SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part : Jangan Pertanyakan Keputusanku


__ADS_3

'apa maksud mas Roland?' Aku terperanjat kaget ketika mendengar yang baru saja mas Roland sampaikan.


Aku menatap mas Roland yang sedang berbicara, tidak percaya rasanya dengan keputusan yang baru saja dia ucapkan. Dia menjadikan ku sebagai menejer keuangan di perusahaan menggantikan mas Ringgo, sedangkan mas Ringgo dimutasi menjadi wakilku.


Aku menatap seraya tersenyum kepada semua peserta rapat yang hadir di ruangan itu, mereka terlihat menatap kepadaku. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini, aku melihat mereka menatap serius kepadaku.


Aku sebenarnya heran dengan keputusan mas Roland, tapi aku tidak bisa membantahnya di depan semua orang. Aku hanya mendengarkan semua penuturannya seraya tersenyum, sedangkan mas Roland masih sibuk dengan pembahasan yang lainnya.


"segitu penjelasan dari saya, kalau ada yang kurang jelas boleh ditanyakan." mas Roland berkata mengakhiri penjelasannya, dia memandang ke arahku seraya tersenyum.


"maaf pak Roland, apakah bapak yakin dengan keputusan bapak. Bapak menjadikan Rianti sebagai menejer?" tiba-tiba, aku mendengar satu suara yang mempertanyakan keputusan mas Roland.


Sontak semua peserta rapat menoleh ke arah suara itu, termasuk aku. Ternyata, orang yang tadi bersuara adalah mas Ringgo, dia pasti meresa tidak terima karena posisinya digantikan.


"tentu saja, saya yakin dengan keputusan yang telah saya ambil, karena saya sudah mempertimbangkan sebelumnya."


"tapi pak Roland, apa yakin dengan kinerjanya Rianti?" Mas Ringgo terus mempertanyakan keputusan mas Roland, sepertinya dia masih tidak terima dengan keputusan itu.


Mas Roland menatap Mas Ringgo dengan tatapan tajam penuh arti, Aku lihat mas Ringgo menunduk sejenak seraya menelan ludahnya sendiri. Aku hanya tersenyum kecil menyaksikan semua itu.


"apa anda meragukan keputusan saya? Saya rasa anda tidak perlu mempertanyakan keputusan yang telah saya ambil, karena saya tahu apa yang seharusnya saya lakukan." Mas Roland bicara dengan sangat tegas, seketika muka mas Ringgo memerah di buatnya.


Dia tampak salah tingkah, perkataan mas Rolandyang tajam tepat mengenai sasaran


"Dan untuk anda pak Ringgo, saya melihat kinerja anda sangat menurun akhir-akhir ini. Saya tidak segan-segan melakukan pemecatan pada anda, kalau kinerja anda masih seperti ini. Saya harap anda bisa bekerja lebih baik lagi." Mas Roland memberikan penjelasan kembali, membuat mas Ringgo tertunduk lesu.


Aku bisa melihat pancaran rasa tidak terima di wajah mas Ringgo, dia terlihat gusar dengan keputusan mas Roland. Tapi, mas Roland tampaknya tidak mempedulikan ekspresi wajah mas Ringgo, dia tetap dengan keputusannya.


Aku mencoba mencerna apa yang sebenarnya tujuan mas Roland melakukan semua itu, karena bertanya padanya tidak mungkin saat ini. Aku merasa sedikit janggal dengan keputusannya.


Sejurus kemudian, aku mulai menerka dan mengira-ngira sendiri hal apa yang melatar belakangi keputusannya ini. Tidak mungkin, dia mengangkatku sebagai menejer keuangan karena kemampuanku.

__ADS_1


Mas Roland tahu persis, kalau aku hanyalah tamatan SMA yang tidak memiliki pengalaman apapun tentang dunia kerja. Aku hanya seorang istri yang hanya tahu soal mengurus keluarga selama ini, jadi tidak mungkin aku memiliki kemampuan menjadi seorang menejer keuangan.


Aku menatap mas Roland yang terduduk lemas di kursinya, sesaat kemudian dia juga melihat ke arahku. Ketika pandangan mata kami bertemu, aku melihat dia memandangku seakan ingin mengatakan sesuatu.


"Baiklah cukup sekian, Rapat saya bubarkan." Mas Roland membubarkan rapat, dia benar benar tegas dan berkharisma. Semua karyawan tunduk dengan keputusannya.


Aku dan mas Roland beserta mama kemudian meninggalkan ruangan rapat, sebelum benar-benar pergi aku sempatkan untuk menoleh kearah mas Ringgo. Dia terlihat duduk terkulai di kursinya seraya terus menatap ke arahku.


"ayo dik, kita sekarang makan siang."


"iya mas." Aku mengangguk seraya mengikutinya.


Aku, mama dan mas Roland segera naik ke mobil begitu sampai di parkiran. Tidak berapa lama, mobil mas Roland meluncur membelah jalanan yang sedikit Ramai, karena sekarang sudah waktunya makan siang.


Ternyata, mas Roland mengajak kami kerumah makan padang langgananku. Kami langsung masuk begitu sampai, ternyata tempat itu tidak banyak berubah.


Kami duduk di kursi bagian pojok, aku jadi teringat ketika dulu makan di sini. Lamat-lamat kenangan itu terlukis kembali membuatku tersenyum sendiri.


Sejenak kemudian, aku mencari keberadaan seorang karyawan yang dulu pernah menjahiliku. Aku tidak melihat keberadaannya semenjak datang tadi, kemanakah dia?


Aku senyum-senyum sendiri, bisa-bisanya aku mengingat dia padahal aku tidak begitu mengenalnya.


"kamu kenapa dik, kok malah senyum-senyum sendiri?"


"tidak apa-apa mas, aku hanya ingat masa lalu." Aku menjawab sekenanya, malu juga rasanya kalau mas Ringgo tahu apa yang kupikirkan.


"silahkan dimakan, pak." sang paramusaji mempersilahkan


"iya makasih da." mas Roland berkata seraya berkata pada paramusaji itu, ternyata mas Roland ramah juga.


"dik, mama kita makan yuk."

__ADS_1


"iya, mama juga lapar." Mama segera mengambil piring dengan penuh semangat, aku heran melihat sikap mama. Beliau bersikap seolah-olah tidak pernah sakit sebelumnya. Aneh


"he ha, ayo dik. Mama sudah star duluan tuh."


Aku terus memperhatikan yang di lakukan mama. Aku cuma ternganga, ketika beliau mengambil potongan daging rendang berukuran besar.


'he he. Mama sikapnya sama persis denganku, beliau rupanya sangat menyukai rendang.' Aku bergumam dalam hati, seraya celingukan memilih lauk lain karena rendang kesukaanku sudah diambil mama.


"dik, kamu mau juga." Mas Roland berkata seraya tersenyum, aku hanya mengangguk kepadanya.


"he he, ternyata benar..." mas Roland berkata, tanpa melanjutkan ucapannya. Aku memandang sejenak seraya mengernyitkan dahi, ingin tahu maksud kata-katanya barusan.


"benar apa mas?"


"buah itu jatuh tidak akan jauh dari pohonnya."


Aku terdiam sejenak, mencerna perkataan mas Roland. Beberapa saat kemudian, aku baru sadar maksud perkataan mas Roland. Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan mas Roland.


"Nah itu pesanan kamu udah datang, ayo kita makan."


Aku mengambil nasi dan rendang, kemudian makan dengan lahapnya. Aku memang sangat menyukai rendang ketimbang masakan padang lainnya, makanya setiap makan di rumah makan padang selalu memesan masakan itu.


Tidak butuh lama, makanan yang ada di piring sudah berpindah ke perutku. Aku bersyukur atas nikmat yang masih dapat ku rasakan sampai detik ini.


Setelah makan siang selesai, kami kembali ke kantor mas Roland. Mas roland langsung mengajak aku dan mama ke ruangannya, dia kemudian melanjutkan pekerjaannya yang masih belum selesai.


Aku dan mama duduk di sofa, menunggu mas Roland. Kami asyik besenda gurau, membicarakan apa saja. Tanpa terasa waktu berlalu, Mas Roland menghampiri kami.


"mama, ayo kita pulang!"


"aku ngak di ajak mas?" aku bercanda karena mas Roland hanya mengajak mama setelah itu dia melangkah pergi.

__ADS_1


Sontak mas Roland menoleh dan membesarkan matanya kepadaku. Aku hanya tersenyum sebagai balasannya.


.


__ADS_2