
"mumpung punya kesempatan, aku mau beli apa lagi ya?" Aku berkata di dalam hati, seraya melihat ke sekeliling mencari apa yang akan dibeli.
Tidak sengaja, aku melihat deretan ponsel pintar di pajang di etalase tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku segera berjalan mendekat, ingin membeli sebuah ponsel pintar yang lebih canggih dari ponsel yang aku miliki sekarang. Aku membeli untuk menunjang usaha baru yang akan aku dirikan.
"mbak selamat datang, apa yang bisa saya bantu?" Seorang pelayan pria datang menyapa, ketika melihatku mendekat. Dia tersenyum lebar menyambut kedatanganku.
"mas saya mau mencari sebuah ponsel pintar yang harganya standar tapi bagus. apakah ada ya mas?" Aku bertanya kepada pelayan pria tersebut.
"ada mbak, ponsel ini harganya dua juta lima ratus ribu rupiah. ponselnya walau harganya murah tapi bagus mbak" pelayan itu berkata seraya memperlihatkan ponsel yang diambil dan menyodorkan kepadaku. Aku kurang menyukai ponsel itu karena tidak jauh berbeda ukuran dan bentuknya dari ponsel yang aku miliki sekarang.
Aku kemudian melihat dan memindai ponsel pintar lainnya, mencari ponsel yang sesuai dengan keinginanmu. Aku menginginkan ponsel pintar yang ukurannya sedikit besar, ruang penyimpanan besar dan fitur-fitur yang lebih canggih dari ponsel yang aku miliki sekarang.
"mas boleh lihat ponsel yang itu? aku menunjuk ke arah ponsel yang terpajang di etalase paling atas. Aku merasa tertarik dengan ponsel tersebut, aku ingin mengetahui kelebihan ponsel pintar tersebut.
"mana mbak, apakah yang ini? Pelayan itu bertanya seraya menunjuk sebuah ponsel yang dipajang di etalase bagian atas.
"mas bukan yang itu, tapi yang di sebelahnya" Aku menjawab pertanyaan pelayan tadi, karena yang dia tunjuk tadi salah.
"oh, yang ini ya mbak" tanyanya memastikan.
"iya mas" jawabku singkat, pelayan itu segera mengambilnya dan memperlihatkan kepadaku. Aku menanyakan apa kelebihan dan kekurangan ponsel tersebut.
"mbak ponsel ini jauh lebih canggih dari ponsel yang saya perlihatkan tadi, selain ruang penyimpanannya lebih besar ponsel ini memiliki fitur-fitur yang lebih lengkap. Mbak akan merasa senang dan puas memiliki ponsel ini karena ponsel ini merupakan yang terbaik di kelasnya." pelayan pria itu menjelaskan panjang lebar.
"apakah boleh saya mencoba mengoperasikannya di sini sebentar mas?" aku bertanya kepada pelayan pria itu lagi, ternyata dia mengizinkan. Pelayan itu sangat ramah sekali dia menerangkan kelebihan ponsel itu sedetil mungkin. Aku merasa tertarik dan menyukai ponsel itu, akhirnya memutuskan ingin membelinya.
__ADS_1
"berapa harga ponsel ini mas? aku bertanya kepada pelayan itu serius, seraya memperhatikan ponsel yang sekarang ada di genggamanku.
"mbak harga ponsel itu delapan juta rupiah, memang mahal dari ponsel tadi karena ponsel ini keluaran terbaru dan kualitas ponsel ini yang terbaik di kelasnya" pelayan itu berkata, menyebutkan harga ponsel tersebut.
"apakah tidak bisa kurang lagi mas?" aku bertanya kepada si pelayan mencoba menawar.
"mbak itu harga yang terendah kalau di tempat lain mungkin harganya lebih mahal" pelayan itu berkata, aku terdiam sejenak memikirkannya. Aku merasa harga ponsel itu memang mahal tapi melihat setelah dipikir-pikir harga ponsel tersebut sebanding dengan kualitasnya. Akhirnya, aku memutuskan untuk membeli ponsel itu toh bukan aku yang akan membayarnya.
"baiklah mas, saya akan membeli ponsel ini tolong di bungkus ya. Apa saya bisa membayarnya pakai ini mas?" aku bertanya kepada pelayan itu seraya memintanya untuk membungkus ponsel tadi, sesaat kemudian menyodorkan kartu kredit mas Ringgo.
Aku sekarang tidak akan memikirkan mahalnya harga ponsel yang aku beli, tujuanku sekarang memang bukan hanya untuk membeli ponsel tapi lebih pada membalas perbuatan mas Ringgo kepadaku. Mas Ringgo harus merasakan pembalasan atas segala perlakuannya selama ini kepadaku.
"tentu saja bisa, sebentar ya mbak" pelayan itu menerima kartu kredit, dia segera mengaksesnya.
"ini mbak, kartu kreditnya saya kembalikan transaksinya sukses" pelayan itu berkata seraya mengembalikan kartu kredit kepadaku.
Aku membeli bedak, parfum, lipstik handbody dan segala macamnya. Aku belanja seperti orang yang bertahun-tahun tidak belanja, aku mengambil semua yang aku rasa butuh.
'kapan lagi bisa begini aku harus memanfaatkan kesempatan ini." Aku berkata di dalam hati, puas sekali rasanya hatiku. Aku tidak merasa bersalah sama sekali melakukan semua ini, mas Ringgo penyebab aku melakukan semua ini jadi dialah yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi.
Setelah selesai mengumpulkan semua, aku segera menuju meja kasir. Aku meminta petugas kasir tersebut untuk menjumlahkan berapa totalnya, ternyata totalnya sepuluh juta rupiah. Aku malas untuk menawar harganya karena sepengetahuanku harga barang kosmetik tidak bisa ditawar. Aku segera menyerahkan kartu kredit untuk membayar semuanya.
Aku melihat jarum jam telah menunjukkan jam sebelas lebih empat puluh lima menit, itu berarti tinggal lima belas menit lagi dari waktu yang aku sepakati dengan mas Roland. Aku segera bergegas keluar dari mall.
Baru beberapa langkah berjalan, aku melihat sepatu kemudian aku membelinya dan membayarnya dengan menyerahkan kartu kredit. Aku terus saja membeli barang yang kulihat, hingga aku kesulitan untuk membawanya. Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang karena hari telah menunjukkan jam dua belas malam.
__ADS_1
Setelah keluar dari mall, aku kemudian melihat ke arah cafe tempat mas Roland minum kopi. Aku melihatnya sedang bermain ponsel disana, ternyata masih menunggu di sana.
'ternyata, mas Roland menepati kata-katanya' aku berkata di dalam hati seraya tersenyum, ternyata masih ada orang yang bisa dipegang kata-katanya.
Aku kemudian mengambil ponsel dari dalam tas buluk kesayanganku, kemudian mencari nama mas Roland di sana. Setelah menemukan namanya, aku segera menghubunginya. Aku melihat mas Roland mengangkat ponselnya dari kejauhan.
"halo mas, saya sudah selesai belanja. Mas Roland tolong segera menjemput dan mengantarkan aku pulang" aku berkata melalui ponsel, memintanya untuk segera menjemputmu.
"iya dik, mas akan segera ke sana" Aku mendengar suara mas Roland menjawab di dalam ponsel, aku melihat dia berdiri dan menuju ke arahku.
"adik habis memborong ya? mas bisa melihat belanjaan adik banyak sekali." kata mas Roland kepadaku, seraya melihat tas belanjaan yang kubawa.
"aku tidak memborong kok mas, hanya saja lebih banyak dari biasanya." aku menjawab sekenanya saja, malas sekali berkata banyak. Aku merasa lelah sekali setelah melakukan semuanya.
"ayo mas, kita segera pulang hari sudah larut malam" aku mengajak mas Roland untuk segera meninggalkan tempat itu. Dia mempersilahkan aku naik motornya dan segera mengendarainya.
Diperjalanan, aku lebih banyak diam dari pada berbicara karena merasa lelah sekali. Aku segera turun dari motor mas Roland dan segera membayar uang sesuai dengan yang telah di sepakati.
"terima kasih banyak ya mas, saya sangat menghargai mas ternyata masih ada orang baik di dunia ini" Aku berkata seraya tersenyum kearah mas Roland seraya melayangkan senyuman kepadanya.
"sama-sama dik, kalau butuh bantuan adik bisa menghubungi saya." mas Roland berkata seraya menawarkan bantuannya di lain waktu.
"iya mas, saya sekarang masuk ya" aku berkata pada mas Roland seraya pamit kepadanya.
"iya dek" jawab mas mas Roland kemudian pergi meninggalkanku.
__ADS_1
Aku segera masuk ke dalam rumah dan mulai berpikir sebaiknya dimana menyembunyikan semua barang yang telah aku beli. Aku merasa belum saatnya mas Ringgo mengetahuinya.