
Jam lima pagi ku terbangun dari mimpi yang biasa saja, aku mendengar alunan kumandang azan shubuh yang mengalun merdu memanggil jiwa-jiwa yang tengah berkelana dalam tidur mereka.
Aku beranjak dari pembaringan dan segera menuju kamar mandi hendak mengambil Wudhu, setelah selesai aku segera menunaikan kewajiban pertamaku setelah bangun.
Aku menajam mata batinku menghadapnya, kubuang segala keresahan dan nafsu dunia, berusaha khusyuk dan tenggelam dalam keindahan beribadah kepadanya.
Aku tidak lupa memanjatkan segala puji dan puja atas kebesaran dan kasih sayang yang dilimpahkan kepadaku. Setelah selesai sholat subuh, aku segera melipat mukena dan sajadah yang kugunakan tadi.
Tok! Tok Tok!
"Rianti, kamu sudah bangun nak?" Aku mendengar suara perempuan memanggilku dari balik pintu kamarku.
Aku tersenyum simpul mendengar suara itu, pasti mama yang berada di sana. Sejak tinggal di sini, mama setiap subuh pasti membangunkanku.
Aku beranjak mendekati pintu dan segera membukanya, ternyata benar mama berdiri dengan senyum mengembang di bibirnya. Beliau terlihat sehat, beda jauh jika dibandingkan daripada saat aku baru datang ke rumah ini.
"Rianti sudah bangun ma, barusan selesai sholat subuh."
"kita sarapan dulu yuk, setelah itu kita pergi jalan-jalan ke mall membeli keperluan kuliah nanti."
"ini kan masih pagi ma, baru jam enam. kita perginya nanti jam delapan, tunggu mas Roland berangkat kerja dulu."
"iya, kita sarapa dulu yuk."
Aku mengikuti mama dari belakang menuju meja makan, ternyata mas Roland sudah duduk manis di sana. Dia tengah asik membalik-balik kertas yang ada di dalam map.
"assalamualaikum, selamat pagi, mas." aku mengucap salam seraya menjatuhkan bobotku di kursi yang berdekatan dengan mas Roland.
"waalaikumsalam, dik!" Mas Roland menjawab salamku tanpa menoleh ke arahku, dia terus membalik-balik dan membaca kertas-kertas yang ada di hadapannya.
"kita sarapan dulu yuk, perut mama sidah terasa lapar."
"iya ma." mas Roland menjawab singkat, kemudian meletakkan berkas yang dibacanya di atas meja.
__ADS_1
Kami menikmati sarapan pagi bersama, tiada yang bersuara, hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring yang terdengar. Tidak berapa lama, kami menyelesaikan ritual sarapan pagi.
"ma, Roland berangkat dulu ya. Roland harus berangkat lebih awal karena ada meeting bersama klien pagi ini."
"Iya nak, Roland hati-hati di jalan ya, kalau ada apa-apa hubungi mama dan Rianti."
"iya."
"Rianti, ayo kita siap-siap."
"kita pergi sekarang ma, apa tidak terlalu pagi kita belanjanya? Apa tidak sebaiknya kita pergi sebentar lagi."
"pagi ini saja, mama sudah tak sabar ingin belanja dan jalan-jalan sepuasnya. Kita bersiap sekarang yuk." Mama bergegas masuk kamar seraya tersenyum sumringah.
Aku ikut tersenyum melihat sikap mama, beliau sangat antusias sekali bahkan melebihiku. Mama menjadi penyemangat terbesar dalam hidupku sekarang.
Aku kemudian bergegas masuk kamar, ingin bersiap juga. Aku memakai pakaian terbaik yang kupunya dan berhias alakadarnya. Setelah selesai berdandan, aku segera keluar kamar hendak menemui mama.
Sesampai di pintu kamar mama, aku mengulurkan tangan hendak membuka knop pintu. Tanganku terhenti sebelum sempat menyentuh knop, ternyata mama lebih dulu mama membuka pintu dari dalam kamar.
Aku menatap mama dengan pandangan takjub dan kagum, beliau begitu cantik dan menarik. seutas senyum yang mengembang di bibir mama, membuat beliau semakin cantik. Sungguh, aku mengagumi kecantikan wanita yang ada di hadapanku sekarang.
"lho kok bengong, Rianti kok belum siap-siap juga. Mama sudah siap, cepatan Rianti siap-siap juga!"
"ini sudah siap, kita berangkat sekarang yuk!"
"yakin mau berangkat dengan penampilan seperti ini, Rianti beneran sudah siap?" mama balik bertanya seraya memandang penampilanku dari atas sampai bawah
"kenapa dengan penampilan Rianti ma? Apa ada yang salah ya?"
"sangat salah, sini mama dandani biar anak mama semakin cantik." Mama menarik tanganku ke dalam kamarnya, beliau mendudukkan ku di depan cermin meja riasnya.
Beliau mulai mendandaniku, aku hanya duduk pasrah menerima setiap yang beliau lakukan pada wajahku. Aku memejamkan mata saat mama mendandaniku, tak berapa lama beliau berhenti. Aku tak lagi merasakan sentuhan pada wajahku.
__ADS_1
Perlahan-lahan, aku membuka mata memandang ke cermin yang ada di hadapanku. Aku kaget melihat pantulan wajahku di cermin, penampilan wajahku berubah seketika.
Aku terdiam beberapa saat, tidak sanggup bicara karena terpana dengan pantulan wajahku yang ada di cermin. Aku tak percaya bisa secantik itu, perlahan kutepuk pipiku dan benar saja terasa sakit.
"benarkah ini ma? Aku tanpa sadar bertanya, rasanya tak percaya bisa secantik ini, seraya terus memandang kearah cermin kemudian aku menoleh ke arah mama.
Mama mengangguk seraya tersenyum penuh arti, aku merasa begitu bahagia dan bangga. Aku menjadi jauh lebih percaya diri dari sebelumnya, sekarang aku makin mantap melangkah menongsong masa depan.
"Rianti sangat cantik, wajahmu itu perpaduan antara wajah mama dan papa."
"benarkah, Rianti sangat senang ternyata Rianti bisa secantik ini."
"iya." mama menjawab singkat namun wajah beliau terlihat sendu.
Melihat perubahan wajah mama yang semula berbinar bahagia menjadi sendu, aku merasa ada sesuatu. Aku menjadi penasaran ada apa yang sebenarnya terjadi.
"kenapa mama mendadak merasa sedih begitu?"
"tidak apa-apa Rianti, mama teringat pada papa?"
"memangnya papa kemana ma?"
"papa meninggal tidak berapa lama setelah Rianti hilang, beliau sangat terpukul. Mama juga merasa sangat sedih waktu itu, hingga jatuh sakit."
Mama bercerita dengan suara serak, tergurat keseduhan yang sangat mendalam di wajah dak bola matanya. Ternyata kehilanganku membuat dan meninggalkan kesedihan yang begitu besar, mama menyimpan kesedihan itu sampai sakit parah bertahun-tahun.
"sudahlah ma, kita doakan saja beliau semoga beliau bahagia di sana."Aku mencoba menghibur mama walau hatiku juga merasa sedih dan trenyuh mendengar cerita yang mama tuturkan.
"iya nak, ayo kita berangkat sekarang. Mama dah gak sabar ingin cuci mata.
Mama kembali terlihat ceria, aku tersenyum melihat tingkah beliau. Aku tahu ada rasa sakit dan sedih yang mendalam di hati yang sejarang mama rasakan, beliau sedang berusaha menyembunyikannya serapi mungkin.
'benar-benar wanita tangguh, aku harus mencontoh dan belajar hidup tegar seperti beliau.' aku bergumam dalam hati.
__ADS_1
Mama berjalan mendahului dan aku mengikuti langkah kaki beliau dari belakang. Aku tak lupa memesan taksi online, tak lama berselang taksi yang kupesan datang menjemput kami.
Aku dan mama segera naik dan taksipun segera meluncur ke tempat yang kami tuju. ini saatnya membuang masa lalu, aku sudah siapa menjemput masa depan. Selamat tinggal penderitaan, selamat datang kebahagiaan....!