aku menoleh ke arah lantai dimana lemari tadi berdiri.
Aku merasa ada yang janggal dengan sepotong keramik yang tampak berbeda dengan yang lainnya. Aku mendekati keramik itu karena rasa penasaranku semakin mengusik hatiku.
"kamu mau kemana lagi dik?"
"tunggu sebentar lagi mas."
"ada apa dik, kok muka kamu terlihat serius begitu?"
"entahlah mas, aku juga tidak tahu. Aku ingin mengecek keramik itu. Aku merasa aneh saja, dari sekian banyak keramik itu tampak begitu berbeda." Aku kemudian berjalan mendekatinya, kemudian aku pelan-pelan menginjakkan kakiku di sana.
'tidak ada apa-apa.' Aku berkata dalam hati kemudian aku berjalan di atasnya. Aku berjalan bolak balik, sekarang aku merasa bunyi langkah kaki antara keramik itu sangat berbeda seakan ada ruang kosong di bawahnya.
"ada apa dik?" mas Roland bertanya, mungkin dia penasaran melihat ekspresi wajahku.
"mas dengarkan, apa mas juga dengar suara keramik ini berbeda dibanding dengan yang lainnya ketika diinjak?" aku bertanya pada mas Roland dan kembali berjalan bolak balik di atas lantai keramik itu.
"benar dik, kedengarannya ada ruang kosong di bawah keramik yang motifnya berbeda itu."
"benarkan mas, bagaimana kalau keramik ini kita bongkar mas?"
"katanya kamu belum makan dari pagi, apa kamu tidak lapar?"
"kita tunda makannya sebentar lagi mas, aku penasaran sekali. Sebaiknya kita bongkar dulu, setelah itu kita baru pergi mencari makan gimana?"
Untuk sesaat, mas Roland memandang ke arahku.Aku kemudian membalas tatapan matanya dengan anggukan kepala.
"baiklah kalau itu yang kamu mau, dik."
Mas Roland segera mencari alat untuk membongkar.
__ADS_1
Aku memperhatikan mas Roland yang sedang membongkar lantai keramik itu, aku semakin penasaran ada apa gerangan di bawah lantai itu.