
'oh ya, dimana obat tidur yang aku beli tadi ya?" aku bertanya sendiri di dalam hati, karena tak melihatnya. Aku mencari di tumpukkan pakaian yang aku beli.
'oh ini dia, aku harus menyembunyikannya mas Ringgo tak boleh mengetahuinya. Aku segera menyembunyikan obat tidur yang aku beli di tempat yang aman. Mas Ringgo tidak boleh mengetahui obat tidur tadi, takutnya dia akan banyak bertanya. Aku tidak ingin semua berantakan sebelum dimulai.
Aku menoleh ke jam dinding, ternyata sekarang sudah jam tujuh malam. Aku berharap mas Ringgo segera pulang, tak sabar melihat reaksinya melihat penampilanku sekarang.
Tak berapa lama, aku mendengar suara mobil mas Rangga memasuki pekarangan. Aku bergegas merapikan barang belanjaan, sehingga tempat tidurku terlihat sudah rapi sekarang.
Setelah selesai, aku segera keluar kamar membuka pintu untuk mas ringgo. Belum juga sampai, aku mendengar ketukan pintu dan ucapan salam mas Ringgo dari luar.
tok! tok! tok!
"assalamualaikum, dek buka pintunya mas sudah pulang" aku mendengar mas Ringgo berteriak minta dibukakan pintu.
"wassalamu'alaikum, sebentar mas" jawabku bergegas membukakan pintu.
"mas sudah pulang ya, aku senang mas bisa pulang cepat." kataku sambil mencium tangan mas Ringgo dengan takzim.
"dek, apa ini kamu?" tanya mas Ringgo tercengang menatap ke arahku.
"iyalah mas, kenapa tercengang begitu? masa kamu lupa sama istrimu sendiri? apa ada yang aneh dengan penampilanku?" tanyaku kepada mas ringgo, tersenyum dalam hati puas rasanya melihat tatapannya padaku saat ini.
"bukan aneh dek, tapi penampilan kamu beda kamu cantik dari biasanya" jawab mas Ringgo dengan tatapan penuh kekaguman.
"mas kamu ada-ada aja mas, aku cantik seperti biasanya kok hanya saja kamu tidak pernah perhatian kepada selama ini" jawabku sambil tersenyum manja menerima pujiannya.
__ADS_1
"maaf ya dek, mas akhir-akhir ini sangat sibuk bukannya tidak perhatian kepadamu" katanya lagi.
'sibuk selingkuh kamu kali mas' kataku dalam hati berkata dalam hati sejurus kemudian melontarkan senyum paling manis penuh kegetiran kepada mas Ringgo. Mas Ringgo hanya akan melihat manisnya saja, sedangkan pahitnya aku telan sendiri didalam hati.
"ayo mas masuk" aku mengajak mas ringgo masuk sambil bergelayut manja di lengannya. Aku menikmati dan meresapi setiap detil sandiwara yang sedang aku mainkan di depan mas Ringgo. Aku akan harus berpura-pura sampai semua kebenaran yang pasti terungkap.
Mas Ringgo begitu pandai menutupi kebohongannya kepadaku, tapi aku harus lihai memainkan sandiwara ini supaya dapat mengetahui kebenaran yang sekarang sedang dia tutupi. Setelah mengetahui semua kebenarannya, aku akan membuat perhitungan pada mas Ringgo dan selingkuhannya. Aku tak akan membiarkan mas Ringgo terus dibodohi dan dibohongi.
"mas mau mandi dulu dek, gerah dan lengket rasanya." jawabnya sambil melepaskan tanganku dari lengannya.
"oh ya mas, kalau begitu aku siapkan baju ganti untukmu dulu." kataku sambil bergegas ke kamar menyiapkan baju ganti buat mas Ringgo.
Kemudiaan, mas Ringgo segera masuk ke kamar mandi. aku meletakkan baju yang akan dipakai mas Ringgo diatas kasur. Aku selalu melakukan kewajiban dengan baik walau sekarang tidak seikhlas dulu. Dulu, aku melakukannya dengan sepenuh hati, tapi sekarang melakukannya dengan penuh luka dan sakit di hati.
Aku harus tetap melakukan semua ini, walau ada rasa sakit di hatiku. aku sengaja tidak memperlihatkan perbedaan sikap agar sandiwara yang aku jalankan tidak menjadi perhatiannya. Aku harus menekan egoku, supaya dia tidak mengetahui kalau aku mulai mencurigainya
"ayo mas, kita makan malam aku sudah memasak makan malam" aku mengajaknya seraya keluar kamar menuju meja makan.
"iya, ayok lah dek" katanya dengan penuh semangat
Aku menata makanan yang telah aku siapkan tadi, mas Ringgo pun duduk. Aku segera mengambil piring dan memasukkan makanan serta lauknya ke dalam piring. Aku melayani mas Ringgo sebaik mungkin, akan aku buat kesan paling manis pada mas Ringgo. begitulah kalau manusia telah terluka dia akan sanggup melakukan apapun untuk membalas segala kepahitan yang telah di berikan kepadanya, termasuk aku.
Mas Ringgo makan dengan lahap, itu terlihat makanannya habis tiada sisa. Aku tersenyum melihat semua itu, ternyata tidak sulit menjalankan setiap proses rencana yang telah aku buat.
"dek, masakan kamu enak sekali" katanya memuji sambil menatap ke arahku.
__ADS_1
"tentu saja mas, aku juga menghabiskan banyak uang belanja untuk memasak masakan yang barusan kamu makan" kataku sambil tersenyum.
"maksudmu bagaimana dek? tanyanya lagi.
"iya mas, biasanya aku selalu berhemat kalau belanja. Aku selalu berusaha irit dalam belanja, semua itu aku lakukan karena uang belanjakan sangat jauh dari kata cukup mas. Tapi sekarang aku tak bisa berhemat lagi, kamu juga tahukan semua harga naik. Percuma berhemat kalau masakannya tidak enak tapi uang belanja tetap kurang. Jadi sekarang, aku putuskan untuk memasak masakan enak untukmu. Aku minta mulai bulan depan uang belanja kamu tambah ya mas." kataku panjang lebar menjelaskan
"baiklah dek, mulai bulan depan mas akan tambah uang belanja kamu dengan menghembuskan nafas panjang dan kasar.
"itu bukan uang belanjaku dapur mas, tapi uang belanja dapur. Aku minta tambah karena ingin kamu bisa makan enak di rumah" kataku mengingatkan sambil tersenyum sinis kepada mas Ringgo.
"iya dek." katanya balas tersenyum padaku.Aku melihat cara mas Ringgo bicara walau dengan senyum terlihat raut tak ikhlas terpancar dari matanya. Benar kata orang, mulut mungkin pintar berbohong tapi mata akan menunjukkan semua kejujuran.
Aku bisa merasakan kalau mas ringgo tidak ikhlas tapi tidak apa-apa, aku juga tak mau ambil pusing.
'mas, kalau mau makan enak butuh modal mas.
jangan pernah berharap bisa makan hemat kalau kamu memberi uang belanja pelit' kataku di dalam hati.
"dek malam ini kamu cantik sekali,beda dari biasanya" kata mas Ringgo memuji sambil melontar senyuman manisnya kepadaku, walau aku sedikit jengah mendengar pujiannya.
"maksud kamu sebelumnya aku tidak cantik mas? teganya kamu mas." kataku sambil merajuk manja sengaja.
"bukan begitu dek tapi malam ini kamu lebih cantik dari biasanya" katanya terus memujiku.
"iyalah mas, aku tak mau lagi seperti dulu. Aku mau tampil cantik mulai hari ini mas. Aku tidak ingin lagi tetangga memandang sebelah mata kepadaku mas. tapi mas, semua itu butuh modal. Apa boleh aku minta uang perawatan kepadamu mas?" tanyaku pada mas Ringgo, akhirnya setelah sekian lama tiba juga waktunya aku berkata begitu. Aku harus merubah cara berpikirku mulai sekarang tidak boleh seperti dulu lagi.
__ADS_1
Aku ingin tampil cantik, tak peduli apa yang dipikirkan mas Ringgo. Dia harus memberikan aku uang lebih untuk perawatan karena semua itu butuh modal.