SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 120: Mas Ringgo Pingsan


__ADS_3

"ayo kita kembali ke kantor Rianti, sudah saatnya kita makan siang." mama menyudahi penjelasan panjang beliau, aku melihat jam yang terpasang di pergelangan tanganku ternyata sudah jam satu siang.


"baiklah ma, kita kembali sekarang." Aku dan mama memutuskan untuk kembali ke kantor, karena sudah saatnya kami untuk makan siang.


Aku merasa penjelasan yang mama berikan sudah cukup memberikan gambaran bagiku, beliau menjelaskan dengan sangat detil.


Tidak butuh waktu lama, kami telah sampai di kantor. Aku dan mama segera menuju ruangan mas Roland, ingin tahu apakah dia sudah kembali dari meeting.


Setiba disana, kami tidak menemukan keberadaan mas Roland. Aku bertanya pada sekretarisnya, ternyata dia belum selesai meeting dan masih lama kembalinya.


"bagaimana ma? Apakah kita aka menunggu mas Roland untuk makan siang?"


"tidak usah menunggu, kita makan siang berdua saja. Kita tidak mungkin menunggunya karena sekarang sudah jam satu."


"kita makan siang di mana ma? Apa kita pesan makanan secara online saja?"


"kita makan di luar saja yuk, mama mau makan di rumah makan padang." mataku langsung berbinar ketika mama mengajakku makan di rumah makan padang.


Aku sangat menyukai masakan padang, apalagi rendang adalah menu favoritku. Ternyata, mama dan aku mempunyai selera makan yang sama, kami penyuka masakan padang.


"ayo, kita berangkat sekarang yuk."


Aku segera memesan taksi online, tidak berapa lama taksi yang ku pesan datang. Aku dan mama langsung naik dan segera menuju rumah makan padang yang biasa aku kunjungi.


"ma, kita makannya di rumah makan padang langganan Rianti ya, di sana masakannya enak semua ma."


"mama terserah sama Rianti aja." mama berkata seraya tersenyum.


Tidak sampai tiga puluh menit, aku dan mama sampai di rumah makan padang yang kami tuju. Kami segera mencari tempat duduk dan memesan makanan.


Aku seketika merasa lapar sekali ketika melihat rendang terpampang di depan mataku. Aku langsung mengambil nasi beserta rendang begitu pelayan selesai menata semua menu di meja.


Aku menyuap nasi ke mulutku, betapa nikmatnya makanan itu ku rasakan. Aku benar-benar menikmatinya hingga beberapa kali nambah nasi dan lauk yang berbeda.


Arrrrgh!

__ADS_1


Aku segera menutup mulutku seraya melihat sekeliling, untung tidak begitu ramai. Aku kekenyangan setelah nambah sebanyak tiga kali, mama hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala melihat tingkahku.


Aku kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari sosok yang beberapa waktu lalu ku kenal. Sejak masuk ke dalam rumah makan, aku tidak menemukan keberadaannya.


'kemana dia ya?' Aku bertanya dalam hati, rasa penasaranku seketika muncul.


"kamu mencari siapa nak, kok kamu cilingukan begitu?" Mama bertanya, aku gugup tidak tahu harus jawab apa.


"Rianti mencari keberadaan seorang teman yang dulunya bekerja di sini ma." Aku menjawab sekenanya.


Setelah beristirahat sebentar, aku dan mama memutuskan kembali ke kantor. Aku segera memesan taksi, tidak berapa lama taksi yang kupesan datang. Aku dan mama segera naik dan mobil segera meluncur membelah jalannya yang begitu macet.


Aku kegerahan di dalam mobil, jalanan yang macet dan udara yang panas karena terik matahari membuat peluhku bercucuran. Aku kemudian membuka jendela taksi, sehingga udara masuk kedalam membuat rasa gerah yang kurasakan sedikit berkurang.


Setelah sekian lama terjebak kemacetan, aku dan mama sampai juga di kantor. Kami segera turun dari taksi, kemudian menuju ruangan kerja mas Roland.


Setiba di sana, aku dan mama masih tidak melihat keberadaan mas Roland. Aku kemudian berinisiatif bertanya pada sekretarisnya, tapi kata sekretaris tersebut mas Roland belum kembali ke kantor.


"mas Roland belum kembali ma, apa kita akan menunggu dia di sini?"


"baik ma."


Aku segera meninggalkan mama yang sudah membaringkan tubuh beliau di sofa yang ada diruangan kerja mas Roland. Beliau terlihat lelah sekali, tak beberapa beliau sudah terlelap.


Aku segera menuju ruangan kerjaku, ingin mengecek keadaan di sana. Dengan langkah pasti dan sedikit cepat, aku sudah sampai di ruanganku.


Aku segera masuk ke ruanganku, aku terperanjat kaget ketika sudah berada di dalam. Aku melihat mas Ringgo tergeletak di lantai, mukanya pucat sedangkan keringatnya memercik di keningnya.


'astagfirullah mas Ringgo ada apa dengannya?' aku bertanya sendiri di dalam hati, heran melihat keadaannya.


"mas Ringgo, kamu kenapa?" aku menggoyangkan tubuhnya, tapi dia tidak menjawab pertanyaanku. Dia ternyata sedang pingsan, aku tak tahu dia bisa pingsan seperti itu.


Aku segera memanggil bantuan, kemudian segera membawa mas Ringgo ke klinik terdekat. Walaupun memendam rasa sakit hati padanya, aku tetap membantunya karena tidak mungkin membiarkan dia pingsan di kantor.


Setiba di rumah sakit, mas Ringgo langsung di tangani. Aku mencoba menghubungi Ratu untuk mengabarkan keadaan suaminya, tapi tidak ada jawaban darinya.

__ADS_1


Aku terpaksa menunggui mas Ringgo di rumah sakit karena tidak satupun orang yang bisa dihubungi. Aku mencoba menanyakan pihak kantor tentang keberadaan Ratu, ternyata dia tidak masuk kerja hari ini.


"keluarga pasien atas nama Ringgo." terdengar suara perawat memanggil, aku segera mendekat kearah sumber suara.


"keluarganya belum datang, saya yang membawa beliau ke sini, saya teman kantornya. Ada apa suster?"


"dokter ingin membicarakan sesuatu mengenai keadaan pasien, apakah ibu bisa ke dalam sekarang?"


"baiklah suster." Aku kemudian mengikuti


Suster masuk keruangan di mana mas Ringgo di rawat.


Aku melihat kondisi mas Ringgo masih sama seperti tadi, di tangannya terpasang slank infus. Dia terlihat pucat sekali dan kedua matanya terpejam.


"ada apa dengan teman saya dokter?"


"begini buk, teman anda sebenarnya tidak begitu parah kondisinya. Beliau hanya kelelahan dan perut beliau kosong."


"maksud dokter apa?"


"sepertinya, pak Ringgo tidak makan apa-apa dari semalam, sehingga beliau pingsan."


Aku seketika memandang ke arah mas Ringgo, ada terselip rasa kasihan di hatiku kepadanya. Dia sekarang terlihat menyedihkan sekarang."


Entah apa yang terjadi, aku tidak bisa menduganya. Dokter mengatakan dia kelelahan dan kemungkinan tidak makan dari semalam.


"untuk beberapa hari ke depan, pak Ringgo harus di rawat inap bu. Ibu silahkan mengurus administrasi terlebih dahulu."


"baiklah dok, kalau begitu saya permisi dulu."


"silahkan bu."


Aku mebnatap sebentar ke arah mas Ringgo, kemudian segera ke luar ruangan. Aku kembali memcoba menghubungi Ratu, tetap saja tidak ada jawaban darinya.


Setelah neberapa kali mencoba menghubungi Ratu, aku memutuskan untuk mengurus administrasi rumah sakit. Aku tidak menemui kesulitan karena masih mengingat dengan baik semua hal tentang dirinya.

__ADS_1


Aku kembali ke ruang rawat mas Ringgo untuk memastikan keadaannya sebelum kembali ke kantor. Aku berpesan pada suster yang merawat untuk mengabari jika terjadi sesuatu.


__ADS_2