
"jadi maksud kamu mengira aku adalah adikmu yang hilang itu mas?" Aku bertanya serius kepada mas Roland. Tidak dipungkiri, aku merasa ada rasa takut dan khawatir tiba-tiba muncul di hatiku.
Aku khawatir dan takut mas Roland akan menjauhiku nantinya, andaikan kenyataan tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan selama ini. Mas Roland terlihat mengernyitkan dahi, apa yang ada dalam pikirannya saat ini, aku tidak tahu.
"tapi, bagaimana kalau dugaan kamu salah mas? Apakah kamu akan tetap baik seperti ini padaku?" Aku bertanya pada mas Roland, aku merasa ada denyut sedih di dalam hatiku.
Terus terang, aku tidak ingin kehilangan mas Roland apa lagi saat ini. aku sangat membutuhkan mas Roland, karena mas Roland satu-satunya kekuatan yang aku miliki sekarang. Aku berharap bisa bersama-sama dengan mas Roland selama-lamanya.
"Mas yakin kalau kamu adikku, wajahmu sangat mirip dengan wajah ibuku, dik?
"bagaimana kalau kebetulan mirip saja mas, apakah kamu akan menjauh dariku setelah mengetahuinya? Seandainya aku bukanlah adik yang selama ini yang kau cari, aku berharap kamu tidak mengabaikan aku mas." Aku berkata dengan nada sedih, aku benar-benar khawatir dibuatnya.
"tidak usah dipikirkan dik, sekarang kamu fokus saja pada kesehatanmu dulu. Kamu harus segera sembuh karena Senin besok jadwal sidang kamu."
"tapi mas......
"jangan diteruskan lagi pembicaraan ini, Sebaiknya kamu segera istirahat. Karena hari sudah malam, sebaiknya mas pulang dulu ya dik." Mas Roland berkata seraya bangkit dari tempat duduknya.
"sebelum pergi, jawab dulu pertanyaan aku mas. Apakah kamu akan meninggalkanku, andaikan aku bukanlah adik yang telah kamu hilangkan itu, mas?"
"andaikan, ternyata kamu bukan adik yang selama ini aku cari, maka aku akan menjadikanmu pengganti adik perempuanku yang hilang Rianti. Aku tidak akan meninggalkanmu, walaupun nanti kenyataannya berbeda dengan apa yang aku pikirkan."
"benarkah mas? Aku senang mendengar jawaban darimu, Aku berharap semoga kita memang kakak adik sebenarnya mas. Jujur, aku tidak ingin kehilangan kamu karena kamu satu-satunya sumber kekuatan bagiku saat ini. aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi sekarang kecuali kamu mas." aku berkata dengan penuh harapan, aku merasa ada setumpuk kegundahan yang bersarang di dalam hatiku sekarang.
"kamu janji ya mas, kamu tidak akan pernah mengabaikan ku walau apapun yang terjadi."
"mas janji dik, mas tidak akan mengingkari setiap kata-kata yang mas ucapkan padamu."
"aku yakin kamu pasti akan menepatinya mas, aku senang sekali mendengarnya."
"kalau begitu, mas pulang dulu ya dik, besok pagi mas akan kembali ke sini untuk mengantarkan sarapan untukmu.
__ADS_1
"tidak usah repot-repot mas, aku akan membeli sendiri." Aku menolak tawaran mas Roland, tik enak rasanya terus-terusan merepotkan mas Roland.
"mas tidak repot dik, mas melakukannya dengan senang hati. Kamu jangan merasa sungkan, bila membutuhkan bantuan segera saj hubungi mas, dik"
"terima kasih banyak mas, aku beruntung bisa bertemu kamu. Kamu mungkin orang dikirim oleh yang maha kuasa untuk menolongku."
"kalau begitu, mas pulang dulu. jaga diri baik-baik ya dik," Mas Roland pamit seraya berlalu. Aku memandang kepergiaan mas Roland dengan tatapan galau, aku hanya bisa berdoa semoga mas Roland menepati janjinya.
Selepas mas Roland pergi, aku segera mengunci pintu kemudian berlalu menuju kamar. Aku masih kepikiran dengan apa yang barusan aku dengar, hatiku gelisah memikirkannya.
Aku susah memejamkan mata, pikiranku terus di usik oleh kata-kata mas Roland tadi, hingga akhirnya aku tertidur juga walau jam menunjukkan pukul Dua tengah malam.
Keesokan harinya, aku terlambat bangun pagi. Aku melihat jam dinding ternyata sudah menunjukkan Jam sembilan.
Aku bergegas menuju kamar mandi, kemudian segera mandi dan membersihkan diri. Sedang asyik merapikan diri, aku mendengar ketokan pintu dari luar, seketika aku merasa senang sekali karena pasti mas Roland yang datang.
Aku segera menyelesaikan ritual merapikan diriku, aku bergegas membukakan pintu untuk mas Roland. Alangkah senangnya hatiku, ternyata benar mas Roland yang datang. aku melihat mas Roland berdiri di depan pintu dengan menenteng bungkusan di tangannya.
"kamu baru bangun ya dik, sejak tadi mas telpon kok tidak di angkat."
"ini, mas bawakan kamu sarapan. Sebaiknya, kamu segera makan supaya bisa minum obat dik."
Aku menerima bungkusan yang di bawa mas Roland dan membawa ke meja makan. Aku melihat hanya ada sebungkus makan di dalam bungkusan tersebut.
"mas, kenapa cuma ada satu bungkus? Apa kamu tidak ikut sarapan sekalian?"
"tidak dik, kamu sarapan sendiri saja. mas sudah sarapan di tempat yang jualan, habis mas lapar sekali." mas Roland berkata seraya duduk di kursi sofa.
Aku segera melahap makanan yang dibawa mas Roland, aku benar-benar sangat lapar. Tidak beberapa lama, aku telah menghabiskan makanan yang di bawa mas Roland. Karena saking laparnya, aku sampai tidak sadar kalau mas Roland memperhatikanku sejak tadi.
Aku tersenyum sok imut, ketika pandangan mas Roland dan tatapan mataku tidak sengaja bertemu. Bagaimanapun juga, aku merasa malu ketika di perhatikan begitu.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Aku baru ingat belum menyuguhkan minuman untuk mas Roland. Aku segera bangkit untuk membuatkan minuman untuk mas Roland.
"Sebentar ya mas, aku buatkan minuman untukmu. Kamu mau dibuatkan kopi apa teh mas?" Aku bertanya mencoba menawarkan sesuatu untuk mas Roland.
"teh saja dik." Jawab mas Roland singkat.
"baiklah mas, tunggu sebentar ya."
"ya dik." jawab mas Roland singkat, aku segera menuju dapur untuk membuatkan mas Roland secangkir teh hangat.
Setelah selesai aku segera membawa ke tempat mas Roland dan mempersilahkan mas Roland minum. Aku kemudian ke kamar mengambil obat dan meminumnya.
Aku kemudian duduk bersama mas Roland dan menemaninya minum. Aku merasa senang sekali, perlahan-lahan kami semakin akrab.
"kamu mau kemana setelah ini, mas?"
"tidak kemana-mana, memangnya kenapa kamu bertanya begitu dik?"
"maukah mas menemaniku membersihkan kamar belakang yang selama ini di jadikan gudang mas, aku takut membersihkannya sendiri karena kamar itu sudah lama tidak di bersihkan."
"bagaimana kalau kita minta bantuan orang saja membersihkannya dik?"
"tidak usah mas, aku saja yang membersihkannya mas. Kamu cukup menemaniku saja. Aku bisa melakukannya sendiri, aku hanya sedikit takut mas." Aku menolak tawaran mas Roland, aku tidak mau meminta bantuan orang lain karena merasa masih sanggup melakukannya sendiri.
"Kamu takut apa takut dik?" mas Roland berkata seraya tertawa kecil, aku kurang mengerti dengan candaannya.
"maksud kamu apa mas?" aku bertanya seraya mengernyitkan dahi.
"kamu takut rahasiaku terbongkar, kan?
"Rahasia...., Rahasia apa maksudmu mas?" Aku mulai menduga, jangan-jangan mas Roland tahu rahasiaku.
__ADS_1
"uang hasil menguras ATM si Ringgo pasti kamu sembunyikan di sana." mas Roland tertawa kecil saat mengatakan hal itu, Seketika aku menoleh kearahnya. aku terkejut mendengar perkataan mas Roland, ternyata benar dia mengetahui rahasiaku.
'dari mana mas Roland mengetahuinya?' aku bertanya dalam hati, wajahku merah tersipu malu. Aku heran kenapa mas Roland bisa mengetahuinya.