
Tok! Tok! Tok
Aku menggeliat dengan perlahan ketika mendengar ketokan pintu dari luar kamarku. Aku heran, siapa yang mengetok pintu kamar tengah malam begini.
"Rianti, kamu sudah bangun nak?" perlahan ku buka mata, aku melirik ke arah jam dinding.
"astaga." Aku terlonjak kaget, ternyata sudah jam enam pagi. Aku bangun kesiangan kali ini, ternyata sudah pagi. Sebelumnya, aku tidak pernah bangun kesiangan seperti ini.
Aku biasanya menyetel alarm di ponselku, tapi kenapa pagi ini alarm itu tidak berbunyi dan tidak membangunkan ku. Aku meraih ponsel yang kuletakkan di nakas dan memeriksanya, ternyata semalam aku lupa mengaktifkan alarmnya.
"pantas saja sampai ketiduran begini, ternyata alarm ponselku mati." Aku berkata sendiri, rasanya kesal sekali.
"Rianti." Suara mama kembali terdengar, aku kemudian meletakkan kembali ponsel ke atas nakas.
"iya ma. Rianti sudah bangun, sebentar lagi keluar. Rianti masih siap-siap, ma" Aku menjawab seraya bergegas mengambil handuk dan menuju kamar mandi.
Aku mandi ekstra cepat pagi ini, setelah mandi aku teruskan mengambil wudhu. Aku menyempurnakan wudhuku, bagaimanapun juga aku tidak ingin sholat yang kutunaikan sia-sia karena wudhu yang tidak sempurna.
Aku segera menunaikan ibadah sholat subuh, walau waktunya sudah hampir pagi. Aku percaya Allah maha pengampun dan maha mengetahui, Dia akan menerima ibadah seseorang bila dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Setelah selesai sholat subuh, aku merasa perasaanku tentram dan damai krmbali. Aku kemudian membereskan mukena dan sajadah, kemudian meletakkan di tempat seharusnya.
Sebelum keluar kamar, aku merias diri secantik mungkin. Aku tidak mau ketingalan jauh dari mama, beliau masih cantik dan anggun walaupun sudah berumur.
Sebagai putri dari pemilik perusahaan, aku harus memperlihatkan identitasku di hadapan semua orang. Aku tidak akan memberikan celah sedikitpun kepada orang lain untuk meremehkan dan menjatuhkanku. Mereka harus mengakui keberadaanku.
"perfect" aku memuji diriku sendiri pada sentuhan terakhir, penampilanku sekarang sempurna. Aku tidak pernah berpikir sebelumnya bisa berpenampilan seperti sekarang, dulu semua ini hanyalah mimpi bagiku.
Aku segera keluar kamar dan melangkah dengan rasa percaya diri. Aku segera bergabung dengan mama dan mas Roland, yang terlebih dahulu menyantap sarapan mereka.
__ADS_1
"assalamualaikum, selamat pagi ma!" Aku menyapa mama, seraya menjatuhkan bobot di kursi.
Aku menatap mas Roland seraya tersenyum, seraya menaikkan kedua alisku. Aku mencoba menggodanya pagi ini, supaya hubungan dengannya semakin dekat dan hangat.
Mas Roland melotot, dia membesarkan kedua bola matanya kepadaku. Aku tertawa lepas ketika melihat respon yang mas Roland tunjukan.
"kamu tidur telat semalam ya, dik"
"ngak kok mas, aku langsung tidur setelah sholat isya. Kenapa memangnya mas."
"kok bisa kesiangan dik, kamu tidak biasanya telat bangun. Biasanya, kamu selalu bangun lebih awal. Kamu lagi mikirin apa?" Mas Roland bertanya, dia terlihat serius.
"ngak ada apa-apa kok mas, aku hanya lupa mengaktifkan alarm hp." Aku menjawab apa adanya.
"oh begitu. Mas pikir kamu sedang memikirkan sesuatu. Kamu harus bicara pada mas kalau mada masalah, jangan kamu pendam sendiri dik."
"iya mas." Aku mengangguk ke arah mas Roland, hatiku senang ketika mendengarkan kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh mas Roland.
"ayo, sepat habiskan sarapanmu dik!"
"baiklah mas." Aku hanya bisa menjawab singkat setiap perkataan mas Roland, kerongkonganku terasa tercekat.
Ada sesuatu yang menyumbat kerongkonganku, aku bahagia tapi aku tidak bisa berkata-kata semua menyatu dalam haru biru perasaanku. Memang benar kata orang, darah lebih kental dari air, walaupun air itu murni dan suci.
Kata-kata itu terbukti sekarang, walaupun aku dan mas Roland terpisah lama. Dia sangat peduli dan menyayangiku, aku tidak bisa mengungkapkan betapa bahagianya aku saat ini.
Aku bergegas menghabiskan sarapanku, tidak menunggu lama makanan yang ada di piring telah berpindah ke perutku. Kami segera menyudahi ritual sarapan pagi, sejenak kami duduk sebentar untuk memberikan kesempatan makanan masuk sempurna ke dalam perut.
Kami bertiga segera berangkat ke kantor, hari ini adalah hari penghakiman terhadap mas Ringgo. Dia harus bertanggung jawab atas kecurangan yang dia lakukan.
__ADS_1
Kami sampai di kantor tepat waktu karena tidak menemui kemacetan, aku dan mama langsung menuju ruangan kerja kami. Sesampai disana, aku tidak menemukan keberadaan mas Ringgo.
Aku melihat tidak ada tanda-tanda kalau dia sudah datang, tas kerjanya pun tidak ada di meja. Aku pastikan hari ini dia telat lagi seperti kemaren, dia cari perkara saja dengan mama.
Aku tak habis pikir, kenapa sekarang dia sering telat masuk kerja? Penampilannya berantakan, setiba di kantor wajahnya selalu kusut. Aku kadang merasa kasihan melihat air mukanya, tapi kalau mengenang sifat dan kelakuannya aku merasa muak dan benci padanya.'
"ternyata, dia belum belum datang juga. Apa dia tidak berniat untuk bekerja?" mama bergumam pelan, tapi aku dapat mendengar apa yang beliau katakan dengan jelas.
Aku melihat ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku, ternyata sudah jam setengah sembilan. Mas Ringgo benar-benar keterlaluan, dia telat hampir dua jam.
"apa yang akan kita lakukan sekarang ma?" Aku bertanya pada mama, bingung harus melakukan apa.
"kita periksa laporan keuangan yang lainnya dulu, mama curiga dia melakukan penggelapan dana yang lebih besar lagi." kata mama seraya mengambil beberapa berkas dari meja kerja mas Ringgo.
Kami mulai memeriksa data-data dan mencoba menyesuaikannya dengan laporan keuangan yang ada. Mama terlihat sangat fokus, aku memandangi dan mengamati beliau bekerja dari meja kerjaku. Beliau benar-benar luar biasa , aku salut melihat semangat kerja beliau.
Beberapa menit berlalu, aku mendengar suara langkah kaki masuk ke ruangan kerja kami. Seketika, aku menoleh ke arah pintu ternyata mas Ringgo yang datang.
Dia terlihat terengah-engah sedangkan penampilannya kusut, bisa dikatakan penampilannya sekarang tidak seperti orang yang bekerja di kantoran.
"assalamualaikum, maaf buk saya datang terlambat."
"maaf pak Ringgo, apakah anda tahu sekarang jam berapa? Apakah anda tidak punya jam di rumah?" mama mulai mencecar mas Ringgo dengan pertanyaan.
Mas Ringgo hanya bisa menunduk, dia tidak berani menatap ke arah mama. wajar dia bersikap seperti itu, mama memang menyeramkan kalau lagi marah.
"sekarang sudah jam setengah sepuluh, anda sebenarnya niat untuk bekerja atau tidak?"
"maaf buk, tadi saya terjebak kemacetan sehingga terlamat sampai di kantor."
__ADS_1
"saya tidak akan menerima alasan apapun, alasan anda itu tidak dapat dibenarkam pak Ringgo." Mama berkata dengan nada yang sangat tegas sedangkan mata beliau menatap tajam kearak mas Ringgo.
Mas Ringgo semakin tertunduk, dia tidak bisa lagi menjawab pertanyaan mama.