
"benarkah mas?" aku mengulang pertanyaan yang sama pada mas Roland, saking senang dan bahagianya .
"benar dik, mas akan memperlihatkannya nanti kepadamu." mas Roland berkata seraya senyum merekah di bibirnya. Sekilas aku bisa melihat ada bulir air mata mengalir di pipinya.
"aku senang sekali mendengar semua ini mas, tidak disangka ternyata aku masih memiliki keluarga."
"mas juga senang dik, akhirnya mas bisa menebus kesalahan karena telah menghilangkan kamu dulu. Mas sangat bersalah padamu terlebih lagi pada ibu karena sejak kamu hilang ibu sering sakit.
Aku sungguh menyangka aku masih memiliki kakak dan ibu kandung karena selama ini bunda tidak pernah menceritakan apapun padaku. Entah apa sebabnya, aku tidak tahu.
'kenapa selama ini, bunda menyembunyikan jati diriku yang sebenarnya?' aku bertanya dalam hatiku, pertanyaan yang hanya bisa di jawab oleh bunda sendiri. Tapi sayang, bunda tidak akan bisa menjawab pertanyaan yang bersarang di hatiku karena sekarang beliau sudah tiada.
Sejenak, aku menoleh ke arah tumpukan kertas yang ada di dekat mas Roland. Aku kemudian mengambil hardisk yang ada di dalam plastik.
"apakah sebenarnya isi hardisk ini? Apakah aku mendapat jawaban atas semua pertanyaan yang sekarang berkecamuk di dalam hatiku?" Aku bertanya seraya menggenggam erat hardisk itu.
Kriuk! Kriuk! Kriuk!
Suara nyanyian dari perutku yang lapar terdengar memecahkan suasana , aku segera melirik mas Roland yang terlihat tersenyum simpul ke arahku.
"sebaiknya kita cari makan dulu dik, nanti kamu sakit lagi."
"bagaimana kalau kita pesan online saja makanannya mas. Aku mau memperhatikan dan membaca isi semua kertas-kertas ini mas."
"oh begitu, sebaiknya kamu bawa saja surat-surat itu sekalian dengan hardisk yang sedang kamu genggam itu dik."
"maksud mas bagaimana?"
" nanti setelah makan, mas akan mengajak kamu ke rumah mas eh maksud mas ke rumah kita. Nanti kita lihat apa yang ada di dalam hardisk itu menggunakan laptop mas,dik."
"baiklah mas." Aku segera mengumpulkan kertas-kertas yang ada di hadapanku kemudian memasukkannya ke dalam tas.
"ayok mas, kita berangkat sekarang. Aku benar-benar sudah tidak sabar."
"ayok." Mas Roland segera melangkah ke luar rumah, aku segera mengikuti langkah kakinya. Aku benar-benar sudah tidak sabar, kami pun segera meluncur.
__ADS_1
"kita makan dimana dik?"
"terserah mas saja."
"kalau begitu kita makan di restoran langganan mas ya."
"baiklah mas, tapi mas yang memesankan untukku. Aku tidak mau seperti waktu itu, setelah makan bukannya kenyang api malah masuk rumah sakit."
"iya, nanti yang akan pesankan." mas Roland tersenyum mendengar permintaanku, aku merasa geli mengingat kejadian waktu itu.
Tak berapa lama, kami sampai ditempat yang mas Roland maksud. Mas Roland segera memesan makanan, aku hanya dia memandang makanan yang di hidangkan di depanku.
"tenang dik, semua makanan ini aman untukmu." Mas Roland kembali tersenyum melihatku yang begitu serius memperhatikan makanan yang ada di hadapanku.
Aku segera menyantap makananku, anehnya aku tidak begitu berselera memakannya. Entah mengapa, aku tiba-tiba merasa kenyang sebelum menghabiskan semua makananku.
"kenapa dik? Apa makanannya tidak enak?"
"bukan begitu mas, aku tiba-tiba saja merasa sudah kenyang."
Aku menelan ludah melihatnya, seketika otakku membandingkannya andai kami makan di rumah makan Padang tempat biasanya aku makan.
"ayo dik, kita sekarang ke rumah."
Aku dan mas Roland segera meluncur, tak lama kemudian kamipun sampai. Aku salut dan berdecak kagum melihat rumah mas Roland, rumah itu begitu mewah dan sangat besar.
"ayo dik, silahkan masuk." Mas Roland mempersilahkan aku masuk, aku semakin terpana ketika melihat isi dalam rumah mewah itu. Rumah itu di penuhi oleh barang-barang mewah dan mahal, karena terlalu asyik memperhatikan rumah mas Roland aku hampir menabrak seseorang yang tiba-tiba berada di depanku.
"astaga." Aku terperanjat menyaksikan wajah yang ada di hadapanku sekarang, wajah itu mirip denganku walaupun sudah terlihat sedikit tua.
"Roland, siapa dia? wanita itu bertanya dengan wajah tak kalah terkejutnya denganku. sejenak, beliau meraba wajahku kemudian terlihat bulir air mata bergulir di pipinya.
"dia Rianti mas, Roland sudah menemukannya kembali." Mas Roland menjelaskan dengan suara parau, matanya terlihat berbinar ketika mengatakannya.
" benarkah ini, Rianti gadis kecil mama sudah kembali?"
__ADS_1
"iya mas, aku sudah kembali." Aku segera memeluk tubuh mama yang sedikit kurus. Aku merasa kehangatan yang telah lama hilang sekarang mengalir di tubuhku. Tanpa terasa, aku menangis di pelukan mama.
aku dan mama kemudian saling melepaskan rindu, kami berbincang entah berapa lamanya.Akhirnya aku menemukan kebahagiaanku lagi.
Tidak pernah disangka, aku menemukan kebahagiaan yang jauh lebih besar setelah kehilangan mas Ringgo. Aku kembali menemukan keluargaku yang sudah dua puluh satu tahun terpisah.
Sekarang, aku tidak akan pernah merasa menyesal karena kehilangan mas Ringgo. Aku malah bersyukur cepat mengetahui kebusukan mas Ringgo karena dengan begitu, aku bisa cepat menata hidupku kembali.
"maaf, pak Roland sudah saatnya ibu minum obat." seorang suster datang mengingatkan mas Roland, karena keasyikan melepas rindu, tidak terasa sekarang sudah jam delapan malam.
"oh ya sus, sebaiknya ibu sekarang di kasih makan dulu setelah itu baru minum obat."
"sebentar lagi nak, mama masih ingin bersama Rianti." mama berkata seakan merengek pada mas Roland.
"tapi ibu sudah saatnya minum obat supaya lekas sembuh."
"Roland apa kamu tidak memikirkan perasaan mama, mama masih kangen dengan Rianti."
"roland paham ma, tapi kesehatan mama sangat penting."
"mama masih ingin bersama Rianti, titik. Kamu jangan keras kepala." mama bersikeras dengan keinginan beliau, ternyata beliau keras kepala juga. Aku tersenyum melihat tingkah mama, beliau semakin mendekatkan duduknya denganku.
"bagaimana ini dik? Mama tidak mau jauh darimu, bagaimana kalau kamu tidur di sini?"
Aku berpikir sejenak, akhirnya aku setuju dan mengagumkan kepala tanda setuju. Tidak ada salahnya aku tidur disini, aku ingin melepaskan rindu dengan mama.
"tapi mas, Rianti akan tidur di sini. Mama tidak perlu khawatir besok mama bisa melepas rindu dengan Rianti sepuasnya. Mas Roland membujuk mama, seperti sedang membujuk anak kecil. Aku semakin salut padanya, dia begitu menyayangi dan perhatian ada mama.
"benarkah Rianti?" mama bertanya, mungkin beliau ingin memastikan lagi.
"iya ma, Rianti tidur di sini kok. Mama sekarang makan dan minum obat ya."
"baiklah." Mama segera bangkit, beliau melangkah mengikuti suster yang tadi memanggil.
Setelah mama pergi, mas Roland kemudian mengajakku ke ruangan kerja. Aku segera mengeluarkan hardisk dari tas, kemudian menyerahkannya pada mas Roland.
__ADS_1
Kemudian mas Roland menyalakan laptopnya dan segera memasang hardisk tersebut. Aku memperhatikan layar laptop dengan seksama, tak sabar rasanya mengetahui kebenaran yang ada di dalamnya.