SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 102: Diam Bukannya Takut


__ADS_3

"maaf mbak. Saya minta jangan ada yang dikeluarkan, tolong bungkus semua barang yang di ambil adik saya. Mbak hitung saja berapa jumlahnya, saya yang akan membayar semua tagihannya."


"tapi mas, aku....


"kamu tenang saja dik, mas tidak ingin mendengar apapun." Mas Roland berkata dengan nada yang tegas, dia terlihat serius dengan kata-katanya


Aku hanya bisa diam setelah mendengarkan mas Roland berkata begitu, dia tidak memberikan kesempatan bagiku berkata lagi.


Sejenak kasir itu jumlahkan belanjaan kami, Aku sangat terkejut ketika kasir itu mengatakan berapa jumlahnya. Aku tidak menyangka belanja di sini ternyata bisa membuat kantong Robek seketika.


Mas Roland membayar sumua tagihan dengan ekspresi wajah datar tidak sama halnya denganku. Aku yang terbengong dan kaget nendengarnya dia cuma santai saja.


Setelah membayar semuanya, mas Roland kembali mengajakku berkeliling. Aku menenteng tas belanjaan kami, betapa bangga dan senang hatiku bisa membeli baju sebagus dan semahal itu.


Aku senang sekali rasanya, terbayang betapa cantiknya aku memakai baju-baju yang baru saja aku beli. Aku akui harganya memang mahal tapi baju-baju itu memang bagus dan sangat cantik modelnya.


Aku terus mengikuti langkah kaki mas Roland, ternyata dia memasuki toko yang menjual beraneka ragam sepatu. Aku takjub melihat sepatu yang terpajang di sana, semuanya bagus-bagus membuat mataku jadi berbinar-binar melihatnya.


"kamu pilih saja sepatu yang kamu suka dik, nanti mas akan belikan untukmu."


"tidak usah mas, sepatu dan sandalku masih bagus-bagus." Aku berusaha menahan keinginanku, sungkan rasanya selalu di belikan.


"jangan menolak dik, kamu adik mas satu-satunya. Mas ingin sekali membahagiakan kamu, biarkan mas menebus masa-masa yang telah hilang dari hidup kita dik. Aku menatap sejenak pada kakak laki-lakiku itu, dia terlihat serius dan tulus mengatakannya.


Aku kemudian memilih dan mencoba beberapa sepatu, akhirnya aku menemukan sebuah sepatu yang sangat aku sukai. Aku kemudian mencoba memakainya, ternyata pas sekalu di kakiku.


"mbak sepatu ini berapa harganya?"


"kalau yang ini harganya tujuh ratus lima puluh ribu mbak."


'ih mahal sekali' aku kembali meletakkan sepatu itu ke tempatnya. Aku sebaiknya menunda keinginanku, karena tidak mungkin membelinya sekarang.


"kenapa mbak? apakah mbak tidak menyukai modelnya?"

__ADS_1


"bukan mbak, saya tidak punya uang sebanyak itu untuk membelinya. apakah ada yang lebih murah dari pada ini mbak?"


"oh ada mbak, sini saya tunjukkan." pelayan itu memberikan bebrapa model sepatu tapi aku tidak menyukainya.


"bagaimana mbak? apakahada yang mbak sukai?"


"maaf mbak, saya lebih menyukai model yang tadi tapi harganya mahal uang saya tidak cukup untuk membelinya. Saya mungkin tidak jadi beli sepatu sekarang.


"baiklah mbak. Kalau begitu, Saya tinggal dulu ya mba, untuk melayani pelanggan yang lain."


"silahkan mbak." Aku mempersilahkan pelayan tersebut.


Aku tidak lagi punya keinginan untuk memilih sepatu yang dijual di sana, aku hanya berdiri memandang sekeliling.


"kamu tidak jadi mengambil sepatu yang tadi kamu pilih dik? Mas lihat kamu sangat menyukainya." Aku menggeleng pelan, tanpa memberikan alasan


Mas Roland kemudian berjalan menuju meja kasir, dia terlihat berbincang dengan pelayan yang tadi melayaniku. Setelah membayar, Mas Roland berjalan mendekatiku dengan menenteng beberapa tas belanjaan di tangannya.


Ketika hendak keluar dai toko, aku kaget melihat sepasang manusia yang sangat aku kenal. Mereka saling berpegangan tangan, ternyata manusia-manusia busuk itu juga ada di sini.


Aku sebenarnya ingin menghindari mereka tapi sudah terlambat sekarang mereka berada tepat di depanku.


"dek Rianti." mas Ringgo menyapaku dengan ekspresi terkejut dia berusaha melepaskan genggaman tangannya.


Ratu memandangku dengan tatapan yang tidak biasa, dia seakan sedang memindai penampilan dan barang bawaanku.


"kenapa kamu berhenti, dik? Ayo kita pergi dari sini." Mas Roland berkata, dia mengajakku seraya menarik tanganku.


"hebat kamu ya mbak, baru saja cerai dari mas Ringgo sekarang sudah mendapatkan mangsa baru." Aku mendengar Ratu mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan telinga dan hatiku ketika mendengarnya.


Aku tidak tahu entah apa masalah perempuan sialan itu denganku, dia sekarang malah mencoba membuat masalah denganku padahal ini tempat umum.


Aku hanya diam, mencoba melangkahkan kaki untuk menjauhi mereka. Aku tidak ingin membalas kata-katanya, biar saja dia berkata apa. Aku tidak peduli karena aku merasa tidak punya urusan lagi dengan mereka.

__ADS_1


"dek Rianti, apa kabarmu sekarang? Aku mendengar mas Rolad menegur ketika berlalu darinya, aku menoleh sesaat.


Aku meneruskan kembali langkah kakiku tanpa mengatakan apa-apa kepadanya, aku bersikap seola-olah tidak melihat dan tidak mengenalnya.


Aku merasa lebih baik bersikap seperti itu kepadanya, mulai sekarang aku tidak ingin berurusan dengan mereka. Tiada gunanya berurusan dengan mereka,aku lebih baik secepatnya meninggalkan tempat ini.


"alah mbak. Kamu jangan sombong, janda saja belagu." Dia makin menjadi dan makin menyakiti hatiku dengan setiap kata yang di ucapkannya.


Aku kembali menoleh dan mendekatinya. hati, geram sekali hatiku mendengar kata-katanya. Aku akan memberi pelajaran kepada wanita tidak tahu malu ini, agar dia tahu diam itu bukan berarti takut.


"apa katamu?


"Plak."


Aku mendaratkan sebuah tamparan yang sangat kuat ke pipinya, sebagai kawaban dari kata-katanya. Saking kuatnya, aku melihat cetakan gambar tangan tercetak dengan jelas di pipi wanita bermulut kurang ajar itu.


"mulai sekarang, kalau tidak pandai bicara sebaiknya kamu diam saja. Jadi pelakor saja bangga, dasar wanita tidak tahu diri kamu." Aku membalas perkataannya, dia terlihat meringis seraya memegangi pipinya.


"mas lihatlah perlakuan mantan istrimu padaku." Ratu merintih mengadukanku pada mas Ringgo yang sejak tadi hanya diam mendengarkan dan menyaksikan pertengkaranku dan Ratu.


"kamu mau mengadu pada laki-laki brengsek ini, silahkan. kamu pikir dia bisa apa untuk membelamu?"


"dek Rianti, aku......"


"aku apa mas? aku katakan padamu, mulai sekarang ajari wanitamu itu berkata sopan dan menjaga mulutnya." Aku berkata seraya menunjuk ke arah mukanya, aku muak mendengar dan melihat laki-laki yang telah berstatus sebagai mantan suamiku itu.


Entah kenapa, aku makin geram melihat sepasang manusia tidak tahu malu itu. Aku jijik melihat merdeka berdua, yang satu pelakor dan yang satu lagi pengkhianat mereka saling cocok keduanya.


"pak Ringgo , saya harap kamu dan selingkuhanmu itu tidak mengganggu Rianti lagi mulai saat ini karena dia sekarang dalam perlindunganku. Kalau anda tidak mendengarkan kata-kataku, saya akan membuat perhitungan."


"pak Roland maafkan saya.


"baiklah, saya harap mendengarkan kata-kata saya, silahkan pergi. kamu bawa dia dari hadapan kami."

__ADS_1


"baiklah pak." mas Ringgo pergi menjauh seraya menarik tanganku. Sebelum menghilang dari pandanganku, aku melihat mas Ringgo menoleh ke arahku, tapi aku hanya melongos tak peduli.


__ADS_2