
"ayo, kita berangkat sekarang mas." Aku menarik tangan mas Roland, dia masih diam tidak beranjak dari tempat berdirinya.
"mas, ayo cepat kita segera ke sana." Aku berkata seraya menoel pinggangnya. Aku tak percaya cinta bisa membuat mas Roland kehilangan kharismanya.
Mas Roland tidak juga merespon semua yang aku lakukan padanya, betapa kesalnya hatiku. Aku merasa tidak pernah seperti mas Roland sekarang, ketika jatuh cinta pada mas Ringgo.
'tapi, apa benar aku sama mas Ringgo pernah jatuh cinta.' pikiranku sejenak kembali ke masa lalu.
Aku bertemu dengan Ringgo kebetulan waktu itu. Aku yang kecewa setelah di tinggalkan oleh mas Aldo karena katanya dia dijebak oleh seorang perempuan yang tidak lain adalah Ratu. Wanita yang sama yang telah merebut mas Ringgo dari pelukanku.
Mas Aldo waktu itu memutuskan menikahi perempuan itu karena dia mengatakan hamil, dia mengandung anaknya mas Aldo. Ternyata, aku dan mas Aldo di bohongi oleh perempuan licik itu.
Aku benar-benar bodoh rasanya kalau mengenang hal itu, seharusnya aku berjuang dan mempertahankan cintaku pada mas Aldo. Aku seharusnya berusaha membuktikan kebenaran akan kebohongannya.
Aku yang sedang menangis di jembatan, bersedih meratapi kehancuran hubungan telah lama kami rajuk bersama. Mas Ringgo waktu itu lewat dan menyangka aku akan bunuh diri, dia berusaha membujuk dan menyelamatkanku waktu itu.
Seiring berjalan waktu, aku mulai terbiasa dan nyaman bersamanya hingga lambat laut kesedihan dan duka dalam hatiku berangsur sirna.
Hingga suatu hari, mas Ringgo menyatakan cintanya dan dia menginginkan aku menjadi istrinya. Aku waktu itu langsung menerima cintanya dan menyanggupi permintaannya karena merasa dia orang yang tepat bagiku.
Aku berusaha mencintai dan menyayanginya, segala pengharapan aku tujukan padanya. Aku berharap bisa selalu bahagia dan bersama dengannya sampai tua.
Tapi apa daya, Aku harus menelan pil pahit karena dikhianati. Aku merasa lebih kecewa dan sakit hati karena dia telah menghancurkan rumah tangga yang sudah mati-matian aku bangun.
Mereka sudah merenggut surgaku, yang telah aku hiasi dengan begitu banyak pengorbanan. Aku benar-benar tidak bisa melupakan rasa sakit yang mereka berikan di hatiku, walau aku sudah berusaha untuk memaafkan mereka.
Rasa sakit ini masih saja terasa, aku terluka saat mengingat itu. Aku tersenyum pahit ketika mengingat itu, ternyata aku memang tidak mengalami fase jatuh cinta seperti yang di rasakan mas Roland sekarang
"mbak Rianti ada apa?" mbak ayuna mengagetkanku, seketika aku tersadar dari lamunanku akan masa lalu. Aku tersenyum kearahnya, betapa malunya.
"tidak ada apa-apa mbak." jawabku untuk menutupi perasaanku.
__ADS_1
"tadi, bapaknya mbak meminta kita ke rumah sakit. Kami sepakat untuk menyelesaikan transaksinya di sana. Beliau butuh uang itu sekarang, mbak." Aku menjelaskan pada mbak Ayuna, berharap dia mau menamani kami.
"oh begitu, kalau begitu saya akan menemani mbak Rianti ke sana." mbak Ayuna berkata, aku memang mengharapkan kata-kata itu harapkan dari tadi.
Akhirnya, aku berhasil membuat Ayuna menemani kami ke rumah sakit. Aku berharap dengan begitu mas Roland ada kesempatan berkenalan dan berbicara lebih lama dengan wanita yang telah berhasil memikat hatinya.
"iya mbak, ayo kita pergi sekarang." Aku mengangguk pelan tanda setuju. Aku kemudian melangkah pergi menuju mobil. Tapi, mas Roland kembali membuatku geleng-geleng kepala. Dia masih saja diam tanpa beranjak dari tempatnya berdiri.
"hadeh, benar-benar.' Aku kembali ketempat mas Roland berdiri, segera menarik tangannya dengan sedikit kuat.
"eh dik, kita mau kemana." mas Roland bertanya seakan memang tidak tahu apa-apa.
Aku benar-benar heran di buatnya jadi begini m rasanya jatuh cinta. Aku tidak mau jatuh cinta jika akibatnya bisa seperti ini, orang pintar seketika bisa menjadi bodoh dan tidak berdaya di hadapan yang namanya cinta.
"kita ke rumah sakit sekarang mas."
"kamu sakit dik?"
" kita kerumah sakit menemui pak Roman mas, soalnya beliau di sana sekarang."
"apa tidak kita tunda saja dik." aku makin melongo mendengar kata mas Roland. apakah dia benar-benar tidak mendengarkan sedikitpun pembicaraan kami.
"tidak mas, pak Roman membutuhkan uang saat ini untuk membayar pengobatan istri beliau." Akhirnya, aku menjelaskan semuanya pada mas Roland.
"baiklah dik, tapi kita ke sana dengan siapa? Kita tidak tahu di mana istri beliau dirawat." Mas Roland kok tiba-tiba gak nyambung begini, kemana perginya otak pintarnya.
"kita di temani mbak Ayuna mas, dia akan mengantar kita kke sana."
"oh begitu," Mas Roland segera melangkah, sekarang dia berjalan sudah seperti angin ribut. Dia tidak sadar telah meninggalkanku yang terpana dengan segala tingkahnya.
Aku berjalan menyusul mas Roland yang terlihat sudah dduduk di dalam mobil, entah apa yabg ada di dalam pikiran laki-laki yang sedang di jatuh cinta itu.
__ADS_1
Aku membukan pintu untuk mbak Ayuna dan mempersilahkan dia masuk. Kami berbincang tentang segala hal selama dalam perjalanan, mas Roland hanya diam seribu bahasa.
Rencanaku berjalan tidak sesuai dengan harapanku semula, aku berharap mas Roland akan banyak bicara dan bisa berbaur dengan kami. Tapi kenyataannya, dia sepanjang perjalanan hanya diam.
Tidak beberapa lama, kami sampai di rumah sakit. Kami segera menemui pak Roman, yang sedang termenung menunggu kedatangan kami.
"pak Roman." Aku menyapa beliau seketika menoleh ke arah kami.
Pak Roman terlihat murung terlihat jelas air muka beliau yang sedang dilanda kesusahan. Aku tersenyum untuk memberikan sedikit dorongan semangat.
"nak Rianti. silahkan duduk.
"iya pak." Aku duduk di kursi yang bersebelahan dengan pak Roman duduk.
"maaf, bapak terpaksa meminta nak Rianti datang ke rumah sakit. Semoga nak Rianti dan nak Roland tidak merasa direpotkan."
"saya tidak merasa di repotkan pak, kami mengerti keadaan yang bapak alami saat ini."
"apa penyakit yang sedang di derita ibu pak?" aku bertanya berusaha membangun kedekatan dengan pak Roman.
"kata dokter, ibu terkena penyakit kelenjer getah bening, nak. Bapak butuh uang untuk melunasi biaya administrasinya, agar beliau bisa mendapatkan perawatan yang maksimal." pak Roland menceritakan permasalahan yang sedang beliau hadapi.
"kalau begitu, kita langsung saja menyelesaikan transaksinya agar ibu segera bisa mendapatkan perawatan."
"iya nak, bapak juga berkeinginan yang sama dengan nak Rianti."
"astaga, bapak lupa. Bagaimana kita bisa menyelesaikan transaksinya sedangkan surat-suratnya masih tertinggal di rumah." wajah pak Roman terlihat murung kembali, raut wajah kecewa terlihat jelas terpancar di wajahnya.
Aku hanya terdiam mendengar perkataan pak Roman, sepertinya transaksinya akan tertunda. Tapi setelah berpikir sejenak, aku kemudian tersenyum karena di balik semua ini ada keuntungan bagi kami tepatnya bagi mas Roland.
Mas Roland memiliki waktu lebih banyak lagi untuk bisa bersama dengan mbak Ayuna, dengan begitu dia bisa mengenal wanita pujaan yang baru saja memikat hatinya dengan segala keistimewaan yang dimilikunya.
__ADS_1
Aku ingin melihat mas Roland menemukan kebahagiaan lain setelah menemukanku. Aku berdoa, semoga ini jadi awal yang baik baginya.