SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 34: Silahkan Tuai Apa yang Telah kamu Tanam


__ADS_3

"dek, mas ketiduran." mas Ringgo berkata setengah berteriak seraya bangun dari tidurnya. Dia segera bangkit dan bergegas menuju kamar mandi. Aku diam tidak menanggapi kata-katanya, Aku sudah tidak peduli kepadanya.


Sekarang, aku merasa tidak peduli lagi dengannya. Mas Ringgo telah begitu dalam melukai perasaanku, aku akan memberikan pelajaran kepadanya. Aku akan membuat dia menyesali perbuatannya, saat penyesalannya datang tiada kata maaf yang tersisa untuknya.


"kenapa tidak membangunkan mas, dek? mas Ringgo bertanya seraya bergegas merapikan diri. Dia kelihatan buru-buru sekali tapi aku diam saja melihat dan mendengar pertanyaannya, aku sudah terlanjur muak dengan perlakuannya kepadaku.


Mas Ringgo harus membayar semua penderitaan yang dia berikan kepadaku. Aku tidak akan membiarkan dia bahagia bersama Ratu, perempuan selingkuhannya. Aku akan membuat mereka menyesal telah membuatku menderita.


"kenapa diam saja dek?" Mas Ringgo berkata dia menatap heran kepadaku. Aku hanya diam saja, malas sekali untuk menanggapi pertanyaannya.


"apakah kamu sakit, dek? sejak tadi mas bicara kamu hanya diam saja? Mas Ringgo bertanya seraya memandang ke arahku, aku hanya mengangkat bahu.


"Aku tidak apa-apa mas, sebaiknya kamu pergi." Aku berkata dengan wajah kesal, aku merasa tidak perlu lagi berkata lemah lembut kepadanya. Sekarang ,aku merasa dia sudah tidak berarti bagiku.


Aku tidak menyangka dia yang begitu aku sayang dan hormati, tega menghancurkan hatiku. Mas ringgo diam-diam selingkuh di belakangku, setelah mendapatkan kesuksesan. Dia tidak mengingat masa lalu, dulu dia bukanlah siapa-siapa. Dia hanyalah seorang pengangguran miskin yang tidak memiliki apa-apa.


Mas Ringgo dulu bekerja sebagai buruh bangunan dan bekerja serabutan. Dia bekerja hanya bila ada orang yang membutuhkan tenaganya, bila tidak ada pekerjaan dia hanya menganggur. Aku menikah dengannya hanya bermodalkan cinta dan kesetiaan.


Setelah menikah kehidupan kami mulai membaik, mas Ringgo mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan ternama di daerahku.Dari pengakuannya sekarang, dia hanyalah pegawai biasa dengan gaji yang kecil.

__ADS_1


Tapi sekarang, aku sudah percaya dengan semua yang dikatakannya. Aku merasa ada yang janggal dengan perkataannya. Aku merasa aneh rasanya tidak mungkin pegawai rendahan dengan gaji kecil, memiliki tabungan yang begitu banyak hingga mencapai ratusan juta. Aku merasa semua itu tidak masuk akal.


"Apa maksudmu dek? tanya mas Ringgo seraya mengernyitkan kening ke arahku. Aku merasa ada perubahan sikapnya mendengar perkataan ku. tapi, aku sudah tidak peduli dengan apapun yang berkaitan dengannya.


Terus terang, aku sekarang tidak lagi menaruh hormat kepadanya. Mas Ringgo tidak pantas lagi mendapatkan rasa itu semenjak dia mengkhianati cintaku. Dia sekarang tak ubahnya sampah di mataku, aku secepatnya akan membuangnya dari hidupku.


"sebaiknya, kamu cepat pergi ke kantor menemui klien, sebelum klien itu memutuskan untuk pergi dan membatalkan pertemuan denganmu." Aku berkata dengan nada sinis, ada amarah mulai bergolak di dadaku. Aku berusaha bersikap setenang mungkin padahal api amarah mulai merajai hatiku.


"dek, mas berangkat ke kantor dulu ya. Mas mungkin akan lembur malam ini, sebaiknya kamu tidak usah menunggu mas makan malam." dia berkata kepadaku seraya berjalan menuju ke pintu hendak meninggalkanku. Aku diam saja mendengar ucapannya, aku semakin malas untuk menanggapinya.


Tidak lama kemudian, aku mendengar deru mobil mas Ringgo menjauh meninggalkan rumahku. Aku merasa ada sesuatu yang hilang dari hidup, sekarang aku merasa kesepian dengan serpihan luka tertancap dalam di hatiku.


'mungkin lebih baik, aku hidup sendiri daripada hidup bersamanya. Selama ini, aku hidup dalam kebohongan dan selalu dikhianati olehnya. Aku sudah bosan berpura-pura bahagia selama ini, padahal aku hidup penuh dengan kekurangan.' aku berkata dalam hati selepas mas Ringgo pergi.


"aku Pasti bisa bangkit dan melupakan segala kesedihanku." aku berkata berusaha memberi semangat kepada diriku sendiri. Mas Ringgo bukanlah milikku lagi dan dia tidak pantas untuk dicintai.


Aku kemudian menuju pintu dan segera menguncinya, kemudian aku menuju kamar untuk sejenak mengistirahatkan tubuh dan pikiranku. Aku akan istirahat mencoba menghilangkan kepenatan yang menderaku.


'biarkan saja mas Ringgo melakukan apa saja yang dia mau, aku sudah tidak mau tahu dengan apa yang dilakukannya.' aku berkata di dalam hati seraya membaringkan tubuh lelahku di ranjang.

__ADS_1


Mulai sekarang, Aku harus memperhatikan kesehatan dan memprioritaskan diriku sendiri. Aku akan membangun usaha yang dapat dijadikan tumpuan hidupkedepannya.


Aku akan memulai usahaku besok pagi, aku akan membuka usaha jual beli online. Aku tidak akan meminta persetujuan mas Ringgo, karena aku tidak membutuhkan izin darinya. Dia tidak berarti lagi bagiku, dia hanyalah masa lalu bagiku.


Sekarang, aku akan berusaha membangun masa depanku sendiri walau tidak bersamanya. Aku akan melepaskannya dan siap memulai hari baru di dalam hidupku. Mas Ringgo bukalah masa depanku tapi dia hanyalah masa lalu yang harus segera aku lupakan.


Perlahan-lahan mataku terpejam, aku mulai tertidur dengan segala perasaan berkecamuk di hatiku. Aku tidur dengan membawa sejuta luka, aku berharap duka dan derita yang aku rasakan lenyap setelah aku bangun nanti.


Beberapa saat tertidur, aku terbangun mendengar ketokan pintu dari luar. Aku kemudian bangkit keluar kamar menuju pintu. Aku segera membuka pintu, aku kaget melihat yang datang ternyata mas Ringgo.


"ada apa mas, katanya mau lembur kok jam segini sudah pulang?" Aku bertanya seraya menatap ke arah mas Ringgo, aku sangat heran melihat kepulangannya.


"Kartu ATM dan kartu Kredit mas hilang dek, apakah kamu melihatnya? mas Ringgo bertanya kepadaku, aku melihat ada ekspresi panik terpancar dari wajahnya. Aku sekarang paham ternyata dia pulang karena kehilangan kartu-kartu penting miliknya


"aku tidak melihatnya mas, bukankah kartu ATM dan kartu kredit selalu berada di dalam dompetmu." Aku menjawab pertanyaan mas Ringgo, aku pura-pura tidak tahu padahal sekarang keduanya sudah menjadi abu karena aku sendiri telah membakar keduanya.


"rasakan pembalasanku mas, ini baru permulaan masih banyak kejutan yang menantimu mas. Selamat menikmati pembalasanku mas.' Aku berkata di dalam hati seraya tersenyum pahit, puas menyaksikan wajah paniknya mas Ringgo.


Aku merasa ada kepuasan ketika melihat mas Ringgo susah dan panik mencari kedua kartu itu. aku merasa pemandangan itu bagai hiburan, yang mampu mengurangi rasa sakit yang bercokol di hatiku ketika melihatnya.

__ADS_1


'sudah saatnya mas, kamu merasakan buah dari perbuatan buruk yang kamu lakukan. Sekarang silahkan kamu tuai apa yang telah kamu tanam


.


__ADS_2