
"dek, mas sudah selesai sarapan kalau begitu mas berangkat ke kantor dulu ya" mas Ringgo berkata seraya mengelap tangannya, dia terlihat tidak menghabiskan sarapannya. Dia menyisakan hampir separuh makanannya.
"iya hati-hati di jalan mas" jawabku santai, aku melanjutkan acara makan yang belum selesai. Aku memandangi kepergian mas Ringgo tanpa mengantar ke pintu, hal yang tidak pernah aku lakukan selama ini. Aku sudah terlanjur muak melihat muka dan perbuatannya.
Aku melihat makanan mas Ringgo tidak habis, aku sudah paham apa penyebabnya. Mas Ringgo tidak menghabiskan sarapannya, pasti karena aku hanya menghidangkan makanan yang kami beli di rumah makan padang semalam sebagai sarapan. Rupanya mas Ringgo tidak menyukainya karena mungkin dia menganggap makanan sisa.
'mas terserah kamu mas, aku tidak peduli sama sekali. Selama ini kamu juga tidak peduli denganku, kamu hanya peduli dengan dirimu sendiri. Kamu akan sering melihat hal seperti ini mulai sekarang, kau pantas mendapatkannya.' aku bergumam di dalam hati, melihat makanan mas Ringgo masih banyak tersisa.
Entah kenapa, Aku sekarang tidak peduli lagi kepada mas Ringgo dan perasaan benci di dalam hatiku semakin lama semakin membara. Aku biasanya akan melakukan apa saja untuk membuat mas ringgo bahagia dan nyaman ketika bersamaku, tapi mulai hari ini tidak akan aku lakukan lagi. Aku hanya akan fokus pada kebahagiaanku sendiri.
Aku memakan sarapanku dengan lahap sekali, karena makanannya memang lezat tidak ada yang salah dengan makanan yang aku makan barusan. Mas Ringgo saja yang sok ketinggian padahal dia tidak mampu memberiku uang belanja yang cukup setiap bulannya. Tapi mulai sekarang, aku sudah tidak peduli sama sekali.
Selesai makan, aku kemudian membereskan meja dan piring bekas sarapan kami tadi. Aku bergegas mencuci piring dan membereskan rumah dalam waktu yang singkat, kemudian memasak alakadarnya yang penting ada masakan baru untuk makan siang nanti.
Setelah selesai semuanya, aku kemudian beristirahat sebentar kemudian berjalan ke arah kamar belakang tempat aku menyimpan semua rahasiaku. Aku akan mengamankan uang yang aku dapat dari hasil menguras ATM mas Ringgo semalam.
Aku membongkar tumpukan kardus berisi kain bekas, yang menghimpit kardus tempat aku menyimpan semua rahasiaku. Baru selesai menyingkirkan beberapa kardus, aku mendengar deru suara mobil masuk pekarangan rumahku. Aku merasa tidak asing dengan suara mobil itu, pasti itu suara mesin mobil mas Ringgo.
"ngapain mas Ringgo balik, apakah ada yang tertinggal?" aku bertanya dalam hati, bergegas menimpuk kardus-kardus kembali. Aku merasa sangat kesal sekali, lelah rasanya kerja buru-buru.
Aku buru-buru keluar dari kamar dan segera mengunci pintunya. Aku segera menuju pintu dan melihat keluar, ternyata memang benar mas Ringgo yang pulang.
"mas kok balik lagi? aku bertanya kepada mas Ringgo dengan tatapan serius, aku sedikit cemas dengan kepulangannya.
"jangan-jangan dia mengetahui aksiku" aku bergumam di dalam hati.
"dek dompet mas ketinggalan. Apakah kamu melihatnya? tanya mas Ringgo bergegas masuk untuk mencari dompetnya. Aku merasa lega ternyata mas Ringgo pulang karena dompetnya ketinggalan, berarti dia belum mengetahui uang dalam ATMnya sudah raib.
__ADS_1
"Aku tidak melihatnya mas, bukankah selama ini mas selalu membawanya." aku menjawab pura-pura terkejut mendengarnya.
"di mana terakhir mas meletakkan mas? aku bertanya pada mas ringgo seraya pura-pura membantunya mencarikan.
Aku mencari dompet mas ringgo di dalam kamar sedangkan dia mencari di ruang tengah. Aku tersenyum melihat mas Ringgo mencari dompetnya, aku memperhatikannya dari balik pintu kamar.
"ini dia, ternyata terselip di bawah sofa" kata mas Ringgo terlihat senang karena telah menemukan dompetnya. Aku sengaja mencari di dalam kamar karena aku ingin dia sendirilah yang akan menemukan dompet itu. Aku tidak mau mas Ringgo curiga kepadaku nantinya, andai aku yang menemukan dompetnya.
"dek dompetnya sudah ketemu" terdengar suara mas Ringgo bersorak dari ruang tengah, aku bergegas menghampirinya.
"di mana mas menemukannya mas" Aku pura-pura bertanya menyembunyikan kebenaran, aslinya aku sudah mengetahuinya
"mas menemukan di bawah sofa dek, mungkin kemaren malam jatuh disana mas tidak menyadarinya." Mas Ringgo berkata seraya memperlihatkan dompetnya yang telah dia temukan.
"mas balik kekantor ya dek." Mas Ringgo pamit bergegas meninggalkanku.
"mas rasa tidak dek, kalau begitu mas pergi dulu ya." mas Ringgo berkata meninggalkanku.
'untung saja, aku tidak ketahuan.' aku bisa bernafas dengan lega sekarang, seraya mengelus dada. Aku merasa senang masalah dompet sekarang sudah aman, dompet itu sudah kembali kepada pemiliknya.
Aku kembali menuju ke kamar belakang, untuk mengambil uang yang aku simpan di sana. Aku akan menyimpannya di bank untuk sementara, disana lebih aman. Aku tak mau mas Ringgo mengetahuinya sekarang, bisa-bisa rencana berikutnya akan berantakan.
Aku berencana akan pergi ke Bank untuk menyimpan uang itu di sana lebih aman. Mas Ringgo tidak akan mengetahuinya, karena dia tahu persis selama ini aku tidak mempunyai tabungan. Dia pasti tidak menduga kalau aku menyimpannya disana.
Setiba di kamar belakang, aku langsung menyingkirkan kardus yang menghimpit kardus tempatku menyimpan rahasiaku. Aku harus bergegas mengambil dan mengamankan uang itu, sebelum mas Ringgo mengetahui uang dalam ATMnya telah raib.
"Akhirnya, aku mendapatkan juga uang mas Ringgo" Aku berkata sendiri seraya tersenyum senang, melihat uang dalam tas kresek yang sekarang dalam genggamanku.
__ADS_1
"sekarang aku harus segera ke Bank untuk mengamankannya" aku berkata dalam hati seraya melihat sebentar untuk memeriksa.
Aku kemudian kembali menutup kardus dengan rapi karena disana masih tersimpan rahasiaku yang tidak sedikit harganya. Aku akan mengeluarkan rahasiaku secara perlahan dan satu persatu. Aku akan menunggu momen yang tepat untuk mengeluarkannya supaya tidak mencurigakan
Setelah selesai, aku berlalu menuju kamar untuk mengganti baju dan merapikan diri. Mulai hari ini, aku harus berpenampilan yang cantik dan menarik, tidak mau seperti dulu lagi. Aku tidak peduli harus mengeluarkan biaya lebih untuk mengubah penampilanku.
"aku lebih cantik dan jauh lebih muda dari wanita kurang ajar itu mas, aku akan membuat kamu menyesal telah mempermainkan cinta dan ketulusanku." Aku berkata sendiri di depan cermin mematut diri, seraya menghembuskan nafas penuh kebencian.
Sebelum keluar rumah, aku menelpon mas roland untuk mengantarkan ke Bank. Aku meminta mas Roland untuk mengantar karena aku merasa percaya kepadanya. Aku mau menyewanya untuk mengantarku pulang pergi, supaya urusanku cepat selesai.
"mbak Rianti? mas Roland bertanya setelah berada di dekatku. Dia menatap tanpa berkedip ke arahku.
"iya mas, aku Rianti masa mas roland lupa" aku berkata kepada mas roland, aku merasa salah tingkah dipandangi begitu olehnya.
"Mbak Rianti ternyata lebih cantik kalau siang hari, saya jadi pangling dik" jawab mas Roland memuji penampilanku, makin membuatku salah tingkah.
"mas jangan memuji, nanti mas jatuh cinta" Aku berseloroh seraya tertawa kecil berusaha menutupi perasaan senang karena dipuji olehnya.
"mas ayo berangkat keburu siang" aku berkata seraya naik motornya.
"kita mau kemana dik? mas Roland bertanya.
"mas tolong antar Rianti ke Bank" aku berkata mengatakan tujuanku. Aku ingin segera sampai disana.
"baiklah, dik rianti pegangan yang kuat nanti jatuh" mas Roland berkata mengingatkanku.
Tidak berapa lama, kami sampai di bank yang kami tuju. Aku melihat pemandangan yang membuatku sungguh terkejut ternyata mas Ringgo di sana.
__ADS_1