
Pov Ratu
"ayo jalan, kamu ngapain masih di situ." Aku berusaha berdiri, pipiku terasa sangat sakit karena baru saja di tampar oleh mas Ringgo.
Aku benar-benar tidak memyangka, dia melakukan kekerasan padaku. Selama ini, mas Ringgo begitu mencintaiku terbukti dia mau menceraikan istrinya demi hidup bersamaku.
Mas Ringgo mengikuti semua keinginanku, setiap permintaanku dikabulkannya. Aku merasa sangat berkuasa atas dirinya, dia berada dalam kendaliku selama ini.
Tapi hari ini, aku tidak menduga sama sekali dia menamparku. Aku meringis menahan sakit di pipiku, bukan main rasa sakitnya. Pipiku terasa panas dan nyeri, aku melihat ada noda darah begitu tanganku menyentuh sudut bibirku.
'aku benar-benar tidak percaya semua ini terjadi padaku, mas Ringgo menamparku.' Aku berkata dalam hati seraya menggeleng pelan kepalaku, dia berani dan tega sekali kepadaku.
Aku berjalan keluar ruangan seraya menutupi kedua pipiku dengan tangan, malu rasanya bila ada yang melihat bekas tamparan mas Ringgo di pipiku.
Aku bergegas menuju parkiran di mana mobil mas Ringgo terparkir, dia terlihat telah duduk di kursi kemudi dengan wajah masam dan menakutkan. Entah apa yang terjadi dengannya, aku tidak tahu.
"cepat masuk." mas Ringgo berkata ketus dan dingin kepadaku, aku semakin merasa takut kepadanya.
"apa kau tuli? Apa kau tidak mendengar perkataanku?" lagi-lagi mas Ringgo berkata kasar, aku segera menuruti perintahnya. Aku tidak mau ada orang melihat mas ringgo berkata dan berbuat kasar kepadaku karena selama ini, semua orang tahunya mas Ringgo itu tunduk kepadaku.
Mas Ringgo langsung tancap gas, setelah aku duduk di mobil. Dia terlihat kesal dan menakutkan, menyesal rasanya aku memulai pertengkaran ini. Sekarang, apa yang harus aku lakukan?
Selama dalam perjalanan, aku dan Ringgo hanya diam tanpa bersuara. Aku tidak tahu harus berkata apa kepadanya, dia begitu beda dari pada biasanya. Terus terang, aku merasa ketakutan sekarang.
Tidak berapa lama, kami sampai di kontrakan. Mas Ringgo langsung turun tanpa berkata apa-apa. Dia langsung masuk rumah tanpa peduli kepadaku, aku jadi bertanya -tanya dalam hati.
'Apa yang sebenarnya telah terjadi dengannya?' Aku turun dengan perlahan dari mobil, kemudian menyusul mas Ringgo.
__ADS_1
Setiba di dalam rumah, aku melihat mas Ringgo telah duduk di sofa seraya menyenderkan punggungnya. Dia terlihat lesu dan banyak pikiran.
Aku berjalan perlahan, berharap mas Ringgo tidak melihat keberadaanku. Aku takut sekali sekarang, kejadian tadi membuatku trauma.
"Ratu, kau duduk disini." Aku terperanjat kaget ketika mendengar suara mas Ringgo, ternyata dia menyadari kehadiranku.
Aku pelan-pelan mendekatinya, hatiku berdebar tak karuan ketika semakin dekat dengannya. Dia berubah menjadi menakutkan sekarang, aku benar-benar takut jika berhadapan dengannya.
Aku duduk di kursi yang letaknya agak berjauhan dengan mas Ringgo. Dia menatapku dengan tatapan dingin, seolah akan menelanku hidup-hidup.
"mulai sekarang, aku minta kamu melakukan tugas kamu sebagai istri. Aku tak mau tahu apapun alasannya, kamu harus menghormati ku sebagai suami." Aku menunduk tak berani membantah kata-kata mas Ringgo karena tidak mau diamuknya lagi.
"sekarang, aku tidak akan membiarkan kamu semena-menalagi padamu. Aku dulu berpikir kamu itu wanita sempurna tapi setelah melihat sikapmu selama ini padaku, aku merasa telah tertipu." Mas Ringgo mulai terus mencecarku dengan kata-kata yang sangat menyakitkan, aku tidak percaya mendengar kata-kata yang baru saja di katakannya.
"tapi mas, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sikapmu berubah drastis seperri ini? Aku memberanikan diri untuk bertanya, ingin tahu penyebab perubahan sikapnya.
"apa kamu ingat yang kamu katakan di kantor tadi kepadaku? Apa aku harus mengingatkan kembali padamu."
"tadi, kamu mengatakan dan meminta padaku supaya bertanggung jawab sebagai suami. Apakah selama kamu sudah menjalankan kewajibanmu sebagi istri?" Aku tidak mampu menjawab pertanyaan mas Ringgo, dia menatap tajam ke arahku.
Aku melihat ada emosi yang membara di dalam matanya, rupanya kemarahannya begitu membara. Dia benar-benar serius kali ini, aku tidak boleh membantahnya kalau tidak ingin celaka nantinya.
"apa pengorbanan dan pengertianku padamu masih kurang selama ini? Bahkan, kamu tidak pernah menjalankan tugasmu sebagai mana mestinya. Kamu sebagi istri banyak kekurangannya, jadi jangan memintaku menjadi suami yang sempurna untukmu."
Aku terhenyak mendengar perkataan mas Ringgo barusan, dia tidak seperti dulu lagi. Aku tertunduk mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"sekarang, kamu lakukan tugasmu sebagai istri. Kamu masak dulu baru bisa istirahat, kalau tidak kamu tanggung nanti akibatnya."
__ADS_1
Mas Ringgo berdiri kemudian berlalu menuju kamar, aku masih duduk dikursi dengan kepala tertunduk.
Aku merenung mengingat kembali yang baru saja terjadi, ku usap pipiku yang masih terasa sangat sakit. Aku sebenarnya sangat lelah, tapi takut pada ancaman mas Ringgo.
Aku segera mengganti pakaian, kemudian segera menuju dapur. Aku bergegas menyiapkan makanan untuk makan malam, sebenarnya aku tidak begitu bisa memasak.
Selama ini, aku lebih sering membeli ketimbang masak sendiri. Aku sangka mas Ringgo tidak mempermasalahkan karena dia hanya diam saja selama ini.
Aku tidak menyangka perkataanku tadi memantik kemarahan mas Ringgo, hingga aku terjebak dalam situasi seperti ini. Tubuhku terasa letih habis bekerja, sekarang aku harus memasak pula setiba di rumah.
"apa makanannya sudah siap? Mas Ringgo tiba-tiba bersuara mengagetkanku.
"belum mas, tapi sebentar lagi siap kok. Kamu tunggu sebentar lagi."
"kamu kalau kerja itu jangan lelet dong, sejak tadi ngapain aja. kamu jadi perempuan benar-benar tidak becus, berlagak pula memintaku menjadi suami yang bertanggung jawab untukmu."
"mas, aku sudah berusaha tapi kamu juga harus sabar dong." aku menjawab karena merasa jengkel, dia seakan tidak peduli kalau aku lelah sekali di tambah pula pipiku sakit sekali karena tamparannya tadi.
Gubrak!
Mas Ringgo menggebrak meja sambil berdiri, membuatku terlonjak kaget. Dia kemudian berjalan mendekatiku, aku mundur karena takut melihatnya.
"apa kau bilang, sabar? Kesabaranku untukmu sudah habis, dari semalam aku belum makan. Sekarang kamu masih memintaku untuk bersabar?" Mas Ringgo berkata seraya menjambak rambutku, kemudian membenturkan kepalaku ke dinding.
"dasar permpuan tak berguna, menyesal aku menikahimu." mas Ringgo pergi meninggalkanku, aku terhenyak kelantai menahan rasa sakit karena benturan tadi.
Aku menangis sejadinya, kepalaku terasa sakit sekali. Mas Ringgo pergi meninggalkanku setelah berbuat kasar padaku, dia benar-benar menyakitiku. Aku kemudian berdiri dan segera mematikan kompor gas karena penglihatanku semakin gelap dan akhirnya aku tumbang tidak ingat apa-apa lagi.
__ADS_1