
"jalanmu jangan terlalu cepat mas, kami kesulitan mengikutimu." aku protes karena merasa langkah mas Roland telalu cepat.
Aku dan mama berusaha mengikutinya tapi tetap saja kami ketinggalan jauh.Mas Roland terlihat menghentikan langkahnya, kemudian dia menoleh seraya tersenyum
"kamu kenapa sih mas, tidak perlu tergesa-gesa untuk hasil yang sempurna." aku berkata seraya mengerlingkan mata, entah dia tahu maksudku atau tidak.
Setiba di parkiran, kami langsung masuk mobil. Kami tidak banya bicara selama perjalanan, apalagi mama beliau tampak tertidur pulas. Aku tersenyum ke arah mama, kami mempunyai kelakuan yang sama.
"kenapa kamu senyum-senyum gitu, dik? mas Roland bertanya dengan senyum aneh terlukis di bibirnya.
"gak ada apa-apa kok mas."
"ternyata mama sama anaknya punya kecendrungan yang sama ya?"
"maksud kamu mas?" aku pura -pura bertanya malas mengiyakannya.
"itu liat saja, habis makan matanya ngantuk."
"mama mungkin kelelahan mas, biasanya beliau tidak ada aktivitas keluar rumah. Lagi pula, beliau baru sembuh dari sakit."
"iya dik, kasihan beliau. Semenjak, kami kehilangan kamu, beliau sering sakit-sakitan."
Aku cuma tersenyum sedih, tak ingin rasanya kembali mengingat hal itu. Ternyata, mama sangat menderita selama ini.
"aku heran dengan keputusan yang tadi kamu ambil mas, apa maksudmu menjadikan aku menejer keuangan sedangkan kamu tahu latar pendidikanku. Aku juga tidak memiliki pengalaman kerja? Apa kamu yakin dengan keputusan kamu mas."
"tentu saja mas Yakin dik, mas menjadikanmu menejer keuangan karena satu alasan. Kalau melihat latar belakang pendidikan, kamu memang tidak layak akan posisi itu. Tapi mas memiliki alasan lain di balik itu."
"apa maksud kamu mas, aku tidak mengerti"
"mas akan membuat perhitungan pada mantan suamimu yang brengsek itu, mas akan membuat mereka berdua menyesali semua perbuatan mereka kepadamu.
"aku tersenyum mendengarkan penuturan mas Roland, sekarang aku mengerti maksudnya."
"benar-benar kamu mas, diam- diam mematikan."
mas Roland tersenyum mendengarkan perkataanku, aku puas akhirnya dendamku akan segera terbalaskan tanpa mengotori kedua tanganku.
"kamu besok bangun lebih awal dari biasa karena besok hari pertama kamu bekerja.
__ADS_1
"baiklah mas" Aku menjawab singkat,
Sesampai dirumah, kami langsung masuk kamar masing-masing. Setelah sholat isya, aku langsung berbaring seraya memejamkan mata.
Kring! kring!
Alarm berbunyi, aku terjaga dari tidurku. Aku segera bangkit memulai hari baru dalam hidupku. Hari ini, hari pertama aku bekerja sebagai pekerja kantoran.
Aku memulai hari dengan menunaikan sholat shubuh, semoga yang maha kuasa selalu melindungi dan melancarkan segala urusanku hari ini. Setelah selesai, aku segera mempersiapkan diri.
Aku mempersiapkan diri sebaik mungkin, mas Roland tidak boleh kecewa dengan penampilanku. Aku harus bisa membuat mas Roland bangga ketika berjalan denganku.
Setelah semua selesai, aku keluar kamar ternyata semua sudah berkumpul di meja makan. Mas roland dan mama terlihat sedang menikmati sarapan pagi mereka.
"pagi mas Roland, mama sudah bangun juga?"
"sudah dari tadi, kamu sudah siap nak."
"sudah ma, mas Roland bagaimana penampilanku?"
"kamu cantik sekali dik." mas Roland berkata seraya mengacungkan dua jempolnya, dia memandangku tanpa berkedip.
Aku duduk ikut sarapan pagi, mama terlihat sudah menghabiskan makanannya. Mama bangkit kemudian berlalu meninggalkanku dan mas Roland.
Tak berapa lama, kami selesai sarapan. Aku dan mas Rolang segera berangkat tapi baru beberapa langkah berjalan terdengar suara derap sepatu dari dalam kamar mama.
Aku terperanjat kaget, mas Roland juga sama. Kami melihat seorang perempuan setengah baya dengan stelan pakaian yang sangat anggun berdiri di pintu kamar.
Mama terlihat cantik, beliau audah kembali pada pesonanya. orang tidak akan percaya kalau beliau baru saja sembuh dari sakit. Aku dan mas Roland tersenyum bahagia, akhirnya mama mendapatkan kesembuhannya.
"mama ikut ke kantor ya, Roland. mama sepi dirumah sendirian." Aku dan mas Roland saling pandang, seakan tak percaya dengan apa yang baru diucapkan mama.
"iya ma." kami serempak menjawab dan menganggukkan kepala.
Kami bertiga kemudian segera berangkat, aku merasa deg-degan tak terkira. Mama memegang tanganku seakan merasakan kegelisahan dalam hatiku, beliau seakan ingin menguatkanku.
Sesaat, aku menoleh kepada mama dan mama mengangguk seraya tersenyum kepadaku. Aku memandang kedepan, kupejamkan mata kemudian aku hembuskan napas pelan untuk mengusir hawa negatif di dada.
Sesampai di kantor, kami turun. Aku berjalan bersisian dengan mama sedangkan mas Rolad berjalan dihadapan kami.
__ADS_1
Aku berjalan seanggun mungkin untuk menutupi rasa gugup di hatiku. Aku terus menggenggam tangan mama, mama membalas lebih erat lagi.
Selama melangkah, aku merasa banyak mata yang memandang ke arah kami. Aku harus percaya diri, sekaranglah pembuktian diriku. Aku pasti bisa, itulah keyakinan yang aku tanamkan dalam hatiku.
Mas Roland membawaku ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruangannya. Aku melihat ada dua meja disana, satu masih kosong sedangkan satu lagi dipenuhi oleh berkas-berkas yang menumpuk.
"ini ruanganmu dik, kamu satu ruangan dengan Ringgo. Mas sengaja menempatkan kamu satu ruangan dengannya, supaya dia melihat siapa kamu yang sebenarnya."
"maksud mas apa?"
"mulai sekarang dia harus belajar menghormati kamu, dik. Dia harus sadar posisinya sekarang, dia hanya bawahan kamu."
"tapi mas, kamu tahukan aku bagaimana?"
"mas tahu dik, kamu tidak usah khawatir mas sudah mengaturnya semuanya."
"baiklah mas."
"mas akan pastikan hidup mantan suamimu itu penuh dengan penyesalan, dia akan membayar semua yang dilakukannya kepadamu." Mas Roland berkata seraya menampakkan senyum sinisnya, kulihat ada kilas kemarahan di matanya.
"mas sudahlah, kita lupakan saja semuanya. Aku tidak ingin berurusan dengannya lagi, dia sekarang bukan siapa-siapaku." Aku berusaha meredam gejolak kemarahan di hati mas Roland.
Aku tidak menyangka ternyata mas Roland menyimpan dendam yang sangat besar dihatinya, ternyata dia telah berencana akan membalas perbuatan mas Ringgo padaku. Aku sangat terkejut dengan semua kenyataan ini, sungguh diluar dugaanku.
"mungkin bagimu sudah selesai dik, tapi bagi mas ini baru dimulai." mas Roland berkata dengan pelan tapi tegas, sungguh mengerikan melihat tatapan matanya.
"Roland mama mau kamu tambah meja satu lagi disini, mulai hari ini mama akan kembali bekerja menemani Rianti." Aku terkejut mendengarkan perkataan mama, aku dan mas Roland seketika menoleh ke arah mama.
"maksud mama...
"mama akan bekerja lagi mulai hari ini, kamu siapkan meja kerja untuk mama. Mama akan mengajari dan melatih Rianti, dia pasti bisa belajar dengan baik.
"baik ma."
ceklek!
Pintu di buka dari luar, ternyata mas Ringgo yang datang. Kami menoleh serempak kepadanya, dia terlihat terkejut melihat kami bertiga ada di ruangannya.
"pak Roland, anda di sini?" mas Ringgo berkata, dia terlihat gugup sekali.
__ADS_1
"mulai hari ini, Rianti akan bekerja di sini sebagai atasan anda, pak Ringgo. Saya berharap anda bisa bersikap hormat dan patuh kepadanya."