SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 12: Ternyata kebenaran Ini Sangat Menyakitkan


__ADS_3

"dek, ayo bangun sudah pagi" aku mendengar mas Ringgo membangunkan. Aku menggeliatkan tubuhku malas sekali hendak bangun.


" iya mas, tapi aku masih ngantuk" jawabku sekenanya. Sebenarnya aku sudah terjaga sejak subuh tadi, tapi aku merasa malas sekali rasanya untuk bangun.


Hatiku masih terasa sangat sakit, mengingat apa yang aku temukan dan baca semalam. Aku masih bingung harus bagaimana untuk menghadapi mas Ringgo.


Biasanya, aku jam segini telah di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi buat mas Ringgo. Aku selalu bangun lebih awal sebelum mas ringgo bangun. Aku akan menyiapkan segala keperluan mas Ringgo bekerja kekantor.


Tapi sejak kejadian semalam, aku menjadi malas untuk melakukan semua itu. Aku merasa percuma melakukan semua itu, kalau tidak pernah dihargai. Mas Ringgo telah benar-benar keterlaluan berani selingkuh di belakangku.


"mas sudah selesai dek, tolong buatkan sarapan mas mau berangkat kerja?" pinta mas Ringgo, aku mendengar dia berkata disela-sela rasa kantuk yang masih menggelayuti mataku.


"iya mas" jawabku pendek seraya bangkit dan berlalu dari kamar. Aku merasa tidak bersemangat melakukan apapun. Aku merasa malas sekali memasak, untuk menyiapkan sarapan pagi buat mas Ringgo. Aku masih kesal kepadanya yang telah menduakan cintaku.


Aku tak tahu harus bersikap bagaimana setelah ini kepada mas Ringgo. Aku masih bingung dan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Aku tidak percaya cintaku tidak cukup berharga untuknya.


Perlahan tapi pasti, aku merasa sekarang aku mulai membencinya. Perasaan cinta yang tulus dan suci selama aku tanam di dalam hati, perlahan mulai sirna. Mas Ringgo telah berhasil meracuni semua itu dengan pengkhianatan.


'mas Ringgo tega sekali kamu padaku, ternyata kamu tidak seperti aku duga selama ini. kau pintar sekali membohongiku, hingga aku tidak mampu melihat kebenaran yang sedang kamu tutupi darimu' aku merintih dalam hati, benar-menyakitkan mengetahui semua kebenaran ini.


Mas Ringgo tega menghancurkan mahligai rumah tangga, yang selam tiga tahun telah kami jalani. Aku berusaha membangun surga, tapi mas Ringgo malah menghadirkan neraka di hidupku.


Aku tidak mengerti apa yang ada di pikiran mas Ringgo. Aku menyuguhkan madu yang manis untuknya tapi dia malah memberikan racun mematikan kepadaku. Sekarang, aku tidak tahu sampai kapan aku sanggup bertahan.

__ADS_1


Sekarang, aku baru menyadari satu hal ternyata cinta itu tidak seindah yang aku bayangkan. Aku sadar tidak selamanya cinta tulus yang aku tanam belum tentu berbuah bahagia, tapi malah berbuah penderitaan.


Aku membuatkan dan menghidangkan secangkir kopi terlebih dahulu. setelah itu, aku segera memasak sarapan untuknya. Aku tidak tahu harus memasak apa untuknya pagi ini.


Akhirnya, aku memutuskan memasak mie instan saja buat mas Ringgo. Aku membuat sarapan mie instan merasa hidangan tersebut cepat memasaknya.


Selama ini, aku paling pantang masak mie sebagai sarapan pagi mas ringgo. Aku tidak mau membuatnya karena aku tahu mie bukan makanan yang sehat


Tapi hari ini, aku tidak lagi memikirkan hal itu. percuma aku selalu menjaga kesehatannya sedangkan, mas Ringgo tidak mau menjaga perasaanku. Dia lebih milih membahagiakan orang lain ketimbang setia kepadaku.


'maafkan aku mas, untuk hari ini dan seterusnya aku tidak akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu. Bukannya aku tega kepadamu, tapi kamulah yang telah menghendaki semua ini' aku masih membatin dalam hati.


Tidak berapa lama sarapan untuk mas Ringgo siap kemudian aku segera menyodorkan kepadanya.


Sekarang pikiranku lagi tidak tenang, aku tidak bisa berpikir tenang. Aku hanya bisa mengoceh dalam hati tanpa sanggup aku ungkapkan. Biarlah untuk saat ini aku berdiam diri dulu, aku menunggu saat yang tepat untuk mengatakan segala perasaanku.


Sekarang biarlah, aku akan tetap menjalankan kewajiban sebagai seorang istri. Aku akan tetap melakukan semua dengan baik walau tanpa rasa cinta yang tulus lagi untuknya. Sinar kebahagiaan di hatiku telah sirna, mas Ringgo telah memadamkan api cinta di hatiku.


Setelah selesai sarapan, aku melihat mas Ringgo segera beranjak untuk berangkat kerja. Aku sekarang merasa jengah, tidak peduli sama sekali sama dia.


"dek, mas berangkat kerja dulu ya" katanya berpamitan kepadaku. Entah kenapa, rasa benci yang sekarang telah mengalahkan rasa hormatku kepadanya.


"iya mas, baik-baik dijalan ya" balasku seraya mencium tangannya asal-asalan. Aku mengatakan hal itu cuma hanya sekadar basa-basi. Aku berusaha bersikap senormal mungkin dihadapannya walau hatiku hancur berkeping-keping melihat kepandaian mas Ringgo menutupi segalanya.

__ADS_1


'pandai sekali kamu menutupi ini semua dariku mas, hingga kamu mampu bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tapi kamu harus ingat satu hal mas, pandai benar kamu menutupi bangkai namun suatu saat baunya pasti tercium juga olehku' aku terus membatin seraya tersenyum pahit, sepahit perasaan yang sekarang aku rasakan.


Aku melihat mas Ringgo segera menuju garasi, kemudian menghidupkan mesin mobilnya. Setelah melepas dia pergi, aku segera ke kamar melanjutkan tidurku yang terganggu.


Aku hari ini benar-benar tidak bersemangat dan sangat lelah. Semangat hidupku seakan sirna, aku merasa duniaku seakan telah di dihancurkan dengan sengaja oleh mas Mas Ringgo.


'"tega benar, mas Ringgo melakukan semua ini kepadaku. Dia tidak berpikir selama ini siapa yang telah menemaninya. Aku menemaninya semenjak dia bukanlah siapa-siapa." aku berkata sendiri seraya menuju kamar.


Mas Ringgo dahulu bukanlah siapa, dia hanyalah seorang pengangguran. karena rasa cintaku padanya sangat besar, aku ikhlas menerima dia apa adanya. Aku tidak pernah mempermasalahkan status sosialnya.


Mengingat semua itu, aku merasa sangat miris sekali. Mas Ringgo bagaikan kacang yang lupa pada kulitnya, tidak ingatkah dia siapa dia itu sebenarnya. Dia tega sekali mengkhianati cinta yang teramat dalam serta kesetiaan yang selama ini aku jaga untuknya.


' mas Ringgo suatu hari nanti kamu akan menyesali semua yang kau lakukan kepadaku. Pada saat itu tiba, aku akan pastikan kamu akan kehilangan semua yang kamu miliki hari ini' aku bergumam dalam hati. Aku tidak bisa bohongi diriku sendiri, kalau saat ini hatiku benar-benar terluka.


Tidak berapa lama, aku kembali mendengar deru suara mobil mas Ringgo. Aku bisa mendengar kalau dia sekarang lagi mencari sesuatu tapi aku diam saja. Aku tak peduli dan tidak mau membantunya, biarkan dia sendiri mencarinya.


'dek kamu melihat ponsel mas gak, mas kok lupa menaruhnya. tolong mas mencarinya dek, mas takut terlambat kerja" katanya kepadaku, aku sekarang tambah kesal dibuatnya.


Aku bangun dan beranjak dari ranjang, segera menuju sofa untuk mengambilkan ponsel mas Ringgo. Tidak berapa lama, aku kembali ke kamar seraya menyerahkan ponsel mas Ringgo kepadanya. Aku melihat ada sedikit ekspresi terkejut dan heran di wajah mas Ringgo.


Aku tahu pasti mas Ringgo terkejut curiga kalau aku telah membuka ponselnya. Tapi, aku tak peduli aku segera tidur lagi.


' mas Ringgo, aku telah mengetahui segala yang sedang kamu rahasiakan saat ini dariku. Sekarang aku cuma menunggu waktu yang tepat untuk membongkar semua. Sembari menunggu saat itu tiba, kamu silahkan menikmati indahnya perselingkuhan yang kamu jalani saat ini. Suatu saat, kamu akan rasakan sakitnya penderitaan yang aku rasakan saat ini' kataku lirih dalam hati. Perlahan, aku pejamkan mataku berharap deritaku akan hilang saat saat aku lagi tidur.

__ADS_1


__ADS_2