
" dek apakah kamu mau baik-baik saja? mas Ringgo berkata, entah dia benar-benar khawatir atau sekedar bertanya tapi aku tidak peduli sama sekali. Semua perhatian yang dia tunjukkan kepadaku sekarang, sudah tidak ada artinya bagiku.
Percuma, dia memberikan perhatian kepadaku sekarang aku sudah tidak menginginkan semua itu. Aku merasa perasaanku untuknya sudah benar-benar hilang, hatiku terlanjur sakit yang tersisa hanya serpihan luka yang sulit untuk disembuhkan.
"bagaimana perasaanku sekarang? kamu pasti tahu jawabannya mas. Aku merasa keadaanku buruk bahkan teramat buruk. Setelah pengkhianatan dan perselingkuhan yang kamu lakukan, mustahil aku akan baik-baik saja mas. Seharusnya, kamu tidak menanyakan itu kepadaku mas." Aku berkata seraya memandang sinis kepada mas Ringgo, dia benar-benar sudah tidak waras bertanya begitu kepadaku.
"mas benar-benar minta maaf dek, semoga kamu mau memaafkan semua kesalahan mas." mas Ringgo berkata meminta maaf tapi kata maafnya tidak cukup bagiku, untuk menghapus segala duka yang telah menghancurkan hatiku.
Dia tidak mengerti seberapa besar dia telah melukai hatiku, percuma mengatakannya aku merasa semua tidak akan pernah terpikir olehnya. Andaikan saja, dia memikirkan perasaanku semua ini pasti tidak akan pernah terjadi.
"kamu benar-benar hebat mas, tega kamu selingkuh di belakangku, padahal kamu tidak pernah mampu menafkahi aku sepenuhnya selama ini. Aku hidup dalam kekurangan bersamamu, jangankan untuk membeli barang bagus membelikan pakaian dalam aku saja kamu hampir tak pernah. Apa kamu pikir perbuatan yang kamu lakukan kepadaku itu pantas untuk di maafkan? Aku berkata seraya melontarkan pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban sama sekali.
Mas Ringgo hanya terdiam mendengarkan pertanyaannya, dia kelihatannya tidak bisa menjawab pertanyaan yang aku lemparkan kepadanya. Aku juga tidak membutuhkan penjelasannya sekarang, semuanya tampak jelas di mataku.
Aku juga tidak berharap bisa hidup bersamanya, yang aku inginkan sekarang cepat berpisah darinya. Aku merasa cukup sudah penderitaan yang aku rasakan, hubungan ini memang harus aku akhiri tak ingin buang waktu lebih lama hidup bersamanya.
"tapi dek, mas masih sangat mencintaimu dan tidak pernah terlintas di pikiran ingin berpisah denganmu." mas Ringgo berkata, seketika membuat perutku seakan mual ingin muntah mendengarnya. Aku akui dia memang sangat pintar berolah kata
"dek maafkan kesalahan mas, mas benar-benar menyesali semua yang telah terjadi." mas Ringgo berkata seraya memegang tanganku, tapi aku segera menarik tanganku tidak mau disentuh oleh tangan kotornya.
__ADS_1
"penyesalan yang sekarang kamu rasakan sudah sangat terlambat mas, aku tidak bisa memaafkan semua kesalahanmu sebaiknya kamu jangan pernah lagi membicarakan ini. Semuanya sudah berakhir mas,mulai sekarang kita jalani hidup kita masing-masing." Aku berkata seraya bangkit, tidak ingin lagi melanjutkan.
"dek, kamu mau kemana, pembicaraan kita belum selesai." mas Ringgo berkata, dia bangkit seraya memegang tanganku.
"aku mau tidur lagi mas, aku tidak mau melanjutkan pembicaraan ini. Aku merasa pembicaraan ini tiada gunanya." Aku berlalu dari hadapan mas ringgo, rasanya perutku tidak terasa lapar lagi bosan sekali membahas masalah yang tidak berguna ini.
Aku sebaiknya kembali tidur untuk beristirahat, besok akan aku temui si Ratu kadal tak tahu malu itu. Aku aku tunjukkan kepadanya dengan siapa dia sedang berurusan, akan aku buat dia menyesal berani main-main denganku.
"dek....
Aku tidak mau mendengarkan Kata-kata mas ringgo lagi, hanya akan menambah rasa sakit di hatiku. Aku segera berlalu meninggalkan mas Ringgo yang masih berdiri memandang ketika aku meninggalkannya. Sebaiknya, aku segera tidur tidak gunanya lama-lama disini.
Aku membaringkan tubuhku di ranjang, pikiranmu kembali menerawang mengingat masa-masa lalu yang telah aku lalui selama ini. Air mataku tiada terasa mulai berjatuhan membasahi bantal, menangisi kesialan yang telah aku alami.
"kenapa selalu begini...! Aku merintih dalam hati, hatiku terasa pilu mengenang cintaku yang selalu berakhir dengan kehancuran. Aku selalu menjadi korban oleh perempuan yang sama, akhirnya aku yang kehilangan.
'takdir apakah ini ya allah? apakah takdir cintaku akan selalu begini?" aku terus bertanya, akhirnya aku tertidur sampai pagi dengan air mata yang masih mengalir, tanpa ada seseorang yang akan menghapusnya.
Aku terjaga dari tidurku, segera bangkit untuk mengambil wudu' hendak melaksanakan sholat subuh. Aku membuka pintu kamar, kulihat mas Ringgo masih tertidur di sofa tanpa selimut.
__ADS_1
Biasanya, aku akan menyelimuti dia jika melihat dia tidur kedinginan tanpa selimut. Mulai hari ini, aku tidak melakukannya lagi. Untuk apa aku perhatian kepada orang sedang dia tidak peduli sama sekali dengan perasaanku.
Aku mengalihkan pandangan seraya berlalu, tidak ingin larut dalam perasaanku. Selesai melaksanakan sholat, aku segera membuat membuat teh untukku. Aku kemudian duduk di meja meja makan, menikmati teh yang ada di hadapanku.
"dek sudah bangun?"suara mas Ringgo terdengar tiba-tiba aku kaget mendengarnya. Aku tidak menjawab tapi terus saja menikmati teh yang ada di hadapanku.
Aku melihat mas Ringgo duduk di kursi menghadap ke arahku, tapi aku hanya diam saja tidak mau bicara dengannya. Dia melihat ke meja dan kemudian menatapmu tapi aku tetap mengabaikannya.
"dek kopi untuk mas mana? mas Ringgo bertanya setelah beberapa saat aku masih diam tidak ada tanda akan bangkit.
Aku merasa itu bukan lagi tanggung jawabku, biarkan saja dia yang membuat sendiri. Aku tidak mau membuatkan untuknya, biar dia rasakan andai tiada aku yang melayaninya.
"mas, sebaiknya mulai sekarang kamu biasakan membuat kopi dan sarapan sendiri karena tidak lama lagi kita akan berpisah. Aku tidak akan melakukan apapun untukmu, jadi sebaiknya kamu biasakan diri melakukan semua sendiri mulai sekarang." Aku berkata tanpa menoleh, mas Ringgo terlihat bangkit dari duduknya.
Aku segera menghabiskan teh tanpa sarapan pagi karena aku memang tidak membuat sarapan kali ini. Tiga tahun menikah, aku baru kali ini tidak membuat sarapan biasanya mas Ringgo tahu beres saja. Mas Ringgo kalau mau sarapan biar dia sendiri yang membuatnya, dia tidak perlu bantuan aku lagi.
"dek kamu mau kemana, pagi-pagi sudah rapi." mas Ringgo berkata, heran melihat penampilanku.
"aku mau kemana kamu tidak perlu tahu mas, karena itu aku bukan urusanmu lagi. Aku berharap kamu tidak mencampuri urusanku dan aku tidak akan mau tahu dengan apa yang kamu lakukan. Kamu bebas melakukan apapun sesuai dengan keinginanmu." aku berkata seraya berlalu dari hadapan mas Ringgo. Dia mematung mendengarkan aku bicara, pasti tidak menyangka aku sanggup mengatakan hal itu kepadanya.
__ADS_1
Pagi ini aku berniat menemui si Ratu ular, aku akan memaksa dia membatalkan laporannya. . Dia harus bersedia Memenuhi semua keinginanku, kalau tidak dia harus siap menanggung segala resikonya.