
"mas kita makan yuk, aku lapar sekali" aku berkata pada mas Ringgo, siap menjalankan rencana untuk menguasai uang mas Ringgo yang ada di dalam kartu ATM yang belum sempat aku akses kemaren.
Aku harus menguras uang mas Ringgo hari ini juga, sebelum dia menyadari apa yang akan aku lakukan. Aku merasa hari ini waktu yang tepat, untuk melaksanakan aksiku.
"sebentar dek, mas mau cuci muka dulu gerah sekali rasanya." mas Ringgo berkata dia bergegas menuju kamar mandi, aku segera menyiapkan secangkir teh manis untuknya.
Aku memastikan keberadaan mas Ringgo, ternyata dia masih berada di kamar mandi. Aku segera memasukkan obat tidur yang telah aku siapkan kedalam teh, kemudian aku mengaduknya perlahan. Setelah memastikan obat tidur itu tercampur sempurna, aku segera menghidangkan di atas meja.
Tak berapa lama, mas Ringgo keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di meja makan. Dia menatap makanan yang tersaji di atas meja, dia kelihatan kurang berselera. Aku merasa ada yang aneh dengan sikapnya, tapi aku sudah tidak peduli akan semua itu.
"kenapa mas? aku bertanya dengan memperlihat wajah heran kepadanya.
"sebenarnya, mas akan mengadakan pertemuan dengan klien di restoran yang berada di dekat kantor dek. Sebaiknya mas segera berangkat ke sana, mas akan makan siang bersama dengannya." mas Ringgo menjawab seraya menatap ke arahku
Aku merasa ada yang janggal dengan alasan yang dia katakan. Tapi sekarang perhatianku bukanlah pada hal itu, aku sedang berusaha menguras harta dan uang mas Ringgo.Aku tidak akan mempermasalahkan itu sekarang.
"oh begitu ya mas, kalau begitu sebaiknya kamu segera berangkat ke sana." Aku berkata menyetujui apa yang dia katakan. Dia terlihat lihat begitu senang mendengar kata-kataku, dia tersenyum ke arahku.
"kalau begitu mas berangkat dulu ya dek" kata mas Ringgo bergegas hendak bangkit dari duduknya.
"sebelum pergi sebaiknya minum tehnya dulu mas, tidak baik di tinggal begitu saja." aku berkata mengingatkan mas Ringgo supaya meminum tehnya.
"iya dek" mas Ringgo berkata seraya tersenyum kemudian meminum sampai habis teh yang aku sajikan untuknya.
"ya udah dek, mas berangkat dulu ya." mas Ringgo berkata bergegas meninggalkanku yang masih duduk di kursi meja makan
"iya mas, hati-hati di jalan ya" Aku berkata seraya tersenyum penuh kemenangan, sebentar lagi mas Ringgo akan mengantuk.
Belum berapa lama mas Ringgo berjalan, aku melihat dia berjalan agak terhuyung. aku memperhatikan mas Ringgo berjalan dari meja makan.
__ADS_1
"kenapa mas, ,kok kamu seperti orang linglung begitu? aku pura-pura bertanya kepada mas Ringgo.
"entahlah dek, mas merasa sangat mengantuk." mas Ringgo menjelaskan kepadaku.
"Kalau begitu sebaiknya mas duduk dulu." Aku berkata kali menguap.
"iya dek." mas Ringgo berkata seraya duduk,di atas kursi sofa. Tidak berapa lama, mas Ringgo mulai berada dalam pengaruh obat tidur yang baru saja dia minum bersama teh yang aku berikan tadi. Sekarang dia terkulai lemah diatas sofa, aku segera menghampirinya.
Aku mencoba menggoyang tubuhnya seraya memanggil namanya dia diam saja. Mas Ringgo sekarang benar-benar telah berada dalam pengaruh obat tidur yang aku berikan.
Aku segera memeriksa saku celana mas Ringgo, hendak mengambil dompetnya. Setelah aku mendapatkan dompet itu, aku segera mengeluarkan kartu ATM dan kartu kredit mas ringgo yang belum sempat aku akses semalam.
"ini dia yang aku cari." Aku berkata sendiri ketika menemukan kedua kartu itu dan segera bergegas ke mesin ATM, untuk menguras habis uangnya.
"aku harus bergegas pergi, sebelum mas Ringgo bangun semua harus selesai di lakukan." Aku memasukkan kembali dompet mas Ringgo ke dalam saku celananya.
Aku segera bergegas menuju kamar mengambil tas buluk kesayanganku, Aku kemudian menelpon mas Roland.
{bisa dik, tunggu mas di depan rumah} mas Roland menjawab teleponku.
{buruan ke sini ya mas} aku kemudian berkata lagi
{ ya, dik } mas Roland menjawab dari seberang sana. Aku segera merapikan penampilanku, setelah selesai, aku segera bergegas keluar rumah.
Sebelum pergi, aku sempatkan kondisi mas Ringgo ternyata dia sepenuhnya telah berada telah tertidur di bawah pengaruh obat tidur. Aku yakin mas Ringgo tidak akan bangun sampai aku kembali.
"sebaiknya aku bergegas pergi" Aku berkata seraya bergegas keluar rumah, menunggu mas Roland datang menjemput. Aku tidak lupa mengunci pintu dari luar sebelum pergi.
"Assalamualaikum dek." mas Roland berkata setelah sampai dan berada di dekatku.
__ADS_1
"Wassalamu'alaikum mas." Aku menjawab salam mas roland, seraya tersenyum kepadanya.
"mas tolong antar kan saya ke mesin ATM bank BRI terdekat ya." Aku berkata kepada mas Roland seraya naik ke atas sepeda motornya.
"baiklah dek" mas roland berkata seraya mengendarai motornya. Tak berapa lama, aku sampai di mesin ATM bank yang yang aku tuju.
"sudah sampai dik" mas Roland berkata dan menghentikan motornya.
"mas tolong tunggu ya, aku cuma sebentar" aku berkata kepada mas roland setelah turun dari motornya, aku kemudian bergegas menuju mesin ATM tersebut.
Aku mungkin lagi beruntung hari ini, ternyata mesin ATM itu sedang sepi sehingga aku bisa langsung masuk dan melakukan transaksi. aku segera menguras semua uang mas Ringgo dalam beberapa kali penarikan, ternyata aku berhasil menarik semuanya.
Sekarang, aku telah berhasil menguras semua uang tabungan mas Ringgo. Aku berhasil menarik uang sebanyak lima ratus delapan belas juta, aku hanya menyisakan saldo sebesar dua juta rupiah di dalam rekeningnya.
Akhirnya, aku berhasil menguras semua uang mas Ringgo sekarang waktunya aku belanja aku belanja menggunakan kartu kreditnya. Aku akan membuat mas Ringgo benar-benar kehilangan semua hartanya. Dia akan merasakan pembalasan dendam yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
"mas Ringgo bersiaplah menghadapi masalah dan kehancuran yang akan kuberikan kepadamu." aku berkata dalam hati dengan senyum kemenangan terlukis di bibirku.
'mas Ringgo sekarang kamu sudah tamat.' aku
berkata seraya meninggalkan mesin ATM tersebut.
"mas, sekarang tolong antar saya ke toko emas ya" Aku sekarang meminta mas Roland mengantarkan ke toko emas, aku akan membeli perhiasan dengan menggunakan kartu kredit mas Ringgo. Aku akan membelinya sebanyak batas maksimal kartu kredit itu.
"baiklah dek, ayo naik" kata mas Roland kemudian dia segera melajukan sepeda motornya.
Setiba, aku di toko emas aku langsung membeli emas batangan seberat lima puluh gram seharga lima puluh dua juta. Aku menyerahkan kartu kredit mas Ringgo, untuk membayar emas batangan yang tadi aku beli.
Aku merasa sangat senang sekali, uang mas Ringgo semuanya sekarang sudah ada di genggamanku. Aku ingin melihat reaksi mas Ringgo nanti ketika mengetahui uangnya sudah raib, malah dia juga harus membayar hutang yang tidak sedikit harganya. Aku telah membuat dia berutang dengan membeli barang menggunakan kartu kreditnya.
__ADS_1
"selamat menikmati kehancuran mas" aku berkat didalam hati, puas dengan hasil yang telah aku dapatkan.