
"mas, ayo kita makan dulu. Aku sudah lapar sekali!' aku memanggil mas Ringgo dengan nada manja. Aku akan berusaha bersikap manis di hadapannya sekarang, aku siap melakukan sandiwara menjijikkan ini.
Aku merasa hilang rasa cinta kepada mas ringgo, yang tersisa hanya kebencian dan luka menganga di hatiku. Aku seakan mati rasa, tidak ada lagi perasaan cinta yang membara yang dulu telah membutakan mata hatiku.
Dulu, aku sangat mencintai dan mempercayai mas Ringgo. Aku terlena dalam perasaan cintaku hingga tidak bisa melihat kekurangan dalam diri mas Ringgo. Andaikan melihat kekurangannya, aku selalu mengabaikan dan menutupi semua itu.
Tapi kini semua telah berubah, aku merasa tidak ada lagi yang patut aku banggakan darinya. Aku sekarang hanya bisa menemukan kebusukan dan keburukannya tanpa bisa melihat kelebihannya lagi.
"iya dek, mas juga lap....par." jawab mas Ringgo tergagap, melihat penampilanku kini.
Aku melihat ekspresi kaget mas Ringgo, itu terlihat dari pandangan mata mas Ringgo dengan mulut sedikit ternganga. Dia melihat penampilanku sekarang seperti baru melihatku, padahal sudah tiga tahun kami hidup bersama membangun rumah tangga.
Malam ini, aku sedikit memanjakan diriku dengan penampilan sempurna walau hanya memakai pakaian sederhana. Aku berjanji pada diriku sendiri, akan kuberikan waktu dan ruang cukup bagi diriku untuk merawat diri. mulai sekarang, aku akan lebih mementingkan penampilanku dibandingkan mengurus mas Ringgo.
"kenapa mas, kok kamu kaget begitu? aku pura-pura bertanya. Aku sebenarnya benar-benar tidak mau tahu apapun tentang dirinya. Aku sekarang sudah tak menginginkannya, yang aku inginkan sekarang hanyalah uangnya
"iya kamu membuat mas kaget dengan penampilanmu sekarang dek. Kamu sekarang cantik sekali" puji mas Ringgo seraya melayangkan senyum manis kepadaku tapi aku merasa muak melihat senyumnya.
"apa mas, aku sekarang cantik? Tidaklah mas, aku cantik dari lahir, cuma selama ini kamu tidak melihat semua itu. Kamu terlalu sibuk dengan urusanmu" kataku tersenyum sambil berseloroh menyinggungnya. Aku tidak tahu apakah dia merasa atau tidak tapi aku tidak peduli.
"udah ah, ayo kita makan. aku sudah sangat lapar mas" aku berkata seraya menuju meja makan. Aku berjalan lembut sedikit gemulai, berusaha menunjukkan kalau tubuhku bagus tidak kalah dari selingkuhannya yang kurang ajar itu.
Aku puas dengan usahaku, terbukti mas Ringgo memandang dengan tatapan terpana eh tepatnya terpesona kepadaku. Aku senang bisa memainkan emosi mas Ringgo.
Aku duduk di kursi berhadapan dengan mas Ringgo, malas duduk di dekatnya. Kemudian aku mengambilkan piring dan mengisi dengan nasi dan lauk yang aku buat. Aku kemudian memberikan kepada mas Ringgo.
__ADS_1
Aku perhatikan masakan yang aku buat kali ini, tidak mengundang selera sama sekali. Bagaimana tidak, aku melihat masakan yang aku buat tidak menarik, warnanya semua sama. Bahkan sayurnya mie instan saja.
Aku pura-pura tidak tahu, tak peduli sama sekali. Aku fokus menyendok makanan ke mulutku.
Belum sempat memasukkan sendok ke mulut, aku melihat mas Ringgo batuk-batuk. Aku melihat muka mas Ringgo merah, dia gelagapan mengambil gelas. Tapi sayang, aku lupa mengisi gelas air minum gelasnya kosong.
"dek tolong ambilkan air minum, mulut mas panas telur dadarnya pedas sekali" pintanya sambil meniup lidahnya sendiri. Aku bergegas mengisi gelas kemudian aku berikan kepada mas Ringgo.
"masa pedas sih mas, perasaan aku hanya memasukkan sedikit cabe kedalamnya" Aku berkata dengan mengernyitkan dahi.
"coba saja kalau tidak percaya, benar-benar pedas"katanya masih dengan meniup lidahnya sendiri. Aku jadi enggan mencobanya karena aku memang tidak suka pedas.
'ya ampun, pedasnya telur dadar ini" aku bergumam dalam hati. Pantas saja, mas Ringgo sampai kepedasan seperti itu. Ternyata , Aku telah membuat telur dadar super pedas .
"bagaimana dek, benarkan pedas kan. mas tidak bohong telur dadarnya pedas sekali." kata mas Ringgo, meyakinkanku.
"mas aku lapar sekali, tapi kalau masak lagi aku capek mas." kataku memperlihat wajah bingung dan cemas. Sebenarnya, aku tidak begitu lapar tapi daripada disuruh masak lagi lebih baik bilang begitu.
"kalau begitu kita makan diluar saja dek" mas Ringgo memberi usul, aku senang mendengarnya. Akhirnya, aku bisa juga makan enak soalnya mas Ringgo mengajak makan diluar.
"Apa kamu punya cukup uang mas? tanyaku sekedar basa basi, sebenarnya aku tak peduli.
"punya dek" jawab mas Ringgo.
"kalau begitu, kita segera berangkat aku sudah gak kuat nahan lapar" aku mengajak mas Ringgo dengan nada memelas.
__ADS_1
Aku dan mas Ringgo segera berangkat mencari makan. Mas Ringgo mengajakku makan di rumah Padang. Mendadak, Aku mendapat ide untuk mengerjai mas Ringgo.
Tidak berapa lama setelah kami masuk, pelayan rumah makan langsung menghidangkan makanan. Aku melihat banyak sekali jenis lauk dan sayur yang dihidangkan.
Setelah selesai menghidangkan pelayan tersebut mempersilahkan kami makan.
Tanda berkata apa-apa lagi aku langsung mengambil nasi beserta lauknya. Aku tahu betul kalau di rumah makan Padang akan di hidangkan semua jenis lauk yang mereka sediakan. Nanti setelah selesai makan, kita hanya wajib membayar apa yang kita makan. Kita tidak di perbolehkan menyentuh lauk yang tidak akan kita makan,menyentuh berarti membeli begitulah peraturannya.
Aku mencoba semua hidangan yang ada. Aku mengambil ini sedikit, yang itu separuh. Alhasil, aku menyentuh semua hidangan. setelah selesai makan, mas Ringgo memanggil pelayan untuk menghitung berapa yang harus kami bayar.
"berapa yang harus saya bayar Uda? tanya mas Ringgo kepada pelayan tersebut.
"tunggu sebentar mas, awak hitung dulu" jawab pelayan tadi seraya menghitung.
"totalnya sembilan ratus enam puluh lima ribu mas" pelayan tersebut berkata, sukses membuat mas Ringgo terkejut tidak terkira.
"apa tidak salah hitung Uda? tanya mas Ringgo lagi, frustasi mendengar angka yang barusan disebut si pelayan.
"tidak mas, saya tidak salah hitung, lihatlah, mas telah memakan semua hidangan ini." tunjuk pelayan ke arah makanan yang baru saja kami makan.
"tapi, kami tidak menghabiskan semuanya. Uda lihat sendiri masih banyak sisanya" kata mas Ringgo berdebat dengan pelayan tadi, aku hanya diam menyaksikan.
"seharusnya, mas menghabiskan makanan itu satu-satu. Mas tidak boleh mencoba semuanya, makanan yang sudah mas coba itu sekarang sudah menjadi makanan sisa. Mas harus membayar semuanya." kata pelayan menerangkan.
"baiklah, saya akan membayar semuanya. Tapi saya minta sisa hidangan ini dibungkus, saya ingin bawa pulang" kata mas Ringgo, terlihat dia sangat kesal sekali.
__ADS_1
"rasain kamu mas, terimalah pembalasan dariku. Itu baru sedikit, aku pastikan akan kamu akan kehilangan semuanya" Aku berkata dalam hati, seraya menyembunyikan senyuman puas di hatiku.