
"mbak silahkan masuk." Satpam yang menjaga pintu membantuku membuka pintu.
Aku segera masuk menuju meja costumer servis, petugas bank tersebut langsung menyapaku.
"silahkan duduk mbak, apa yang bisa saya bantu?" petugas bank tersebut berkata seraya tersenyum kepadaku.
"mbak saya mau buka rekening tabungan baru bagaimana caranya?" Aku bertanya kepada petugas yang ada di hadapanku.
"caranya mudah, mbak cukup mengisi formulir ini. setelah mengisi formulir, saya akan menyalin data anda yang valid ke komputer. Silahkan mbak mengisi formulir ini dulu ya, saya akan menyiapkan buku tabungan dan kartu ATM untuk mbak" petugas Bank tersebut menjelaskan dengan ramah sekali, dia menunjukkan cara-caranya.
"sebagai setoran awal minimal seratus lima puluh ribu rupiah ya mbak?" kata petugas itu seraya tersenyum ramah kepadaku.
"kalau segini boleh tidak mbak" tanyaku seraya menyodorkan kantong kresek hitam, berisi uang yang ada dalam genggamanku.
Petugas bank membuka kantong kresek tersebut, dia memandang tajam ke arahku. Aku diperhatikan begitu merasa sedikit gugup, takut juga rasanya. Sejurus kemudian, petugas tersebut tersenyum kepadaku.
"berapa jumlahnya mbak," tanya petugas itu lagi seraya menatapku.
"saya hitung semalam berjumlah tujuh puluh juta mbak" Aku menjawab dengan mantap tanpa keraguan.
"Kalau begitu, kita hitung jumlahnya diruang manager saya ya mbak" petugas itu berkata seraya membawaku keruangan atasannya.
Aku merasa sedikit takut, berusaha sekuat tenaga menutupi rasa takut yang tiba-tiba menyelinap di hatiku. Aku takut manager mempersulit urusanku, aku merasa harus hati-hati nanti di hadapannya
Tok! tok! tok!
"silahkan masuk" Aku mendengar suara berat penuh wibawa dari dalam ruangan mempersilahkan kami masuk, tapi aku menjadi tambah takut masuk ke dalam ruangan tersebut.
Andaikan aku tahu begini menakutkannya, aku lebih baik menyimpan uang di dalam kardus saja. Aku merasa takut memasuki ruangan itu, karena selama ini belum pernah berurusan dengan bank sepanjang ini.
__ADS_1
'jangan-jangan, mas Ringgo sudah mengetahui uangnya yang telah hilang. Dia tadi kesini untuk melaporkan perihal kehilangan itu. Bagaimana kalau aku ketahuan? aku bertanya sendiri di dalam hati, namun tetap berusaha setenang mungkin saat berada di hadapannya.
"silahkan duduk Bu, ada yang bisa saya bantu? manager otu bertanya dengan tatapan serius kepadaku. Aku terdiam sejenak tidak tahu harus berkata dan dan memulai dari mana.
"begini pak, Bu Rianti mau membuka tabungan dalam jumlah besar saya butuh ACC dari bapak" petugas tadi seraya tersenyum seraya memberikan beberapa kertas yang ada di tangannya.
"berapa jumlahnya?" manager itu bertanya lagi, aku merasa semakin takut karena uang yang aku tabungkan sama jumlahnya dengan uang mas Ringgo yang hilang.
"tujuh puluh juta pak" petugas itu berkata seraya menyerahkan uang yang aku berikan tadi kepada Managernya.
"apakah sudah dihitung lagi dengan teliti?" manager itu bertanya kepada petugas itu dengan pandangan serius.
"belum pak, saya akan menghitung jumlahnya" petugas itu berkata seraya menghitung uang di hadapan kami berdua. Aku melihat petugas itu menghitung uang dengan tatapan takjub kepadanya. Dia menghitung uang cepat sekali tidak membutuhkan waktu lebih dari tiga menit.
"benar pak jumlahnya sebesar tujuh puluh juta rupiah" petugas itu berkata setelah selesai menghitung.
"baiklah Bu Rianti, permintaan pembukaan rekening baru yang ibu ajukan sudah saya setujui" manager itu berkata dengan senyum di bibirnya. Manager itu menandatangani berkas-berkas yang diserahkan oleh petugas tadi
"mari Bu, kita lanjut di ruangan saya" petugas yang bernama Rinaldi itu membawa saya keluar dari ruangan manager yang tadi sangat menakutkan bagiku. Aku mengangguk pelan kemudian meninggalkan ruangan itu dengan perasaan lega.
"silahkan duduk bu" pak Rinaldi berkata mempersilahkan aku untuk duduk sejurus kemudian dia sibuk menulis dan mengoperasikan laptop yang ada di hadapannya.
"pembukaan rekening baru Bu rianti sudah selesai, ini buku tabungan dan kartu ATM ibu harap disimpan baik-baik" pak Rinaldi berkata seraya menyerahkan buku rekening serta kartu ATM kepadaku.
'oh cuma begitu saja, aku ketakutan setengah mati tadi ternyata aku takut tanpa alasan.' Aku tersenyum sendiri karena ulahku sendiri. Aku parno berlebihan karena melihat mas Ringgo berada di bank tadi. Aku pikir dia telah mengetahui dan melaporkan uangnya yang hilang aku kuras tadi malam.
"apa sudah boleh saya pulang pak? Aku bertanya kepada pak Rinaldi, ingin rasanya cepat pergi dari sini.
"oh tentu saja, semua prosesnya sudah selesai.ibu boleh pulang sekarang" pak Rinaldi mempersilahkan, aku segera keluar meninggalkan bank itu.
__ADS_1
Aku bergegas berjalan menuju tepi jalan, kemudian berjalan santai menuju warung tempat aku sarapan tadi pagi. Belum sampai disana, Aku mendengar seorang memanggil namaku. Aku menoleh mencari suara itu ternyata yang memanggilku mas Ronald.
'apakah dia menungguku? Aku bertanya dalam hati, seraya tersenyum kepadanya.
"apakah urusannya sudah selesai? kalau sudah, mari mas antar pulang" dia bertanya sekaligus menawarkan untuk mengantarku pulang.
"urusannya sudah selesai mas" Aku berkata seraya tersenyum lega, urusan yang aku anggap menakutkan tadi ternyata tidak serumit yang aku pikirkan.
"ayo naik dik" mas Roland mengajakku dan aku langsung naik motornya setelah selesai memakai helm.
Tidak berapa lama, aku telah sampai di rumah. Aku bergegas turun setelah mas Roland menghentikan motornya.
"kalau butuh ojek lagi, dik Rianti bisa telpon saya. saya siap mengantarkan dik Rianti kemana saja." mas Roland berkata seraya tersenyum.
"makasih ya mas, kalau begitu aku masuk dulu" aku berkata seraya menyerahkan helm kepadanya. Tak lupa, aku menyerahkan uang sebagai ongkos ojek kepadanya.
"tidak usah, uang yang dik Rianti berikan tadi pagi banyak lebihnya." mas Roland berkata menolak uang yang aku berikan kepadanya.
"oh begitu, mas tidak menyesal menolak uang dari Rianti." Aku berkata seraya menguji keseriusannya.
"tidak dik beneran kok" mas Roland berkata seraya tersenyum manis kepadaku. Aku melihat senyum tulus di bibirnya, senang sekali melihatnya.
'kalau diperhatikan, mas Roland jauh lebih tampan dari mas Ringgo. Apakah sifatnya juga jauh lebih baik dari sifat mas Ringgo? Aku bertanya dalam hati tanpa sengaja membandingkan merek berdua.
"dik Rianti, kok malah melamun" mas roland berkata membuatku sadar dari lamunanku.
"eh tidak mas, terima kasih ya. aku masuk dulu ya mas" Aku menjawab mas Roland dengan sedikit gelagapan.
Aku bergegas masuk meninggalkan mas Roland, kemudian duduk di sofa untuk beristirahat sebentar. Aku merasa lelah sekali, pikiranku kembali melayang ke mas Ringgo. Sepertinya, mas Ringgo belum mengetahui uangnya telah aku curi.
__ADS_1
'jadi untuk apa dia ke bank tadi? Aku bertanya di dalam hati berusaha mencari jawabannya sendiri. Aku teringat kalau aku telah menyalin dan menyadap Facebook dan what's up mereka berdua.
Aku membuka ponsel dan mencoba membuka aplikasi facebook, ternyata fakta mengejutkan aku temukan di sana. Aku merasa semakin sakit hati kepada mereka berdua. Ternyata mereka....