SURGA YANG TERENGGUT

SURGA YANG TERENGGUT
Part 40: Bukti Sudah Cukup, Aku Akan Membongkar Kebusukan Kalian


__ADS_3

"mas ayo antar aku pulang." aku berkata kepada mas Roland setelah naik ke motornya.


"baiklah dik, bagaimana kalau sebelum pulang kita makan dulu tadi saya tidak sempat sarapan keburu dik Rianti menelpon."kata mas Ringgo menjelaskan kepadaku. mendadak, aku merasakan perasaan bersalah menyelinap di hatiku.


Aku merasa bersalah karena menelpon mas Roland terlalu pagi sehingga membuat dia tidak sempat sarapan pagi. Karena keasyikan belanja dan banyak bertanya tentang pruduk yang dijual, Aku tidak sadar sekarang hari sudah menunjukkan jam sebelas siang itu artinya sudah hampir waktunya makan siang.


" maaf ya mas," Aku berkata , ingin meminta maaf kepadanya. Dia hanya tersenyum kepadaku, aku semakin merasa tidak enak kepadanya.


"tidak apa-apa, bukan sepenuhnya salah dik rianti." mas Roland berkata, rasa bersalah di hatiku sedikit berkurang mendengar kata-kata mas Roland. Aku mulai merasa kagum kepada mas Roland, selain tampan ternyata juga baik pribadinya.


"bagaimana dik, apakah dik Rianti mau menemani saya makan?" mas roland bertanya kembali, ingin memastikan jawabanku.


"baiklah mas, saya juga lapar." aku memenuhi permintaan mas Roland untuk menemaninya makan, sebelum mengantarkan aku pulang.


Mas Roland berputar mencari tempat makan, aku merasa senang diajak berkeliling oleh mas Roland walau tujuannya hanya sekedar mencari makan. Sedang asik menikmati suasana sepanjang perjalanan, mas Roland tiba-tiba menghentikan motornya secara mendadak.


Aku merasa sangat terkejut, hingga tanpa sadar memeluk erat pinggang mas Roland. Aku merasa tubuhku gemetaran seketika.


" ada apa mas, kok berhenti tiba-tiba. Mas Roland sengaja ya." aku berkata dengan suara yang masih gemetar, seraya memukul punggung mas Roland.


" maaf dik, saya bukan sengaja, tadi ada anak kecil yang tiba-tiba menyerang. Mas tadi sangat kaget tanpa sadar berhenti mendadak." kata mas Roland menjelaskan.


"ini sudah dua kali lho mas." Aku berkata mengingat ini adalah kali keduanya.

__ADS_1


"tiga kali juga mau dek,mas rela dek di peluk tiga kali sama kamu." katanya seraya tertawa kecil, seketika aku melepaskan pelukanku dari pinggang mas Ringgo. Seketika aku merasa mukaku panas menahan malu.


"apa-apaan sih mas," Aku berkata araya memundurkan tubuhku semakin kebelakang, kesal juga jadinya.


"dek kita makan disana aja yuk. " mas Roland berkata seraya menunjuk ke arah rumah makan Padang, ternyata tempat yang ditunjuk mas Roland tempat aku makan malam bersama mas Ringgo beberapa hari yang lalu.


"baiklah mas, aku juga sudah lapar." Aku berkata menyetujui ajakannya. Aku heran kenapa perutku sudah terasa lapar, setelah aku melihat jam di ponsel pantas saja sekarang sudah jam dua belas.


Aku dan mas Roland masuk ke rumah makan Padang, aku memilih meja yang berada di pojok. Mas Roland kemudian segera memesan memesan makan, tidak lama kemudian pesanan kami pun datang.


"mbak silahkan makan, hidangan siap disajikan." pramusaji rumah makan mempersilahkan kami makan, setelah semua makanan siap dia sajikan.


"terimakasih Maas." Aku tersenyum ketika memandang ke arah pramusaji yang baru saja mempersilahkan kami makan, ternyata dia pramusaji yang melayaniku beberapa hari yang lalu. Aku teringat kejadian beberapa hari yang lalu ketika aku dan mas Ringgo makan malam di sini.


"mbak mati pulang di bungkus lagi ngak? katanya seraya tersenyum lebar meledekku.


"kalau gratis boleh, kalau bayar gak usah deh mas." aku berkata seraya manyun ke arah pramusaji itu, dia tersenyum seraya berlalu meninggalkan kami.


"dik pramusaji itu tetangga kamu? mas Roland bertanya seraya memandang, aku menjawabnya hanya dengan mengangkat bahu. Aku malu menceritakan kejadian itu kepdanya.


Aku segera menyantap hidangan yang ada di hadapanku, tentu saja tidak seperti waktu ketika makan bersama mas Ringgo. Aku makan hanya makan dengan megambil menu tertentu saja.


Sedang enak-enaknya makan, aku melihat sesosok pria yang sangat aku kenal masuk kedalam rumah makan bersama seorang wanita. Aku kaget melihat kedatangan mereka, segera aku merapatkan tubuhku ke dinding dengan maksud bersembunyi agar tidak terlihat oleh mereka.

__ADS_1


Aku merasa sangat kaget sekali melihat siapa yang masuk, ternyata mereka adalah mas Ringgo dan ratu wanita selingkuhannya. Aku sakit hati melihat mereka berdua berjalan seraya bergandengan mesra. Aku melihat mereka berdua tersenyum menikmati kemesraan diantara mereka.


Aku menunduk seraya menutupi muka dengan menggunakan tangan, syukurlah mas Ringgo tidak melihatku. Celakanya, mereka duduk di kursi depan meja dengan posisi mas Ringgo membelakangi sedangkan Ratu menghadap ke arah kami.


Aku terus menikmati makanan yang ada di hadapanku, aku makan tanpa mengeluarkan suara. Aku tidak bicara karena aku tak mau mas Ringgo mengenali suaraku, nanti dia mengetahui aku ada di sini.


"dik tambah lagi, kok sedikit sekali makannya." kata mas Roland menawarkan agar aku nambah lagi. Tapi aku hanya menggeleng seraya meletakkan jari di bibirku, mas Roland hanya tersenyum melihat tingkahku.


"mas, nanti gajian belikan aku baju ya." Ratu berkata dengan suara manja, memulai pembicaraan setelah mereka duduk. Aku melihat dia tersenyum seraya memegang mesra tangan mas Ringgo.


Sontak, hatiku sakit melihat Ratu si wanita penggoda suamiku itu. Aku merasa jijik mendengar kata-katanya, dia begitu memalukan.


"baik sayang, apapun yang kamu inginkan pasti mas turuti." mas Ringgo berkata tidak kalah menjijikkan terdengar di telingaku. Seketika hatiku meradang, aku tidak menyangka mas ringgo semudah itu mas menyanggupi permintaan Ratu.


Selama ini, mas Ringgo tidak pernah membelikan apapun untuk keperluan pribadiku. Jangankan membeli baju, mas Ringgo tidak pernah memberikanku uang lebih kepadaku walau hanya sekedar untuk membeli pakaian dalam. Dia selalu beralasan uangnya tidak cukup, aku selalu memahami kata-katanya.


Tapi sekarang, aku merasa sakit hati melihat perlakuan mas Ringgo yang sangat berbeda kepada Ratu sialan itu.Mas Ringgo menyanggupi permintaan Ratu dengan dengan senang hati, tanpa ada sedikitpun penolakan.


Aku segera mengeluarkan ponsel untuk merekam semua pembicaraan mereka tanpa sepengetahuan mas Roland. Aku menghidupkan kamera depan ponsel dan menghadapkan ke arah mereka.


"mas kapan kita menginap lagi di hotel, Aku rindu kemesraan yang pernah kita lakukan bersama? Si Ratu ular tak tahu diri itu bertanya kepada mas Ringgo, entah apa yang dia pikirkan.


"malam Minggu saja dek, mas juga rindu berhubungan intim bersamamu." mas Ringgo menjawab dengan pelan penuh kemesraan. Aku bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan karena aku duduk pas di belakang mereka.

__ADS_1


"dasar manusia-manusia laknat, ternyata kalian telah melakukan hubungan terlarang terlalu dalam. Sudah cukup, aku bersabar dan bertahan selama ini. Aku sudah mendapatkan bukti yang yang cukup, saatnya aku membongkar kebusukan kalian.


__ADS_2